Site icon Inspirasi Muslimah

Fenomena Crossdressing dalam Perayaan 17 Agustus

crossdressing

Bulan Agustus penuh kemeriahan merayakan kemerdekaan di Indonesia. Semua lapisan masyarakat, dari desa hingga kota, muda maupun tua, antusias menantikannya. Rumah-rumah dihiasi bendera merah putih, jalan-jalan dihiasi umbul-umbul dan lampion. Di setiap sudut jalan, wajah-wajah politikus tersenyum dalam seragam khas, siap menyambut tahun 2024.

Moment Agustusan juga semakin lengkap dengan adanya kegiatan – kegiatan pawai seperti karnaval, perlombaan thethek, atau event gerak jalan. Biasanya kegiatan tersebut diinisiasi oleh pihak kecamatan setempat dengan kepesertaan dari berbagai elemen masyarakat mulai dari anak sekolah, perwakilan RT juga masyarakat umum, dengan catatan  mendaftarkan regunya kepada panitia. 

Pada dasarnya moment setahun sekali tujuhbelasan itu memiliki banyak sisi posistif. Selain untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan hiburan gratis bagi masyarakat. Kegiatan ini juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda dan anak tentang keaneragaman budaya, macam – macam pakaian adat, sampai pada penampilan profesi. Pada momen ini juga sebagai ajang silaturahmi antar masyarakat mulai dari warga biasa sampai para pejabat atau sekedar bertegur sapa bareng teman – teman seperjuangan.

Fenomena Crossdressing

Namun, di tengah meriahnya perayaan Agustusan, beberapa penampilan kontroversial justru mengganggu. Alih-alih mendidik, penampilan ini memperlihatkan budaya yang tidak pantas, seperti fenomena crossdressing. Crossdressing adalah ketika seseorang mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, seringkali pria mengenakan pakaian wanita. Meskipun maksudnya untuk hiburan, tindakan ini bisa merusak nilai-nilai budaya, terutama saat anak-anak yang menonton. Perlu diingat bahwa penampilan semacam ini dapat merusak esensi acara dan nilai-nilai kebudayaan yang ada.

Beberapa waktu lalu, media heboh karena video seorang pria memakai pakaian Muslimah hitam dengan cadar. Pria ini tertangkap karena mengintip wanita di toilet. Wanita-wanita di dalam awalnya tak menyadari, namun perilaku aneh pria tersebut memunculkan kecurigaan. Gerakan dan sikapnya tidak seperti perempuan pada umumnya.

Disadari atau tidak bisa dibilang kasus tersebut akibat dampak buruk munculnya prilaku crossdressing yang marak ditampilkan di ruang-ruang public. F enomena ini juga  pernah  menjadi sorotan media masa pada empat tahun yang lalu tepatnya pada 2019. Yang kemudian istilahnya berkembang menjadi komunitas cross hijaber atau perkumpulan para pria yang mengenakan busana syar’i Muslimah seperti gamis perempuan, hijab, lengkap dengan cadar, bahkan jika tidak bercadar mereka akan menghias wajahnya dengan makeup layaknya sebagai seorang perempuan. Akibatnya banyak dari perempuan menjadi kawatir saat mereka ada hajat ke toilet kususnya bagi perempuan Muslimah.

Dalam sebuah wawancara di kanal youtube beberapa tahun yang lalu milik salah satu media Nasional, mereka (pelaku crosshijaber) menerangkan bahwa ini bagian dari fasion dan membuat mereka nyaman untuk berekspresi. “walaupun saya seorang laki-laki namun tubuh saya merasa nyaman mengenakan pakaian perempuan” ungkapnya

Dijelaskan juga bahwa komumitas ini sangatlah banyak serta tersebar di berbagai kota-kota besar. Mereka terjaring melalui akun-akun media sosial seperti FB, WhastApp grup, telegram, bahkan mereka berani mengekspresikan dengan mengunggahnya di akun Instagram. 

Adanya Degradasi Adab

Dalam perayaan 17 Agustus, menghibur masyarakat tak harus dengan penampilan yang tak pantas. Banyak cara lain yang menarik, edukatif, dan tetap menghormati budaya serta agama. Membiarkan perilaku menyimpang hanya merusak adab dan kehilangan rasa malu dalam berprilaku di ruang publik. Orang-orang semacam itu  berbuat sesuai hawa nafsu mereka. Perilaku – perilaku memalukan  nyatanya  pernah diperingatkan oleh baginda Rasullulah, dalam hadist Arba’in No. 20 tentang sifat malu “ Idza Lam Tastahyi Fasnak Masyi’ta “ jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu !

Parahnya lagi jika prilaku crossdressing dianggab biasa bahkan dimaklumi. Dampaknya sebagian orang akan beranggapan bahwa perilaku  semacam itu harus ada dan menjadi sebuah keharusan. Agar dalam momen-momen perayaan menjadi lebih heboh dan mengundang tawa.

Walaupun para pria yang memakai kostum wanita pada moment seperti karnaval tidak ada niatan atau kecenderungan pada prilaku crossdreesing. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan jika mereka yang saat ini menjadi bagaian dari crossdresser berawal dari melihat orang-orang yang berpenampilan seperti itu (crossdressing) melalui perayaan-perayaan tertentu. Sehingga yang demikian itu menjadi pemicu awal bagi dirinya.

Kesadaran Dari Pemangku Kebijakan

Sebagai penyelenggara dan pembuat kebijakan, kesadaran diperlukan. Penampilan crossdressing tak sesuai untuk pawai atau karnaval. Panitia perlu tegakkan aturan dalam acara, agar tampilan peserta menarik dan pantas, tetapi tetap menghibur. Dalam budaya Indonesia yang mayoritas Muslim, etika berpenampilan dihormati. Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat laki-laki menyerupai wanita dan sebaliknya.” (HR. Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits sahih sesuai kriteria Bukhari).

Bagikan
Exit mobile version