Site icon Inspirasi Muslimah

Ingin Hidup Berkah? Jangan Ngaleuleungit

ngaleuleungit

Urip-Widodo

Semua orang tentu menginginkan hidup yang penuh dengan keberkahan. Namun, tidak semua orang mampu meraihnya.

Berkah menurut KBBI adalah ‘karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia’. Kalau di masyarakat Sunda, arti berkah lebih sederhana pengertiannya. Berkah itu ‘saeutik mahi, loba nyesa’, artinya kalau sedikit cukup dan kalau banyak bersisa.

Jadi, harta yang berkah itu tidak tergantung banyak sedikit jumahnya. Harta yang berkah itu, sedikit atau banyak, tetap akan mendatangkan kebaikan kepada pemiliknya. Pemiliknya akan selalu merasa cukup.

Harta yang berkah itu nilainya melebihi nilai nominalnya. Uang sejuta yang berkah akan mendatangkan kebermanfaatan yang lebih daripada uang sejuta yang tidak berkah.

Keberkahan tidak hanya ada dalam harta. Ada di semua pemberian Allah Swt. Ada di setiap rezeki yang Dia berikan, apa pun bentuknya; umur, ilmu, keluarga, istri/suami, anak-anak, pekerjaan, kesehatan, dan semua pemberian Allah Swt lainnya. Semua hal itu kalau berkah akan mendatangkan kebaikan kepada pemiliknya.

Setiap kita tentunya menginginkan keberkahan dari rezeki yang Allah Swt berikan. Ingin Rezeki yang berkah, yang apabila sedikit cukup dan kalau banyak akan bersisa.

Caranya?

Mungkin ini satu tips sederhana tapi penting dan justru menjadi hal utama dalam meraih kerberkahan hdiup, yaitu ‘pengakuan’ atau mengakui. Kalau di judul saya tulis, dalam bahasa Sunda, ‘Jangan Ngaleuleungit’.

Ngaleuleungit asal katanya leungit atau hilang dalam bahasa Indonesia. Ngaleuleungit artinya menghilangkan, tetapi bukan menghilangkan sebuah benda dari ada menjadi ada. Dengan membuang misalnya. Bukan! Menghilangkan di sini artinya lebih kepada menganggap seolah-olah hilang, menganggap seolah-olah tidak ada, atau tidak mengakui keberadaannya.

Berikut inil beberapa contoh dinamika kehidupan yang berkaitan dengan hal tersebut.

Pertama, bila Anda ditanya, “Bagaimana pendapatan Anda dari pekerjaan sekarang?” Maka ucapkanlah, “Alhamdulillah, Allah telah memberikan saya pekerjaan ini. Cukup banyak kebutuhan yang bisa saya penuhi dengan gaji yang saya terima. Semoga Allah melimpahkan pula keberkahan atas rezeki yang diberikan-Nya ini”.

Adapun jawaban orang yang “ngaleuleungit” adalah, “Yaah … gaji satu juta mana cukup zaman sekarang? Beras saja naik terus, belum anak sekolah. Listrik naik lagi, belum istri mau melahirkan.”

Ini adalah bentuk ngaleuleungit rezeki Allah yang jumlahnya satu juta. Sungguh terlalu mudah bagi Allah Swt untuk melipatgandakan rezeki yang nilainya satu juta itu. Namun, itu kembali kepada kita, tergantung sikap kita terhadap rezeki yang satu juta tersebut. Apakah kita mensyukurinya atau malah mengkufurinya dengan ngaleuleungit.

***

Kedua, “Bagaimana jualan gorengan anda?” Jawaban orang yang ngaleuleungit akan seperti ini, “Payah, jualan hanya muterin hidup, ga ada untungnya. Habis untuk beli minyak goreng sama terigu saja!”

Padahal realitanya jualannya cukup menguntungkan. Sehari bisa untung 100 ribu.

Lebih baik ucapkan, “Alhamdulillah jualan bisa bertahan. Keuntungannya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun belum cukup untuk bisa membeli motor atau biaya menyekolahkan anak. Semoga Allah Swt memberikan saya kemudahan”. Bila perlu sebutkan keuntungan Anda, berapapun. Karena ini bagian dari mengakui nikmat Allah.

Ketiga, orang-orang yang ngaleuleungit akan selalu berkata, “Gaji PNS saya hanya empat juta sebulan. Bisa apa zaman sekarang dengan uang empat juta?”

Padahal, masih sangat banyak orang lain yang berpenghasilan dibawah empat juta, dan masih menikmati hidup.

***

Empat, Jangan katakan, “Bekerja di pak Fulan, dapat apa saya? Kerja tiap hari. Bonus ga pernah dapat, malah dimarahin terus menerus. Belum lagi segala kesalahan ditimpakan kepada saya.”

Itu namanya ngaleulengit.

Apakah kejadian ini benar? Padahal realitanya gaji yang didapat cukup besar, Bonus juga sering dapat. Serta apa betul setiap hari dalam tiap bulan dan sepanjang jam kerja dimarahi terus?

Hati-hati jangan munculkan di alam bawah sadar kita sikap “ngaleuleungit” terhadap pemberian Allah Swt, apalagi kemudian diucapkan secara verbal. Karena, kita akan termasuk kepada orang-orang yang kufur nikmat. Orang yang tidak mengakui akan nikmat Allah Swt, tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Padahal Allah Swt sudah berjanji,

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS Ibrahim ayat ke-7)

Daripada bersikap ngaleuleungit rezeki, lebih baik bersyukur dengan mengucapkan hamdalah, dan memanfaatkan rezeki tersebut untuk hal-hal yang diridoi Allah Swt. Janji Allah Swt, kalau kita mensyukuri nikmat, maka Dia akan menambah nikmat tersebut. Sebaliknya jika kita mengingkarinya, maka Allah Swt akan mendatangkan azab yang pedih.

Sangat berat azab Allah Swt kepada orang yang kufur nikmat.

“… tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”. (QS. Ibrahim: 7)

Dan, sikap ngaleuleungit adalah sikap pengingkaran terhadap nikmat (rezeki) yang telah diberikan-Nya.

Sikap ngaleuleungit bukan hanya membuat hidup kita tidak berkah, tetapi bahkan mendatangkan azab.

Wallahu’alam.

Bagikan
Exit mobile version