Zico Albaiquni adalah salah satu pelukis Indonesia yang dikenal melalui praktik melukisnya yang kaya warna, berlapis, dan kerap mempertemukan sejarah seni, arsip, budaya populer, serta persoalan sosial kontemporer.
Dalam praktiknya, Zico banyak mempertanyakan bagaimana sejarah dan budaya Indonesia direpresentasikan melalui seni lukis. Warna-warna mencolok dan beragam referensi visual menjadi bagian penting dari caranya mengolah persoalan representasi, sekaligus membangun hubungan antara realitas sosial dengan narasi yang lebih luas.
Namun, di balik pembacaan mengenai sejarah seni, kolonialisme, dan representasi tersebut, terdapat sisi lain dari praktik Zico yang terasa jauh lebih intim: hubungan antara ibu, doa, rumah sakit, dan ingatan keluarga.
Sisi ini dapat ditelisik melalui salah satu jurnalnya yang berjudul There Is a Debt That Cannot Be Repaid: Mother, Prayer, Copying, and Inheritance. Tulisan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami karya A Tale as Eternal as a Mother’s Prayer Throughout the Ages, sebuah lukisan yang berangkat dari pengalaman personal Zico dalam mengenang sang ibu.
Bagi Zico, hutang adalah perkara yang melampaui urusan-urusan yang dapat dihitung, sebab ada hutang-hutang yang tidak dapat dilunasi. Hutang ini melampaui tagihan rumah sakit, obat, tiket pesawat atau biaya hidup lainnya.
Hutang yang dimaksud Zico adalah apa yang diterima seorang anak dari ibunya: pernah digendong dan diberi makan bahkan sebelum mengenal definisi lapar, hingga hutang atas kemarahan, pembelaan, doa, serta dukungan yang tak pernah putus. Dan hutang atas seorang ibu yang bangun pagi-pagi sekali untuk memastikan seluruh anggota keluarga dapat memulai hari dengan baik. Juga hutang atas beban ganda yang dipanggul seorang ibu demi menjaga keluarga tetap utuh bukan melalui hal-hal yang gemerlap, melainkan melalui rutinitas yang terus diulang setiap hari.
Dalam jurnalnya, Zico mendefinisikan ibunya sebagai tulang punggung yang menjaga api kehidupan tetap menyala. Barangkali banyak anak terlahir dalam hutang yang demikian, namun banyak pula anak yang kemudian menyadarinya ketika waktu sudah terlambat.
Bagi seorang anak, ikhtiar ibu kerap dirasa sebagai udara yang dihirup setiap hari tanpa perlu merasa berterimakasih atas kehadirannya. Ia menyatu dengan kehidupan sehingga dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya ada. Hingga seorang anak merasa ia tumbuh menjadi diri sendiri, padahal ia berdiri di atas bertahun-tahun ikhtiar ibu yang tidak selalu disadari.
Dalam hal ini Zico berusaha mengabadikan kenangan dan rasa terimakasih kepada ibunya dalam lukisan yang ia beri judul A Tale as Eternal as a Mother’s Prayer Throughout the Ages. Zico melukiskan ibunya sebagai seorang perempuan yang tersenyum di atas ranjang rumah sakit dengan seuntai tasbih di tangannya.
Zico tidak ingin melukis ibunya sebagai simbol penderitaan atau sebuah citra tragedi. Dalam lukisan tersebut, ia merekam ibunya yang berkata “Ini piknikku hari ini” saat ibunya akan menjalani kemoterapi. Senyum tersebut tidak secara langsung memperlihatkan ketakutan dan penderitaan. Namun barangkali terdapat rasa takut sekaligus usaha agar anak-anaknya tidak terlalu dini terseret dalam keruntuhan.
Zico juga melukiskan beberapa benda di belakang ranjang rumah sakit, seperti piala, meja, foto keluarga. Ia ingin memotret bahwa sebelum menjadi ibu yang sakit, ibunya adalah seorang anak, murid, kakak, pembaca dan seorang manusia yang utuh dengan segala sejarah hidup dan perjuangannya.
Potret ranjang rumah sakit tidak tinggal di dalam ruangan bersih. Ia terbuka ke taman yang terasa melindungi sekaligus berlebihan, suci sekaligus tidak stabil. Lanskapnya menolak ketenangan. Warnanya keras, jenuh, berlebihan. Warna yang mungkin dianggap warna kampungan, warna yang diasosiasikan dengan interior rumah, spanduk, dekorasi keagamaan, budaya visual populer. Zico berupaya menampilkan warna-warna tersebut sebagai warna untuk bertahan, bukan warna untuk kehalusan.
Zico juga melukiskan anjing yang tertidur di bawah ranjang. Potret ini mengisyaratkan ingatan tentang Surah Al Kahfi yang selalu dibaca oleh ibunya dan menjadi salah satu kekuatan sang ibu. Barangkali, sumber kekuatan iman memang berbeda pada setiap ibu, sebagaimana setiap ibu memiliki cara sendiri untuk bertahan.
Selepas segala hal terkait ibu, ketiadaan ibu tidak selalu muncul sebagai duka, tapi juga kebingungan-kebingungan atas rutinitas yang biasa dilakukan oleh dan dengan ibu. Sebab memang sedemikian banyak hal yang berkaitan dengan ibu.
Ketiadaan ibu juga datang sebagai kebingungan administrasi, kewajiban keluarga, juga ingatan yang jadi tidak stabil. Melalui ketiadaan itulah, hal-hal yang dahulu terasa biasa menjadi sesuatu yang asing dan terasa hampa. Hutang itu terasa semakin nyata.
Hutang tidak bisa dilunasi karena ia bukan transaksional. Jika seseorang berhutang uang, mungkin bisa dikembalikan sekalipun dengan terlambat, rasa malu atau mungkin dengan bunga. Tapi melunasi seseorang yang membentuk kapasitas hidup atau melunasi seseorang yang mengenalkan bahasa, disiplin, kegigihan, kepedulian, humor. Mungkin juga kecemasan, tekanan, harapan dan banyak hal lain yang bersifat kontradiktif yang menjadikan seseorang utuh sebagai manusia adalah hal yang hampir mustahil dilakukan.
Hutang yang demikian barangkali memang tidak pernah dimaksudkan untuk dilunasi. Ia hanya dapat dibawa sepanjang hidup, sebagai bagian dari diri dan sebagai sesuatu yang terus diwarisi.
