Indonesia adalah negeri yang memiliki karakter unik. Dengan kepemilikan keberagaman suku, agama, ras, bahasa, hingga tradisi yang mewarnai setiap kehidupan berbangsa. Namun dibalik keragamannya, kita mungkin masih ingat sejarah kelam masa lalu, yakni Poso dan Ambon.
Ahmad Gumarmo dalam Realitas Kehidupan antar Iman di Indonesia (2012) menjelaskan, “Kala itu tidak hanya simbol-simbol agama yang digunakan dalam perseteruan, bahkan hewan dan tanaman pun dilibatkan. Kucing yang berani menyebrang ke daerah Kristen akan pulang tanpa nama. Begitu pula anjing yang banyak dipelihara oleh orang Kristen. Jika berani berkeliaran di wilayah muslim, maka anjing itu akan hilang tanpa jejak. Banyak pohon cemara yang ditebang di STAIN Ambon, karena dianggap sebagai pohon Kristen.”
Sederet Kasus Intoleransi di Indonesia
Untuk mengetahui data konflik yang disebabkan karena intoleransi dan diskriminasi di Indonesia, Setara Institute memaparkan hasil penelitiannya tentang kasus intoleransi sepanjang tahun 2017. Penelitian tersebut menerangkan bahwa intoleransi masih mendarah daging dan marak terjadi. Intoleransi yang terjadi di Indonesia umumnya disebabkan karena perbedaan agama dan keyakinan.
Banyak kasus intoleransi terjadi atas nama agama, seperti penolakan terhadap kaum Syiah oleh Forum Umat Islam di Jawa Tengah; Penolakan pembangunan masjid di Manado pada September 2016; Pengusiran terhadap penganut Gafatar dan Ahmadiyah di Bangka pada Januari 2017; serta perusakan relief salib di Yogyakarta dan relief Bunda Maria di Sleman pada Agustus 2017.
Seiring berjalannya waktu, kasus intoleransi beragama terus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari data Setara Institute bahwa sepanjang tahun 2017, terdapat 155 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di 29 provinsi. Pada awal Februari 2018 lalu, terdapat tiga pelanggaran yang cukup serius. Salah satu di antaranya yakni pembubaran kegiatan bhakti sosial Gereja Katolik St Lidwina, Trihanggo, Sleman.
Dari rentetan kejadian tersebut, maka sudah seharusnya kita sebagai warga negara agar lebih terbuka, arif, dan bijaksana dalam menerima semua perbedaan ini. Bukankah Indonesia lahir dan besar karena perbedaan itu sendiri?
Sebagai contoh, pada zaman penjajahan warga Surabaya yang terdiri dari beragam golongan, agama, dan etnis bersepakat untuk bersatu, saling rangkul untuk memukul mundur penjajah, lalu bersama-sama membangun Indonesia dengan berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.
Islam Memandang Toleransi
Dalam Islam, toleransi merupakan salah satu hal yang ditekankan dalam hubungannya dengan persaudaraan antar manusia (ukhuwah insaniah) untuk saling menghargai dan menghormati segala perbedaan. Seperti yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Di Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menerangkan tentang toleransi dalam keberagaman serta memberikan petunjuk kepada umatnya dalam menyikapi perbedaan.
Seperti firman Allah Swt yang terkandung dalam Q.S Al-Hujurat: 13 yang menerangkan bahwa kita tidak hanya diinginkan oleh-Nya untuk saling mengenal, tetapi juga saling memaklumi, bertukar kebudayaan serta memberikan hak yang sama bagi penganut agama lain untuk tidak saling mendiskriminasi.
Sebab Islam datang dengan prinsip kasih sayang (mahabbah), kebersamaan (Ijtimaiyah), persamaan (musawah), keadilan (adalah), persaudaraan (ukhuwah), serta menghargai perbedaan.
Spirit persatuan dan perdamaian untuk semua juga disampaikan oleh The Grand Mufti of Syiria Dr. A Badruddin Hassoun dalam acara EU-Parliament. Di depan para pemimpin Eropa itu, ia menjelaskan dengan sangat jelas perihal toleransi dan perdamaian.
“Bahwa di dunia ini, yang suci bukanlah masjid, kakbah, gereja, vatikan, sinagoge, vihara, atau tempat peribadatan lainnya. Namun, yang suci adalah manusia. Karena manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan masjid dan gereja dibangun oleh manusia. Jadi, seandainya masjid dan gereja itu roboh, maka manusia bisa membangunnya lagi. Akan tetapi, jika manusia dibunuh, maka tidak akan ada yang bisa mengembalikan nyawanya.”
Islam yang Menghargai Segala Perbedaan
Sesungguhnya, Islam hadir untuk menyelamatkan, membela, dan menghidupkan kedamaian untuk semua. Islam sangat membenci permusuhan, pertentangan, hingga segala bentuk perilaku negatif dan represif yang dapat mengancam stabilitas dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal ini tertuang dalam Q.S Al-Hujurat: 11 yang menjelaskan agar seluruh manusia–tanpa terkecuali–agar tidak menebar kebencian, permusuhan, pertentangan, dan saling benci terhadap sesama. Begitu pula dalam Q.S Al-Maidah: 8, kita diperintahkan untuk berbuat adil walau terhadap musuh sekalipun.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang mendzalimi seorang mu’ahad (non-Muslim yang berkomintmen untuk hidup damai dengan umat Muslim), maka aku akan menjadi seterunya pada hari kiamat.”
Dan masih banyak lagi kisah Nabi Saw dalam kaitannya menebar kasih sayang, kedamaian, dan toleransi terhadap sesama manusia yang tentu harus dicontoh dan diwujudkan dalam setiap tarikan nafas kita.
Gemar membaca dan menulis sambil dengerin lagu bergenre Pop-EDM. (IG: rvdafii_ls. E-mail: ruzdanfauzi025@gmail.com)
