Site icon Inspirasi Muslimah

Child Grooming Bukan Cinta yang Tak Memandang Usia

child grooming

Seringkali kita dengar bahwa cinta itu buta karena tak memandang rupa, usia, dan harta. Baru saja kemarin viral pernyataan seorang selebriti yang mengungkapkan hubungannya dengan sang kekasih yang masih berusia empat belas tahun. Tentu saja berita ini menuai kontroversi di publik, tak hanya tentang selebriti tersebut, tapi juga tentang media surat kabar online yang memuat artikel dengan framing seolah itu adalah suatu hal yang normal.

Hal ini cukup ironis karena ternyata banyak masyarakat yang belum memahami bahaya dari jalinan hubungan antara orang dewasa dengan anak-anak. Hubungan tersebut dapat menjurus pada child grooming yang berpotensi menjadi pelecehan maupun kekerasan seksual pada anak. Jenis kejahatan ini mungkin belum familiar di Indonesia mengingat banyaknya toleransi terhadap pasangan dengan  selisih usia yang jauh. Padahal kali ini yang disoroti bukanlah perbedaan usianya, melainkan fakta bahwa si perempuan masih berusia minor, yaitu empat belas tahun.

Apa itu Child Grooming?

Child sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti anak-anak. Menurut klasifikasi usia yang WHO(World Health Organization) rilis anak-anak berada dalam rentang usia 0-17 tahun, sedangkan Badan Pusat Statistik dalam lamannya menyebutkan bahwa anak-anak adalah mereka yang dalam rentang usia di bawah 16 tahun. Hal ini menandakan bahwa kekasih dari selebriti tersebut masih seorang anak-anak.

Child grooming sendiri adalah bentuk pendekatan manipulatif untuk mengeksploitasi seorang anak. Salah satu lembaga masyarakat internasional, yaitu National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), mengatakan bahwa grooming adalah suatu upaya pendekatan untuk membangun hubungan emosional dan kepercayaan dengan seorang anak atau remaja untuk memanipulasi dan mengeksploitasi mereka.

Bagaimana proses terjadinya Child Grooming?

Biasanya anak-anak atau korban tidak akan menyadari bahwa pelaku sedang memanipulasi atau bahkan mengeksploitasinya Hal ini terjadi karena tidak ada kekerasan pada hubungan yang terjalin. Pelaku akan berulang kali menunjukkan perilaku seolah dia sedang memberikan kasih sayang yang tulus pada si korban. Ucapan-ucapan seperti “wah, kamu dewasa juga, ya, tidak seperti anak seusiamu” atau kalimat pujian-pujian yang lain akan membuat korban terlena karena kepolosannya.

Berawal dari pujian-pujian tersebut, si pelaku akan melanjutkan aksinya dengan berulang kali menemui korban dan memberi hadiah-hadiah seperti barang dan uang. Pada fase ini komunikasi dan interaksi yang  dilakukan dengan korban cukup intim seperti sleepcall, menyentuh bibir korban dengan tujuan merayu, berpelukan, dan bahkan berciuman. Setelah itu, pelaku akan mulai melancarkan aksi eksploitasinya yang bisa mengarah pada pelecehan maupun kekerasan seksual. Pada saat hendak dilecehkan, korban akan menjadi tidak berdaya karena merasa sungkan atau tidak enak kepada pelaku.

Pelaku sendiri juga berhati-hati dalam menentukan targetnya. Biasanya pelaku adalah seseorang yang memiliki akses untuk berinteraksi dengan anak-anak. Jika dia ingin aksinya berjalan secara sempurna, dia akan melakukan riset terlebih dulu kepada korbannya dengan banyak bentuk. Contoh yang paling sering adalah dengan manipulasi kasih sayang untuk mengukur seberapa banyak dia dapat menguasai korbannya. Selain itu, pelaku dapat melakukannya dengan mencari korban yang memiliki daddy issue ataupun ketiadaan figur laki-laki dalam hidup.

Cinta yang tak memandang usia

Judul sub bab ini memang benar, cinta tak memandang usia. Seringkali kita lihat perbedaan usia yang jauh dari sepasang sejoli yang saling mencintai satu sama lain. Ada yang laki-lakinya berusia 32 tahun dan si perempuan masih 20 tahun atau bahkan sebaliknya. Perbedaan selisih usia yang jauh bukanlah sebuah masalah selama pasangan tersebut mampu menjaga keharmonisan serta chemistry antara dua orang.

Namun, hal ini akan menjadi berbeda apabila salah satu dari sepasang kasih tersebut masih berusia minor atau anak-anak, baik itu lelaki maupun perempuan. Hal ini karena belum matangnya psikologis dan kedewasaan seorang anak sehingga mudah untuk dimanfaatkan karena kepolosannya. Kemudian dalam kasus tertentu hal seperti ini juga bisa mengarah pada child grooming yang telah dijabarkan di atas serta pedofilia. Dikutip dari laman alodokter.com, pedofilia adalah hasrat seksual kepada anak-anak atau remaja berusia di bawah 13 tahun. Untuk didiagnosis sebagai pedofil, seseorang harus mengalami gangguan ini minimal selama 6 bulan.

Seorang pelaku child grooming boleh jadi dulunya juga korban dari child grooming itu sendiri. Seperti halnya beberapa kasus pelaku kekerasan seksual yang ternyata dulunya juga korban dari kekerasan seksual itu sendiri. Semua hal tersebut berawal dari buruknya lingkungan dan kurangnya figur orang tua yang disebabkan oleh pengabaian maupun kekerasan dalam rumah tangga saat korban masih kecil.

Sekali lagi, ini adalah peringatan bagi seluruh orang tua terutama para ayah karena kebanyakan korban child grooming adalah anak perempuan. Anak-anak perempuan yang menjadi korban umumnya adalah mereka yang tidak memiliki figur ayah baik secara fisik maupun psikologis. Kehadiran seorang ayah terutama secara psikologis sangatlah penting bagi seorang anak perempuan. Apabila anak perempuan tidak menemukan figur, maka yang terjadi adalah anak tersebut akan mencari sosok laki-laki lain yang dia rasa dapat memberikan kasih sayang. Pada celah itulah yang pelaku child grooming manfaatkan korban dengan memanipulasi dan mengeksploitasinya.

Bagikan
Exit mobile version