Dunia Sekarang: Covid-19 dan Masyarakat Cemas
Kita akui bersama bahwa implikasi wabah virus corona begitu vital dan fatal dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara dan tidak sedikit perspektif baru bermunculan. Sektor-sektor di kehidupan seperti kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan dan yang lainnya mengalami kekacauan dalam pengelolaannya.
Misalnya kesehatan, di dunia kesehatan para tenaga medis tengah dihadapkan oleh makhluk tak kasat mata yang bersifat patogen. Oleh karenanya, keterlibatan virus corona ini tidak sedikit upaya yang dilakukan para ilmuawan untuk meramu vaksin.
Sektor Ekonomi
Apalagi dari sektor ekonomi, keterlibatan hadirnya virus corona sangat fatal dalam perekonomian global. Terjadi penurunan yang signifikan baik dari ekonomi mikro maupun ekonomi makro. Para pakar ekonom memiliki spekulasi potensi kerugian ekonomi global sampai dengan 347 US$ miliar. Negara tirai bambu atau Tiongkok yang merupakan negara dengan penghasilan ekonomi terbesar kedua di dunia. Potensi kerugian ekonominya sampai dengan 237 US$ miliar dan negara asia berkembang yang terpapar; potensi kerugian ekonominya sampai dengan 42 US$ miliar.
Saya katakan bahwa ekonomi merupakan suatu hal yang vital dalam proses majunya suatu negara. Suatu negara bisa dikatakan maju ketika sudah mapan dan sanggup dalam managemen ekonominya. Tidak sedikit alasan yang menyebabkan terjadinya penurunan ekonomi; salah satunya yaitu hampir seluruh korporasi ditutup sementara akibat virus corona atau dalam bahasa lain di-lockdown guna untuk melandaikan kurva kasus positif corona.
Persoalan ekonomi semacam itu akan memicu terjadinya konflik sosial antara masyarakat dengan pemangku kebijakan. Sebagai contoh di India, ketika pemerintahan menerapkan kebijakan lockdown; hampir seluruh masyarakatnya melakukan demonstrasi di jalanan atas kebijakan yang telah diterapkan pemerintah India. Faktor pemicu aksi demonstrasi tersebut yang tidak lain tidak bukan yaitu tersendatnya aktifitas ekonomi masyarakat India. Rasanya sangat relevan dengan teori yang diajukan oleh Karl Marx; bahwa salah satu penyebab terjadinya konflik sosial itu diakibatkan oleh ketimpangan ekonomi.
Sektor Pendidikan
Belum lagi dalam bidang pendidikan, karena kasus virus corona yang mengganas 4 bulan belakangan ini lembaga-lembaga pendidikan ditutup akibatnya kegiatan belajar-mengajar dirumahkan. Para siswa atau mahasiswa melakukan pembelajaran jarak jauh, yang saya rasa tidak ada ke-efektifitasan dan ke-kondusifan dalam melakukannya. Mulai dari pengajar yang buta terhadap perkembangan teknologi, mahasiswa atau siswa yang belum memiliki alat penunjang untuk pembelajaran jarak jauh seperti laptop atau gadget . Sikap acuh tak acuh dari mahasiswa atau siswa dalam pembelajaran jarak jauh berlangsung akibat tidak ada sikap pemantauan secara langsung oleh pengajar. Tidak seperti layaknya didalam sebuah ruangan yang jelas terpantau ketika tidak memerhatikan pengajar dalam mengajar.
Jangan ditanyakan lagi dalam bidang sosial, virus corona memaksa kita untuk tidak bertemu walau sekedar tegur sapa secara langsung. Kita hanya bisa bertergur sapa lewat media sosial yang dimiliki. Sudah dibuktikan dengan berbagai kejadian yang bahwa virus corona membuat masyarakat dunia cemas dan resah, sampai-sampai virus corona ini dapat mengakibatkan kegilaan seseorang. Sudah saatnya merancang a whole new world.
Dunia Baru: Upaya Bebas Dari Covid-19
Karena terjadi kecemasan dan keresahan di masyarakat dunia, sudah semestinya para pemerintah pusat diberbagai dunia menciptakan sistem a whole new world . Tentunya dengan konsep yang berbeda satu sama lain demi kemaslahatan bersama.
Di berbagai belahan dunia seperti New Zealand, Fiji, Papua Nugini, Kuba dan masih banyak lagi sudah menyatakan terbebas dari virus corona. Setelah kurang lebih 2 bulan menerapkan kebijakan Lockdown pemerintah pusat setempat pun membolehkan seluruh masyarakatnya untuk beraktifitas dengan prinsip teguh. Yaitu tidak boleh keluar jika tidak ada hal yang penting sekali untuk keluar rumah tetapi jika hendak keluar rumah mesti menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.
Berbicara tentang a whole new world atau sebuah dunia baru mesti sesegera mungkin tercipta dalam sendi-sendi kehidupan kita pada masa pandemi seperti ini, bukan tanpa sebab, sudah terbukti banyak korban jiwa melayang akibat bencana ini.
”Sebuah Dunia Baru” bukan dalam arti menciptakan dunia atau bumi yang baru untuk menjadi tempat tinggal makhluk hidup. Melainkan sebuah dunia yang di dalamnya mesti tercipta sebuah kebiasaan baru untuk dilakukan. Kalau berbicara tentang virus corona pasti ada kaitannya dengan kesehatan oleh karenanya banyak sekali upaya untuk sehat dari virus corona.
Perubahan Individu
Pandemi seperti ini menjadikan tiap-tiap individu dari masyarakat melakukan upaya untuk menjadi individu yang sehat supaya tidak terjadi lagi penularan, seperti; cuci tangan setelah beraktifitas, mengkonsumsi makanan bergizi, berjemur dibawah paparan sinar matahari serta olahraga setiap hari. Tapi yang menjadi persoalan, kenapa hal-hal yang fundamental seperti itu baru dilakukan ketika masa seperti ini?. Bukannya itu merupakan sifatnya fundamental dalam hidup. Semoga hal-hal fundamental atau mendasar dalam hidup yang sifatnya positif untuk kesehatan bisa menjadi program jangka panjang.
Dan yang terpenting supaya diri terbebas dari virus corona bukan terus menyalahkan atau memojokkan sistem yang dihadirkan pemerintah pusat setempat, tapi mulai dari diri kita sendiri. Mulailah untuk menciptakan udara baru yang segar maksudnya buatlah pembaharuan dalam aktifitas kita yang dianggap monoton dan datar.
Mulailah dari diri sendiri kalau bukan diri sendiri yang mengawali lantas siapa yang akan bertanggung jawab melandaikan kurvanya?. Mulailah dari yang terkecil karena sekecil apapun yang kita lakukan pasti setidaknya ada dampak yang terasa untuk orang lain dan mulailah dari sekarang.
Mesti diketahui bersama tidak sedikit upaya responsif yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk menanggulangi wabah pandemi ini. Jika raga tidak memiliki daya lagi untuk menjangkau maka biarkanlah kemasifan magis doa yang berusaha mendobraknya. (s)
Sedang studi di MA Darul Arqam Muhammadiyah Garut kelas 3 MA.
