Alkisah di sebuah rumah tua, tinggalah seorang gadis bernama Lethina dengan ibu dan adik laki-lakinya. Ayahnya telah meninggal sehingga ibunyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia pun terpaksa keluar dari sekolah karena ibunya tidak sanggup membayar kebutuhan sekolahnya. Akhirnya Ia pun meutuskan untuk membantu ibunya dengan cara bekerja di rumah tetangganya yang memiliki rumah besar.
Hingga pada suatu hari, Lethina melihat nenek tua yang tampak lelah. Nenek tersebut jatuh tersungkur di jalanan. Ia membantu si nenek dan merawat luka yang ada di kakinya. Setelah itu Ia membantu mengobati luka nenek. Nenek pun bertanya tentang kehidupan dirinya. Kemudian ia pun menceritakan tentang kehidupannya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Setelah itu nenek membagikan bungkusan kain yang di dalamnya terdapat dua blueberry berwarna biru dan bercahaya. Blueberry tersebut merupakan buah ajaib yang jika bijinya ditanam dapat membuahkan hasil yang memuaskan.
“Buah ini adalah buah ajaib, kamu bisa memakan buah ini kemudian menanam bijinya di halaman rumahmu.” Pesan Nenek padanya untuk menanam biji itu setelah sampai di rumah.
“Terima kasih banyak Nek.” Lethina pun pergi dan kembali bekerja ke rumah tetangganya.
Sesampainya di rumah, Lethina menceritakan kejadian nenek tua yang terjatuh di jalan dan blueberry yang bercahaya. Ibunya menyuruh Ia untuk memakannya, lalu menanam biji dari buah blueberry yang bercahaya itu dan menyiramnya setiap hari. Ia sangat rajin merawat tanaman yang tumbuh dari buah bluberry itu.
Seiring berjalannya waktu, tumbuhan itu pun tumbuh dengan sangat lebat dan berbuah. Lethina pun memetik salah satu buah blueberry, lalu mencobanya. Ternyata rasanya enak dan legit. Tapi isi bijinya berupa butir berlian kecil yang bercahaya. Lethina dan keluarganya kaget sekaligus gembira melihat hal itu.
Akhirnya Lethina berinisiatif untuk mengumpulkan berlian itu dan menjualnya ke kota. Selama perjalanan ke kota Ia tersenyum bahagia karena dari saking senangnya melihat suasana kemewahan hidup di kota. Ia langsung masuk ke toko emas dan menjual berlian kecil di tangan.
“Kak saya mau menjual berlian ini. Kira-kira berapa ya harganya?” tanya Lethina.
“Wah mahal ini. Soalnya ini berliannya langka. Kalau saya tawar 500jt gimana mbak?” Tanya si penjual.
“Hah 500jt?” Lethina pun kaget mendengar jumlah uang yang ditawarkan.
“Jadi gimana mbak?” Tanya si penjual kembali.
“Ok mbak saya ambil.” Jawab si Lethina menyetujui penjualan berliannya.
Beberapa saat kemudian, tidak berselang lama mereka melakukan transaksi penjualan berlian. Lethina membawa banyak uang ke rumah. Hari demi hari Ia menjadi kaya dan rumahnya diganti menjadi rumah yang lebih besar, seisi rumah diganti dengan pernak pernik kemewahan. Namun, hal itu membuat ia lupa akan pemberian si nenek. Dia begitu boros dan terus berfoya-foya dengan uang yang ia dapatkan.
Ketika hari menjelang malam, ada seorang nenek yang datang ke rumah Lethina dan ia mengetuk pintu.
“Permisi, kasihanilah saya dengan sesuap nasi. Saya seharian ini belum makan, Nak.”
Ucap sang nenek.
Kemudian, Lethina pun membuka pintu dan ia kaget serta merasa jijik melihat nenek yang berpakaian lusuh dengan kondisi tidak terawat.
“Minta makan seenaknya aja. Emang cari uang gak susah apa? Enak banget kamu minta-minta uang dengan mudahnya. Pergi kamu sana!” Ucap Lethina mengusir nenek itu dengan nada ketus.
“Kamu tidak mengenal Nenek? Maka kembalikan dua butir blueberry yang telah nenek berikan kepadamu.” Pinta nenek.
Lethina tidak menyukai suasana ini dan langsung menyuruh nenek untuk pergi. Setelah nenek pergi, Ia kembali pergi tidur dan memimpikan sesuatu yang mengerikan. Ia dibawa oleh dua orang pemuda berbadan kekar lalu dimasukkan ke dalam sebuah ruangan kosong.
“Kembalikan dua buah blueberry yang telah kuberikan padamu!” Ucap perempuan tua itu.
“Kamu siapa?” Tanya Lethina.
“Kamu akan mengetahuinya dan sadar tentang kehadiranku ketika bangun nanti.” Jawab Nenek memperjelas.
Akhirnya Lethina pun terbangun dan membuka mata serta melihat sekelilingnya. Alangkah terkejutnya tiba-tiba ia menyadari bahwa yang terjadi dan yang ia alami hanyalah sebuah mimpi. Ia melihat ada seorang perempuan tua dan ibunya yang duduk di sebelahnya. Lalu ibunya memperkenalkan perempuan tua itu kepada dirinya. Akhirnya dirinya menyadari bahwa apa yang ia selama ini alami hanyalah mimpi.
“Lethina, ayok bangun! Kita sarapan bersama. Ayok lihat siapa yang datang? Ada nenekmu yang berkunjung kesini. Kamu baru pertama kali ini kan ketemu nenek kamu.” Sapa ibunya sambil memperkenalkan perempuan lansia di sampingnya. Lethina pun hanya bisa terdiam membeku seakan kehabisan kata-kata. Ia banyak belajar mengenai arti bersyukur dan tidak boleh menjadi manusia yang serakah walaupun hanya melalui sebuah perantara mimpi. Oleh karena itu, ia berjanji untuk tidak berubah menjadi sosok Lethina yang serakah seperti dalam mimpinya semalam.
Editor: Putri Ambarwati
Siswi SMP Ar-Rohmah Putri IIBS Kampus 2. @lethina_.
