Gadis itu mendongak, menatap langit gelap yang menumpahkan rintik deras hujan. Begitu deras seakan langit akan jatuh menimpanya. Ini bukan jenis hujan yang ia sukai. Husnah menyukai rintik hujan yang terdengar bising namun indah. Berbeda dengan saat ini, ia merasakan resah begitu dalam, baginya ini menakutkan. Sudah selama sepekan hujan deras beradu, melanda kotanya.
“Sedang apa ina?”, panggil mama ketika melihat gadisnya terpaku di depan teras.
Husnah yang sedari tadi termenung, langsung tersadar mendengar suara sang mama. Gadis itu segera masuk, mengarah ke asal suara berada.
“Tidak ada apa-apa mama, ina hanya khawatir hujan tak kunjung reda”, tutur Husnah untuk menenangkan sang mama.
“Mama juga berdoa supaya hujan lekas reda, semoga semuanya baik-baik saja ina. Oh iya, mama dan bapa akan pergi sebentar ke ladang untuk melihat kerbau di kandang”.
“Nanti sore? lebih baik ina saja yang berangkat ke ladang. Mama dan bapa tinggallah di rumah”, jelas Husnah yang merasa khawatir.
“Tidak ina, kamu tinggal di rumah saja. Semoga nanti hujannya tidak sederas pagi ini” ujar sang mama, sambil berlalu menuju dapur.
*
Memang tak sederas hujan pagi tadi, namun hujan tetaplah hujan yang meninggalkan air walau hanya setetes. Sudah sekitar 30 menit berlalu, ketika kedua orang tua Husnah berangkat menuju ladang. Gadis itu tak hentinya melihat ke langit menatap awan mendung yang hitam disertai angin dingin. Sembari menggosok-gosok kedua tangannya ina terus berdoa semoga hujan segera reda. Ia hanya khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ketika mama dan bapa berada di ladang.
“Perasaanku sangat tidak enak, aku akan menyusul ke ladang saja”, batinnya dalam hati. Gadis itu kembali masuk untuk mengganti baju dengan sesuatu yang lebih tebal dan hangat, sebelum ia berangkat ke ladang.
“Husnah! Husnah! bapa dan mama kau di mana?” Ucap Arif tergagap, disusul suara keras ketukan pintu.
“Ada apa Paman?”, gadis itu segera menghampiri tetangga sekaligus saudara dari bapanya dengan tergesa-gesa.
“Di mana bapamu? Segera berberes sungai seberang sudah meluap, tanggulnya bocor. Kita akan pergi ke tempat yang tinggi”.
“Ba-pa, bapa dan mama masih di ladang paman”, Husnah tergagap sambil menahan tangis.
*
Gadis itu seketika berlari keluar, namun tubuhnya terdiam ketika melihat air setinggi atap rumahnya datang meredam perumahan warga. Ia tersentak ketika merasakan tangan dingin menariknya berlari menjauh. Husnah merasakan kelu di sekujur tubuhnya, namun ia tak bisa berhenti berlari.
Suara teriakan warga terdengar jelas menggema di segala sisi, dapat terlihat beberapa warga terseok-seok menaiki bukit yang dipenuhi lumpur dengan genangan air tersebar di penjuru jalan. Arif terlihat kewalahan ketika menarik Husnah ke arah bukit yang becek dan licin. Tapi pria itu tidak pernah melepaskan tangan Husnah dari genggamannya.
Ia sama khawatirnya dengan gadis remaja yang ia gandeng saat ini. Memikirkan bagaimana nasib kakak berserta istrinya, itu sangat menyakitinya. Di setiap langkahnya ia berharap kedua orang tua Husnah baik-baik saja.
Limpahan air mulai melenyapkan segala sisi kota dapat terlihat dari puncak bukit. Husnah melemas tidak sanggup melihatnya, tubuhnya terasa kaku akibat cuaca yang sangat dingin serasa mencengkramnya. Yang dapat ia rasakan hanyalah kehangatan rangkulan pamannya yang mencoba menenangkan dirinya.
