Site icon Inspirasi Muslimah

Di Balik Pertanyaan Kapan Nikah ?

nyinyir

Pertengahan Agustus lalu, saya harus menghadiri pernikahan sepupu di Kota Kembang. Sebetulnya datang ke pernikahan adalah hal yang mudah, apalagi pernikahan sepupu tentu tidak perlu canggung dan malu.

Namun ada satu hal yang harus saya siapkan matang-matang jika menghadiri undangan pernikahan siapapun; walau saya hadir dengan orang tua atau kekasih atau teman saya tetap hal ini harus dipersiapkan dengan matang.

Ya benar, mempersiapkan jawaban saat ada pertanyaan kapan nikah, kapan nyusul, dan kapan lainnya yang berhubungan dengan pernikahan. Akhir-akhir ini cukup sering pertanyaan itu saya terima, mungkin ini akibat dari saya sering menanyakan hal yang sama.

Ya begitulah risiko bagi orang yang belum menikah tetapi sudah menjalin hubungan lama; selalu ada saja pernyataan yang iseng dan “tidak sopan” masuk ke telinga, seperti pacaran kok lama banget kaya cicilan motor, atau cepat nikahi sebelum ditikung di tikungan terakhir.

Pernyataan-pernyataan tersebut awalnya biasa saja saya tanggapi bahkan hanya saya anggap sebagai angin lewat dan juga bercandaan semata. Tapi karena saya sering mendengarnya akhirnya membuat saya gerah dan menjadi daftar yang saya pikirkan

Alasan Bertanya Kapan Nikah?

Nah di balik pertanyaan kapan nikah yang saya lontarkan dan semua teman saya tanyakan kepada saya tentu memiliki beberapa alasan yang tentu bisa diterima atau tidak; namun saya mencoba menjelaskan mengapa saya sering bertanya kapan nikah?

Alasan yang pertama adalah ingin melihat teman saya menikah lebih dulu karena dari segi usia dan kematangan emosional serta komitmen bersama pasangannya sudah kuat; tentu jika mereka menikah saya akan senang hati datang ke pernikahannya.

Dan saya percaya teman-teman yang bertanya hal yang sama kepada saya mempunyai tujuan yang tidak jauh berbeda. Apalagi jika yang bertanya sedang duduk di pelaminan, sudah pasti mereka ingin memberi kode nikah itu “seru”.

Kedua, tujuan bertanya kapan nikah adalah memotivasi agar objek yang saya tanyakan semangat untuk mencari cuan serta mencari calon pasangan hidup tentunya, ini adalah salah satu bukti perhatian menurut saya.

Ketiga, adalah candaan. Ya saya sering menganggap pertanyaan menikah adalah candaan, dan jawaban yang saya siapkan juga berupa candaan sehingga tidak perlu terlalu serius untuk memikirkan pertanyaan kapan nikah.

Saya dan banyak orang sering menjawab pertanyaan kapan nikah dengan jawaban “jika tidak Sabtu ya Minggu” atau “Besok kalau tidak kesiangan”; bahkan “Nanti jika sudah keliatan hilal” serta masih banyak lagi.

Pertanyaan “kapan nikah” sebagai candaan merupakan sebuah pengingat yang tidak terlalu menyakitkan; bahkan jika dijawab dengan berbagai jawaban yang lucu, sehingga suasana hati yang tadinya tegang menjadi cair.

Namun terkadang ada beberapa orang yang sensitif jika ditanya kapan nikah. Ia tidak akan menjawab atau menjawab sesuka hatinya, karena mungkin sebagian orang menganggap pertanyaan kapan nikah” merupakan hal yang cukup serius.

Menikah di Waktu yang Tepat

Beberapa hari setelah menghadiri pernikahan sepupu di Kota Kembang; saya mengikuti diskusi yang diselenggarakan oleh rahma.id dan milenialis.id. Setelah ditanya kapan nikah saya harus mengisi diskusi dengan tema “Pacaran atau Ta’aruf dan Nikah Muda atau Nikah Enggak Muda-Muda Amat”.

Serasa sudah ditakdirkan untuk menjawab pertanyaan kapan nikah di forum yang hebat dengan narasumber yang kece juga. Dan Alhamdulillahnya pencerahan dari narasumber yang lain membuat saya lega dan akhirnya saya memutuskan menulis artikel ini

Oke balik lagi ke topik, melihat alasan mengapa orang-orang bertanya “kapan nikah” tentu ada yang merasakan biasa saja, ada yang merasakan kaget, kesal atau bahkan senang dan masih banyak lagi respons ketika mendengar pertanyaan “menyeramkan” tersebut.

Menikah Engga Muda-Muda Amat

Sebetulnya saya dan sebagian orang lainnya bukan tidak ingin segera menikah, atau mengikuti trend nikah usia dini, namun masih banyak pertimbangan mengapa saya memilih menikah “engga muda-muda amat”.

Pertama, Menikah bukan hanya sekedar ijab qobul lalu saksi mengucapkan kata sah dan mempelai berdiri seharian di pelaminan bak raja dan ratu; namun nikah adalah memulainya kehidupan baru bersama teman hidup.

Ya teman hidup yang akan mengetahui seluk beluk hingga aroma alamiah kita, sehingga perlu dipersiapkan mental yang cukup. Karena jika tidak bisa memiliki mental yang cukup bisa saja berujung pada perceraian.

Kedua, Menikah bertujuan untuk memperbaiki keturunan. Maka tentunya saya harus menyelesaikan pendidikan saya baik formal maupun informal. Mengapa? Karena jika pendidikan kita tidak selesai belum tentu kita memahami kondisi lingkungan di masa yang akan datang.

Jika tidak memahami kondisi di masa yang akan datang; maka belum tentu kita bisa berbagi dan menjadi contoh keturunan kita, bahkan bisa saja melahirkan keturunan yang lebih buruk dari kita karena pendidikan yang tidak selesai.

Ketiga, mempersiapkan semua yang berhubungan dengan material. Ya bukan hanya untuk resepsi saja tetapi untuk persiapan di masa depan, untuk biaya pendidikan saya ataupun pasangan dan juga pendidikan anak-anak saya nanti.

Mungkin agak sedikit aneh alasan yang ketiga ini; tetapi menurut saya ini cukup penting karena menyangkut dengan masa depan anak dan cucu saya kelak, sehingga bisa lebih baik membangun peradaban di masa depan.

Mungkin setiap orang memiliki alasan yang berbeda untuk menjawab pertanyaan kapan nikah; ataupun juga sama seperti yang saya sebutkan di atas. Tapi inilah sebuah perjalanan hidup yang mau tidak mau harus diterima.

Sekali lagi, menikah bukan perihal muda atau tua, kapanpun itu semua orang akan menikah di waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat; sehingga semua orang mempunyai haknya untuk menentukan kapan ia akan menikah.

Bagikan
Exit mobile version