Site icon Inspirasi Muslimah

Investasi Amal Shaleh dan Mental

Apa yang akan kita lakukan jika usia kita sudah mulai menua? Pertanyaan yang mungkin akan ditemui dari setiap manusia di muka bumi ini. Di masa tua atau juga disebut masa senja merupakan masa di mana kita mulai beristirahat dari hiruk pikuk dunia yang ramai. Dunia yang dulu serasa ingin digenggam, nyatanya harus mulai kita relakan. Sebab usia yang tidak lagi kuat jika terus menggenggam dunia terlalu lama.

Lantas hal apa yang harus kita legasikan kepada generasi selanjutnya jika suatu saat menuju masa senja? Ada hal penting yang bisa kita legasikan kepada mereka. Legasi itu adalah investasi kita.

Sejauh ini, kita mengenal investasi hanyalah soal uang, uang dan uang. Padahal ada yang jauh lebih penting lagi daripada investasi uang. investasi apaan tu, kok bikin penasaran saja? Hehe. Ya, inveatasi itu adalah investasi amal shaleh dan investasi mental.

Investasi Amal Shaleh

Investasi amal shaleh adalah investasi yang membuat seseorang itu melakukan kebaikan secara terus menerus. Layaknya investasi uang secara rutin, amalan-amalan kebaikan ini jika dilakukan secara rutin; nantinya dapat dipetik buahnya ketika seseorang itu membutuhkan di waktu-waktu tertentu seperti halnya investasi uang tadi. jadi, amalan-amalan kebaikan ini adalah tabungan kita di masa depan. Masa depan tidak hanya dimulai dengan berinvestasi uang saja; tetapi amalan-amalan kebaikan juga menjadi instrumen yang tidak kalah pentingnya daripada investasi uang.

Sesungguhnya hidup bukan hanya soal pemenuhan materi semata melainkan ada unsur lain yang harus terpenuhi juga muatannya supaya tidak terjadi ketimpangan dalam menjalani hidup. karena hidup yang baik adalah hidup yang menuju keseimbangan antara unsur jasmani dan rohani. Terkait hal ini, ada pepatah mengatakan money is everything, but everything isn’t money, uang adalah segalanya tapi segalanya tidak hanya tentang uang.

Rezeki yang Diterima

Terkait hal ini yang perlu menjadi perhatian adalah mengenai rezeki. Sering sekali kita temui bahwa uang adalah rezeki padahal rezeki tidak hanya soal uang. Saat ini kita bernafas, makan, minum, tidur dan melakukan aktivitas-aktivitas lainnya dengan lancar juga termasuk rezeki. Jadi, rezeki memiliki pengertian yang luas, tidak bisa dipersempit hanya dengan uang.

Salah satu amalan sholeh yang paling dekat dengan kita semua dan dapat dilakukan oleh siapa saja adalah berhemat dan tidak boros. Di masa pandemi ini, pemborosan adalah hal yang paling tidak disukai. Mengapa? Banyak sekali mereka-mereka yang menunggu uluran tangan kita, mereka kesulitan dalam menjalani hidup akibat pandemi yang tak tentu kapan berakhirnya ini. Mata pencaharian mulai sulit didapat karena terjadi PHK di mana-mana, lantas dengan bangganya melakukan pemborosan.

Oleh karena itu, berhemat di masa-masa sekarang ini menjadi penting sekali disamping kita tetap mengulurkan tangan kita bagi mereka yang membutuhkan. Dari sini, banyak sekali manfaat yang akan kita dapat dari berhemat. Dan jika hemat itu terlaksana dengan baik hal itu sudah menjadi permulaan amal sholeh.

Keimanan

Amal shaleh yang dilakukan akan membentuk kesejahteraan bagi seluruh elemen yang ada di bumi. Sekaligus menjadi investasi di masa mendatang baik di dunia maupun akhirat. Karena janji allah itu pasti, jika engkau melakukan kebaikan walau sebesar biji, maka allah akan membalasnya begitu pula sebaliknya (Q.S Al-Zalzalah 7-8).

Basis dari amal sholeh ini adalah keimanan. Iman menjadi puncak dari segala perbuatan yang dilakukan umat manusia yang akan menentukan hasilnya kelak, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, investasi amal sholeh akan terus mengalir pahalanya meski orangnya telah tiada.

