Pas nge-klik tombol youtube, muncul di halaman rekomendasi satu thumbnail yang bertenaga menarik pandangan mata saya, tulisan putih dalam background merah. “Ngeri!!! Milenial Terancam Homeless”.
Bergeser melirik ke judul videonya, “Nasib Berat Milenial Bakal Susah Punya Rumah, Efek Inflasi”, oleh Tom Mc Ifle. Menambah rasa penasaran, se-ngeri apa, saya klik tombol play tapi belum sempat tonton sampai akhir.
Satu malam sebelumnya, dalam perjalanan dari Jogja menuju Malang, baru melewati sekitaran Ngawi, istri saya ingin tidur sebentar.
“Yah, aku ngantuk berat, kuputerin Inspigo aja ya buat nemenin ayah nyetir.”
Dan jadilah podcast edukatif itu bagai obat saya melawan kantuk. Pembicara tamu yang dihadirkan adalah Adjie Santosoputro seorang praktisi mindfulness. Di antaranya ada bagian obrolan cara melihat tekanan atau ancaman, memandang kegagalan dan keberhasilan.
***
Lewat sekitaran Mojokerto, istri saya terjaga kemudian melempar sebuah pertanyaan. “Gimana yah, bagus nggak isi dari pembicaranya?”
Saya langsung jawab begini, “Bagus kok bun, ku pinjam istilah dari mas Aji (mentor ayah), kita harus belajar sumeleh.”
Sumeleh, sebuah kosa kata dalam bahasa Jawa yang patut disyukuri. Mewakili sikap keikhlasan, ketenangan, keadilan menata hati. Menempatkan situasi baik maupun buruk, disukai atau dibenci agar bisa lebih pada tempatnya. Termasuk belajar sumeleh menyikapi ancaman milenial homeless.
Mengkonsumsi 2 konten paradoks di waktu berdekatan, membuat saya merasa bersyukur. Konten yang belakangan seakan menebar virus ketakutan sementara yang sebelumnya menyuntikkan tenaga memaknai tiap peristiwa. Tentang cara menyikapi dengan relax atau bahkan bahagia.
Meski saya bukan milenial tapi jelas terhubung dengan mereka, yang terdekat adalah anak-anak. Ancaman untuk milenial artinya itu juga ancaman buat anak-anak saya. Hembusan virus ngeri memapar dan bisa jadi menjangkiti lebih dalam ke dalam hati orang tua.
Saya berada di posisi tidak ingin turut larut dalam ketakutan ancaman milenial homeless. Jika melihat hanya dari kaca mata kemungkinan gelombang inflasi, pasti bisa menekan isi dompet juga pikiran. Rasa takut apakah esok hari masih bisa membeli keinginan dan melindungi masa depan anak-anak.
Sebatas mengingat lagi fakta yang kita tahu bahwa meningkatnya harga rumah waktu ke waktu tidak secepat naiknya UMR atau gaji pekerja. Tanpa ada berita atau fakta inflasi saja, saya yang bukan pembelajar ekonomi akan menganggapnya sebagai lomba lari yang selalu tak seimbang.
Terbiasa dengan kekalahan dan situasi sulit tanpa sadar membuat merasa normal dan masih baik-baik saja. Jangan-jangan memang demikian?
***
Judul konten (NGERI!!!) itu seakan berteriak. Hei…bangun!”
Membuat saya terjaga,
“Oke siap, tapi jangan takut-takuti begitulah”.
“Bener jangan ditakut-takuti? Bukankah kamu akan terus tidur nyenyak jika mimpimu tak buat takut bahkan ngeri?”
Ada satu cerita juga yang ingin saya catat, dengan harapan kita bersama terjauh dari golongan ayah penakut.
Sebulan lalu saya dan istri berkenalan dengan seorang perempuan muda milenial di atas kapal Pinisi Ocean Dream di perairan Labuhan Bajo. Panggil saja namanya Ida, domisili Depok mengaku berdarah Batak. Hobi menyelam, mengantarnya ke banyak lautan di negeri terindah ini.
3 hari 2 malam bermalam di atas kapal, lumayan banyak kami bertukar cerita. Salah satunya adalah cerita Ida, saat di Jabodetabek tengah diberlakukan pembatasan wilayah di masa pandemi covid.
***
Ida memilih melakukan WFH ke pulau Nusa Penida. Mendengar itu saya sendiri tak punya bayangan tentang kondisi Nusa Penida.
Apa yang dilakukannya selama hampir 4 bulan di Nusa Penida? Ida tidur di rumah warga sambil bekerja sebagai analis data dan menyalurkan hobi menyelam. Sebagai perempuan muda ekstrovert dia bergaul, membantu warga kampung di pulau itu untuk bertahan hidup di tengah mati surinya pariwisata Bali.
Membantu mereka dengan menyisihkan sebagian gaji untuk sedikit memenuhi kebutuhan sembako warga.
Tiba waktu harus balik ke Depok, warga kampung di sana, merasa berat dan meminta Ida untuk datang kembali. Karenanya, Ida mengaku sebetulnya betah, Nusa Penida sudah bagai rumah dan kampung halaman sendiri.
Dan betul, dia datang lagi sekian bulan berikutnya tapi tak sendirian. Ayahnya ingin tahu juga bagaimana Nusa Penida. Saat tiba, ayahnya meneteskan air mata menyaksikan kehangatan cara penyambutan warga kampung atas kedatangan putrinya.
Tak sedikit dari warga menawari Ida dan sang ayah untuk tinggal di rumah tiap-tiap dari mereka. Mengantar mereka menelusuri sudut-sudut Nusa Penida.
Saya percaya dan larut menikmati cerita Ida. Awal pembuka jika ayahnya menelpon bukanlah bertanya tentang kabar tapi bertanya sedang di mana putrinya berada. Membayangkan jika saya adalah ayah Ida, mungkin saya akan bilang,
“Ida, meski kamu bungsu dan anak perempuan, ayah tak takut kamu tak akan punya rumah”.
“Depok tetap jangan kamu lupakan, ada ayah, ibu dan abang-abangmu”.
“Di kampung ini, banyak pilihan tempat dan saudara hangat buatmu untuk tinggal”.
“Di Nusa Penida ini kamu telah diterima, Ayah yakin, Sabang, Lombok dan Raja Ampat pun mungkin bisa jadi rumahmu berikutnya”.
Arsitek, pendiri vucapedia.com tinggal di kota Malang. Facebook priyoharsono.vucapedia.
