Kesehatan mental merupakan tonggak kehidupan manusia sebab akan mempengaruhi bagaimana kita menjalani aktivitas dan berinteraksi. Seseorang dikatakan mempunyai mental yang sehat apabila dapat berkembang secara seimbang dari sisi fisik dan emosi. WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai keadaan sejahtera mental yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitasnya. Kesehatan mental membantu kita untuk mempunyai kualitas diri maupun hidup yang lebih baik. Disayangkan, hasil riset menunjukkan jika pandemi mempengaruhi peningkatan beban masalah kesehatan mental di era pasca pademi. Termasuk dalam lingkup kecil manusia, yaitu keluarga.
Lewatnya pandemi COVID-19 menimbulkan efek jangka panjang. Hal ini memaksa manusia pada gelombang rasa sakit yang besar sebab adanya kehilangan sosok dicintai, gangguan pekerjaan, pergeseran iklim keluarga akibat tingginya penggunaan smartphone dan berbagai ketidakpastian di masa depan. Fenomena demikian akhirnya berdampak pada cara kita berinteraksi dengan keluarga, lebih khusus dengan anak. Sementara tidak jarang jika anak adalah pihak yang paling terdampak dari adanya tekanan pasca pandemi. Hingga, sering kali menekan kesehatan mental mereka. Lantas bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan kesehatan mental bersama dalam keluarga di era pasca pandemi?
Keluarga menjadi bagian penting sebab di dalamnya terdiri dari orang-orang dipercaya. Ahli mengungkap bahwa keluarga yang memelihara iklim komunikasi dengan baik, sepuluh persen dari keluarga itu sehat karena merasa diperhatikan dan dihargai. Alih-alih terjerumus dalam sikap dan perilaku yang justru melemahkan mental anak, seyogyanya keluarga mampu menjadi support system utama dalam kehidupan anak sebagai bentuk pencegahan terhadap risiko gangguan mental. Keluarga merupakan kelompok dasar dan utama manusia untuk berkembang, bersosialisasi dan saling bersinergi dalam menghadapi segala bentuk permasalahan hidup yang terjadi saat ini maupun di masa depan.
Dinamika Komunikasi Keluarga
Sering kali kita mendengar berbagai pendapat yang menyatakan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Lantas, iklim komunikasi seperti apa yang semestinya kita bangun? Komunikasi tidak semestinya hanya ditekankan pada cara berbicara secara verbal, adapun komunikasi non verbal semestinya lebih dilibatkan dalam membentuk iklim komunikasi dalam keluarga. Salah satunya melalui tindakan komunikasi suportif. Orang tua mempunyai pilihan untuk membangun komunikasi yang suportif sebagai wadah anak untuk berkomunikasi tentang emosi yang mereka rasakan, mencari dukungan, dan saling menyebarkan energi positif antara orang tua dan anak. Secara teori, saat mereka mendapatkan tekanan, anak akan kembali pada keluarga untuk mendapatkan afirmasi yang menenangkan. Afirmasi ini hanya dapat dibangun jika keluarga mampu menyinergikan perhatian melalui tindakan non verbal dengan membentuk ruang keintiman untuk merangkul setiap anak. Dalam era pasca pandemi, keterbukaan komunikasi dapat kita inisiasi dari orang tua kepada anak ataupun mendorong keterbukaan antar sesama saudara.
Kebermanfaatan dari terbukanya komunikasi antar anggota keluarga sangatlah besar. Sebab keluarga adalah elemen yang dapat diandalkan dalam hal kenyamanan dan dukungan yang mungkin tidak seseorang dapatkan di luar rumah. Menciptakan kenyamanan berkomunikasi secara lintas generasi memang bukan perkara mudah. Justru menekankan tindakan yang dilakukan secara terus menerus demi terbentuknya kepercayaan dengan kokoh. Level keterbukaan seorang anak pastinya didukung oleh bagaimana lingkungannya saling memahami dan terkoneksi satu sama lain. Orang tua berperan sebagai jembatan dalam mengomunikasikan dukungan melalui keterlibatan diri secara penuh serta kesadaran diri untuk mendengarkan. Keterbukaan dalam dinamika keluarga bukan hanya sebagai iklim berkomunikasi. Namun juga sebagai cara tidak langsung orang tua untuk mentransmisikan perhatian dan kasih sayang yang mampu dirasakan langsung anak mereka.
Adapun orang tua kerap dihadapkan pada keinginan untuk memberikan berbagai penawaran, saran ataupun masukan. Namun, kerap melupakan bahwa kemauan orang tua untuk mendengarkan lebih dibutuhkan demi menjaga kepercayaan anak kepada orang tua. Menjadi orang tua yang dipercaya adalah tantangan agar mampu mengarahkan setiap anak untuk tidak terjebak dalam mengekspresikan perasaan negatif yang tidak sesuai. Membangun citra diri sebagai orang tua yang mampu dipercaya akan menyelamatkan anak pada risiko tekanan mental yang berlebih. Sebab mereka memahami bahwa lingkungan keluarga adalah tumpuannya dalam mendapatkan afirmasi positif, dukungan moril, dan semangat dalam menghadapi setiap kondisi.
Akumulasi setiap tindakan dari dinamika komunikasi yang suportif secara tidak langsung menjadi strategi dalam mengelola dan mengatasi ketegangan dalam keluarga. Komunikasi ini akan menaungi seluruh keluarga untuk menemukan kesepakatan, benang merah, dan solusi bersama yang dilakukan dalam bentuk komunikasi dua arah. Hal ini mempengaruhi bagaimana orang tua menyikapi masalah anak dengan bijaksana. Tentunya dengan tidak menekankan permasalahan keluarga dalam kaca mata “orang tua vs anak”. Tetapi berkolaborasi dalam satu ikatan sebagai “kita vs the conflict”. Komitmen membangun dinamika komunikasi yang tepat demikian tidak akan membuat siapapun dalam keluarga merasa terdiskriminasi di dalam rumahnya sendiri. Adanya iklim suportif dalam keluarga menjadi corong penting dalam membersamai anak dan orang tua untuk terus berkembang sekaligus melindungi kesejahteraan mental bersama mengikuti segala bentuk kehidupan manusia yang terus bertransformasi.
Masih Belajar di Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya Malang.
Saat ini sedang fokus pada kajian Family Communication
Instagram & Twitter @ fairuzaarin