Investasi Mental

Setelah kita mengetahui investasi amal shaleh, kita akan bertanya-tanya bukankah dunia ini penuh dengan godaan yang dapat membuat orang yang melakukan kebaikan itu menjadi putus asa dan akhirnya menyerah. Nah maka dari itu, sebagai pelengkap investasi amal shaleh, adalah investasi mental. Ibarat ketika masak jika tidak ada bumbunnya akan terasa hambar. dua hal ini akan mengokohkan kita dalam memberikan legasi kepada generasi selanjutnya.

Amalan-amalan shaleh yang dilakukan akan terasa hambar jika tidak dibarengi dengan mental yang kuat. karena dalam proses melakukan amalan-amalan baik itu dibutuhkan mental yang kuat, bukan mental tempe. Berhasil atau tidak dalam melaksanakan amalan-amalan tersebut, bukan menjadi patokan yang diharapkan. karena berhasil ataupun tidak adalah hal yang lumrah di alami oleh manusia, sedangkan yang tidak lumrah dan harus dipertahankan adalah berjuang secara istiqomah dalam melakukan amalan-amalan kebaikan tadi.

Sampai sini dapat dilihat bahwa ketika kita tidak memiliki mental yang kuat, tentunya amalan-amalan yang kita lakukan tadi tidak akan bertahan lama. karena sejatinya hidup adalah soal perjuangan. Iman yang katanya bisa naik dan turun, perlu adanya perjuangan secara istiqomah.

Sebagaimana kata Buya Hamka mengenai keimanan, iman itu bukan ketika orang sudah berkata beriman tapi tidak melakukan lagi proses yang menunjukkan keimanan itu. Tetapi keimanan itu senantiasa dilakukan meskipun dia telah berkata beriman. Maksudnya adalah ketika iman telah selesai pada kata iman itu sendiri, itu bukanlah iman, karena iman adalah suatu proses yang dilakukan secara istiqomah hingga mencapai puncaknya kelak di akhirat.

Jatuh Bangun Dakwah Islam

Di zaman para nabi, rasul dan auliya’ullah, tidak ada kata mudah dalam menyebarkan Islam. Mereka bersusah payah untuk mendakwahkan islam walaupun nyawa taruhannya; memahami bahwa Islam adalah agama yang patut diperjuangkan; menyebarkan dakwah secara sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan; dan juga tetap konsisten dalam mendakwahkan ajaran Islam.

Proses dakwah yang dilakukan tentunya membutuhkan kesabaran ekstra; karena pada saat itu masih kuat sekali kepercayaan terhadap berhala. Maka dibutuhkan mental yang kuat untuk dapat menyebarkan ajaran Islam secara luas hingga sampai ke telinga kita saat ini.

Mental ini sangat berpengaruh bagi keberlangsungan hidup seseorang ke depannya. Karena dengan menumbuhkan mental yang kuat ini, tantangan-tantangan dari dalam diri ataupun luar diri tidak akan lagi membebani. Mental itu sendiri di kalangan orang barat terbentuk 70% dari luar diri sedangkan 30% dari diri sendiri. Artinya mentalnya banyak dipengaruhi dari luar dirinya.

Pondasi Iman dan Taqwa

Namun berbeda dengan islam, islam memandang mental itu terbentuk dari dalam diri melalui pondasi iman dan takwa kepada Allah Swt. Artinya mental orang islam itu cukup banyak dipengaruhi dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt . Yang mana pondasi iman dan taqwa ini tidak dimiliki oleh orang barat.

Andaikata mengikuti model mental seperti orang barat, yang akan terjadi adalah kita akan dikemudikan sesuatu yang dari luar diri kita. Jika demikian apa yang akan terjadi ketika sudah memiliki keluarga. Apakah mental orang itu dikemudikan sesuatu dari luar; maka tak lama bahtera rumah tangga akan mengalami kerapuhan. Dalam hidup berumah tangga, rumah itu ibarat istana yang harus dibuat senyaman mungkin dalam segala kondisi dan situasi apapun.

Oleh karena itu, investasi mental menjadi sangat penting dimiliki oleh setiap manusia selagi masih memiliki kesempatan untuk menginvestikannya kepada generasi selanjutnya dan akan menjadi kado yang istimewa karena mental ini akan terbawa hingga dewasa kelak. investasi amal sholeh dan mental akan membawa karakter seseorang di masa depan menuju siraatal mustaqim. karakter yang dipenuhi rasa hikmah (kesadaran) sekaligus ketaqwaan. Wallahu ‘alam.

Bagikan
Exit mobile version