Idul Fitri (1 Syawal) 1442 Hijriah jatuh bertepatan pada Kamis, 13 Mei 2021. Gegap gempita umat islam di seluruh dunia merayakan hari kemenangan. Berbicara momentum idul fitri, banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Idul fitri sebagai rihlah (perjalanan), momentum merajut ukhuwah islamiah, dan bahkan momentun literasi.
Rihlah Keagamaan
Istilah rihlah berasal dari Bahasa Arab yang berarti suatu perjalanan. Dan biasanya berkaitan dengan sebuah perjalanan spiritual di mana seseorang men-tadabburi setiap jengkalnya sebagai hikmah dan pelajaran.
Dalam buku Ar-Rihlatu fi Islami, Abdul Hakam Ash-Sha’idi mengklasifikasikan rihlah (perjalanan) dalam lima macam berdasarkan tujuannya, yakni: (1) perjalanan untuk mencari keselamatan seperti hijrah, (2) bepergian untuk tujuan keagamaan, (3) bepergian untuk kemaslahatan duniawi (mencari nafkah dan kebutuhan hidup), (4) bepergian karena urusan kemasyarakatan, dan (5) bepergian atau perjalanan untuk kepentingan turisme atau kesenangan.
Namun, dari kesemuanya itu selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik, yang secara simultan juga bisa menjadi booster keimanan kita kepada Allah Swt.
Sebagaimana prinsip dalam berislam kita, bahwa hendaklah seorang muslim selalu mengajak, menyeru, berbuat dan berlomba dalam kebajikan. Maka setiap gerak dan perjalanan kita sudah semestinya membawa arti kebaikan, di dunia maupun sebagai bekal akhirat.
Dalam hal ini, momentum idul fitri menjadi sebuah titik tolak di mana kita sebagai seorang muslim kembali merefleksikan diri terhadap rihlah (perjalanan) kehidupan dan keagamaan kita selama ini. Terlebih lagi, selepas satu bulan penuh digembleng dan menjalani Bulan Ramadan dengan segala ritusnya.
Sudah sejauh mana rihlah (perjalanan) kita selama ini? Apakah kita selalu bisa memetik hikmah dan pelajaran dari setiap perjalanan kita? Apa saja yang sudah kita lakukan dan persiapkan di perjalanan hari ini ke belakang untuk menyongsong perjalanan-perjalanan esok hari?
Momentum idul fitri
Seluruh umat Islam di penjuru bumi merayakan momentum iduk fitri dengan gegap gempita. Lebih dari itu, idul fitri harus membuat kita untuk benar-benar bertransformasi menjadi sosok yang lebih baik lagi. Baik dalam dimensi religius maupun dimensi sosial.
Idul fitri, kerap diilustrasikan dengan kita (muslim) yang kembali menjadi sosok yang fitri dan suci. Bagaikan selembar kertas putih yang belum sama sekali tergores coretan-coretan pulpen atau pensil.
Maka, idul fitri harusnya kita benar-benar berbenah. Kerapkali apa yang kita lakukan selepas Ramadan dan idul Fitri agaknya sama saja dengan hari-hari lalu. Lalu di mana letak transformasi atau perubahannya? Apa bedanya kalau hanya menulis pada selembar kerta putih, lalu dihapus hingga bersih, dan begitu terus berulang?
Sudah seharusnya momentum idul fitri benar-benar menjadi rihlah (perjalanan) yang membuat pribadi menjadi lebih baik dalam segala aspeknya. Lebih banyak kebaikan yang kita upayakan dan perbuat. Lebih penuh pertimbangan dalam menggoreskan tinta pada selembar kertas. Melakukan peningkatan demi peningkatan terhadap aspek vertikal maupun horizontal kita.
Mempererat Ukhuwah Islamiah
Ukhuwah islamiah secara gamblang kita artikan sebagai suatu ikatan persaudaraan seiman, seislam. Dimensi ini pula yang seharusnya hadir dalam momentum idul fitri. Di mana setiap orang saling bermaaf-maafan dan saling mendoakan kebaikan.
Momentum idul fitri menjadi saat yang sangat tepat untuk semakin memupuk dan menumbuh-suburkan ikatan persaudaraan itu.
Dalam situasi normal, kita (di Indonesia) sangat lazim dengan tradisi mudik di mana seseorang pulang atau kembali ke kampung halamannya dan rela menempuh jarak puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara; kerabat; tetangga-tetangganya.
Namun, kali ini kita berada pada situasi pandemi yang mengakibatkan keterbatasan dalam beberapa hal, termasuk untuk melakukan perjalanan mudik dan silaturahmi secara langsung. Tapi, dengan kemajuan teknologi saat ini, hal tersebut harusnya bukanlah sebuah permasalahan yang pelik.
Kita bisa memanfaatkan berbagai piranti teknologi dan aplikasinya untuk tetap menjaga ikatan persaudaraan atau ukhuwah itu. Saling berkirim pesan; telepon; ber-video call dalam rangka saling bermaaf-maafan; saling mendoakan kebaikan; saling berkisah tentang pengalaman dan hikmah. Hal ini menjadi suatu alternatif dalam menjaga ukhuwah islamiah tetap erat dan semakin solid.
Hari Raya Literasi
Literasi kerap diartikan sekedar sebagai minat ataupun sekedar pada kemampuan baca-tulis. Padahal dalam konteks hari ini, di mana kemajuan teknologi begitu pesat dan kecepatan arus informasi yang demikian deras, agaknya artian literasi secara leksikal sebagai minat dan kemampuan baca-tulis semata menjadi kurang relevan.
Menurut penulis, literasi lebih bisa dimaknai secara luas sebagai kemampuan dan kecakapan manusia dalam menyerap dan menyikapi informasi, termasuk keterampilan manusia dalam aspek tertentu.
Nah, momentum idul fitri harusnya juga bisa menjadi “hari raya literasi”, bukan hanya sebagai hari raya keagamaan. Merayakan idul fitri berarti menghidupkan aktivitas-aktivitas literasi dan tradisi-tradisi intelektual.
Dengan tradisi silaturahmi misalnya, idul fitri bisa menjadi momentum yang pas untuk menggeliatkan semangat berliterasi kita. Meskipun dalam situasi pandemi, kita bisa menggerakkan semangat literasi dalam kanal-kanal dunia maya.
Silaturahmi online yang mungkin kita lakukan di ruang-ruang virtual hari ini (sebab situasi pandemi) bisa menjadi ruang diskusi sekaligus ruang dakwah.
Kita bisa saling bertukar informasi, saling memberikan pandangan terkait sesuatu hal, saling berdiskusi, dan sebagainya. Menghidupkan ruang-ruang silaturahmi menjadi bilik intelektual.
Dengan gegap gempita perayaan idul fitri yang dirayakan seluruh umat Islam akan semakin bermakna, dan menjadikan umat islam lebih kaya informasi dan perspektif dan menyikapinya. Membawa umat Islam menjadi sosok yang semakin literat, dengan harapan terwujudkan transformasi sosial dan kehidupan keummatan. Semoga momentum idul fitri kali ini, meskipun dalam keterbatasan situasi akibat pandemi tetap kita bisa benar-benar manfaatkan sebagai titik balik perubahan diri menjadi sosok yang lebih baik dan lebih baik lagi. Momentum idul fitri, bukan hanya meningkatkan keimanan kita terhadap Allah Swt, tapi juga meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab sosial kita sebagai manusia (terlebih sebagai seorang muslim).
