Masyarakat modern seperti sekarang ini, ada dua hal penting yang tumbuh antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Perbedaan tersebut hanyalah pada letak geografis lokasi saja. Masyarakat pedesaan, cenderung hidup di suatu dusun/desa kecil yang masih belum terpengaruh oleh kehidupan sosial orang di perkotaan. Berbeda dengan masyarakat perkotaan, tinggal di daerah yang ramai, cenderung individualis dan bergaya hedonisme.
Namun sejatinya, baik masyarakat pedesaan ataupun perkotaan sangat butuh kehidupan antara keduannya. Senantiasa saling mengisi satu sama lain sebagai unsur-unsur yang menopang dalam berkehidupan sosial. Kehidupan sosial sangat erat kaitannya dengan pola hidup sebagaimana untuk memenuhi kebutuhan hajat keduannya.
Meskipun banyak yang beranggapan kehidupan sosial masyarakat perkotaan jauh lebih maju daripada masyarakat pedesaan. Namun, masyarakat pedesaan lebih dengan mudah bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya termasuk masyarakat perkotaan. Sebaliknya, masyarakat perkotaan cenderung hidupnya indivualis dan jarang bermobilisasi dengan tetangga sekitar. Bahkan tetangga di samping rumahnya belum tentu banyak yang mereka kenal. Lalu, apa kaitannya dengan hedonisme dan pola hidup sehat Islami?
Islam Memandang Hedonisme
Hedonisme adalah sebuah pandangan hidup yang menganggap orang cenderung akan lebih bahagia dengan cara mencari kebahagiaan sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan situasi yang membuatnya mengalami rasa jenuh, bosan dan memiliki mood yang buruk.
Kondisi hedonisme sendiri banyak ditemukan bukan hanya pada anak-anak, pelajar atau mahasiswa saja. Namun, nampaknya sudah hampir menyeluruh dalam berbagai kalangan masyarakat. Awalnya hanya kebanyakan dari orang-orang yang mempunyai banyak uang bergaya hedonisme yang hanya selalu memperhatikan penampilan luar dan menikmati gaya hidup dengan sepuasnya, bergaul, makan, jalan-jalan, bersenang-senang, berfoya-foya. Akhirnya, menular kepada yang lain meskipun dalam kondisi hidup yang kekurangan.
Pandangan hedonisme muncul sebagai ruang jawaban atas pertanyaan Socrates tentang tujuan hidup. Yaitu mencari kenikmatan dan kesenangan, tetapi bukan berarti rakus dan memiliki harta sebanyak-banyaknya. Paham ini perlu dan harus dipahami dengan baik, karena bisa merusak gaya hidup seseorang dengan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kenikmatan dan kesenangan saja.
Sementara kebahagiaan dalam agama Islam bukan hanya mengejar kebahagiaan dan kenikmatan lahir di dunia yang sifatnya sesaat saja. Akan tetapi, kebahagiaan adalah keseimbangan lahir dan batin yang dapat di nikmati baik di dunia dan akhirat setelah berhasil mendapatkan ridha Allah Swt. Saat di dunia yang lebih penting yakni memperbanyak ibadah dan beramal saleh dengan memperbaiki hubungan baik dengan Allah Swt dan kepada sesama manusia serta seluruh makhluk-Nya.
Dunia menjadi suatu “ladang amal” untuk menentukan masa depan seseorang di akhirat kelak. Surga atau neraka akan menjadi pilihan yang kita tentukan selama hidup di dunia berdasarkan amal perbuatan kita.
Dalam sebuah firman-Nya ditegaskan,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ
Artinya:
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah.” (QS: Luqman: 33)
Memperbanyak Amal Shaleh
Allah Swt. sudah menegaskan bahwa kehidupan dunia adalah senda gurau dan permainan. Oleh sebab itu, maka manusia harus hati-hati dengan ornamen keindahan dan kegemerlapan kehidupan dunia. Bagi orang yang bertaqwa kehidupan akhirat itu lebih baik (QS: al-An’am: 32)
Bagaimana cara kita agar terhindar dan menangkal dari sikap hedonisme dan menjadikan gaya hidup kita jauh lebih sehat?
Salah satunya yakni dengan bersyukur. Bersyukur kepada Allah Swt. berarti menyadari betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada kita, sebagai makhluk yang lemah wajib untuk selalu mensyukuri setiap rezeki yang kita dapatkan. Walaupun dalam keterbatasan materi, kita harus tetap harus bersyukur karena ada kenikmatan yang lain berupa non-materi yang begitu banyak Allah curahkan kepada kita selaku hamba-Nya, terutama nikmat iman dan Islam.
Beramal dan bersedekah juga bisa menghindari kita dari perilaku hedonisme. Bahwa kita akan berpikir masih banyak orang yang tidak seberuntung kita dan amat sangat membutuhkan uluran tangan kita. Dengan demikian, akan membuat kita berpikir dua kali ketika ingin menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Dengan pola dan gaya hidup yang tidak sehat dan cenderung hanya berdasarkan kenikmatan semata, tanpa aturan dan batasan akan melahirkan pola kehidupan yang kacau. Pola hidup yang hanya mengikuti hawa nafsu manusia, tidak bisa menikmati kebahagiaan sejati dan tidak akan pernah puas.
Menikmati segala kenikmatan menurut pandangan Islam tidak dilarang selama sesuai dengan syariat Islam. Dorongan hawa nafsu harus mampu manusia kendalikan, menjauhi gaya hedonisme, karena kebahagiaan di dunia hanya sementara yang kekal adalah di akhirat.
Kebahagiaan hanya dapat diperoleh dengan memperbanyak berbuat baik di dunia ini dan memperbanyak amal saleh. Dengan demikian, kiranya lebih jeli untuk memberikan pendidikan dan perhatian kepada para anak sejak dini tentang makna dan tujuan hidup yang sebenarnya di dunia ini. Dengan cara menghindari sifat boros, senantiasa untuk gaya hidup berhemat dan mempersiapkan kehidupan di masa depan. Wallahu A’lam Bish Showwab.
Editor: Irvan Chaniago
Mahasiswa UIN Walisongo Semarang
Instagram : Aisyhanif_25
FB : A’isy Hanif Al-Firdaus
Twitter : @isy_firdaus