“Mama dan bapa pasti baik-baik saja Husnah”, ucap Arif beberapa kali kepada keponakannya itu.
Husnah hanya mengangguk kecil sebelum pandangannya mengabur. Ia hanya mendengar samar-samar suara paman memanggilnya, sesaat kemudian semuanya menjadi gelap.
*
Husnah terbangun, pertama kali yang dilihatnya adalah tenda camp tempatnya tidur. Rasa pusing mendera kepalanya, ia menatap ke segala sisi banyak warga yang mengungsi. Seketika gadis itu tersadar, dirinya segera melangkah keluar camp.
Alangkah terkejutnya Husnah ketika melihat hampir semua rumah roboh, bahkan pohon-pohon tumbang di sepanjang sisi jalan, gadis itu benar-benar kaget. Ia kembali menangis sembari berjalan mencari pamannya. Ia sungguh berharap pamannya sudah menemukan kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian gadis itu menemukan sosok pria jakung yang terlihat paling menonjol diantara warga lainnya. Ia sangat yakin bahwa pria yang sedang berbincang dengan polisi adalah pamannya, Husnah segera mendekatkan diri kesana.
“Paman, mama dan bapa?”, Husnah bertanya tergugu, kedua tangannya mencengkram erat ujung bajunya, Ia berharap dapat mendengar kabar baik.
“Husnah…” Arif mengambil nafas panjang sebelum berkata kepada gadis di depannya. Dirinya dapat melihat Husnah yang menahan tangis, ia menepuk pundak keponakannya beberapa kali sebelum mengatakannya.
“Bapa dan mama belum ketemu, air di ladang masih tinggi. Kita belum bisa kesana, besok pagi paman dan tim basarnas akan pergi ke ladang naik perahu”.
Seketika gadis itu terduduk menangis, Arif merasa iba melihat keponakannya yang telah menangis seharian. Ia menarik Husnah menuju ke samping camp dan mendudukannya di atas tikar pengungsian.
“Maukah kamu bersabar sebentar? Besok paman akan cari mama dan bapamu sampai ketemu”.
“Ta-pi paman, ini salah Husnah. Seharusnya Husnah menemani bapa dan mama, seharusnya Husnah saja yang pergi ke ladang”, gadis itu terus mengulangi perkataannya.
Arif mengenggam erat pundak Husnah, ia menegaskan “Ini bukan salah mu ina. Sama sekali bukan kesalahanmu”.
*
Husnah menangis ketika melihat pamannya menurunkan jenazah kedua orangtuanya dari perahu, rasa menyesal tercetak jelas di wajah lelaki itu. Arif memeluk Husnah yang sedang menangis di hadapan jenazah keduanya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, berkali-kali ia memanggil bapa dan mamanya agar bangun.
“Ina yang tabah, kamu itu keponakan paman yang kuat. Ingat kata kedua orang tua mu, kamu itu anak yang kuat dan pemberani”, ujar Arif yang berusaha menguatkan gadis dalam pelukannya ini.
“Husnah, Husnah… ayo bersiap membagi sembako ke rumah warga”, panggil seorang perempuan dari depan camp pengungsian korban.
Gadis itu segera tersadar dari lamunannya, ketika mendengar seseorang meneriakkan namanya. Ia teringat kejadian delapan tahun silam yang menimpa dirinya. Kehilangan orang yang paling ia sayangi, merupakan patah hati terbesar dalam hidupnya. Tetapi gadis itu selalu teringat kata bapa dan mamanya, bahwa ia adalah gadis yang kuat dan pemberani.
Semenjak peristiwa itu, Husnah mendedikasikan diri menjadi relawan. Dengan hasil kerja kerasnya, gadis itu membentuk komunitas sosial yang telah tersebar di berbagai kota di Indonesia.
“Oke, mari kita bergegas”, ucap Husnah lantang.
mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang. Domisili di Rembang, si penyuka sastra. Saat ini sedang disibukkan dengan kegiatan KKN
