Site icon Inspirasi Muslimah

Buya Syafii dan Dukungan untuk Perempuan Korban

Oleh: Yulianti Muthmainnah*

“Pak Presiden, Anda harus mendukung kebijakan yang melindungi perempuan dan anak dari perilaku laki-laki tak bermoral yang melecehkan kehormatan perempuan. Apalagi, situasi korona saat ini. Saya membaca banyak perempuan menjadi korban”. Kata-kata Buya Syafii Maarif di depan Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia. Ketika menyerahkan nasi tumpeng kala menghadiri perayaan ulang tahun Buya ke-85 di Istana Negara. Malam itu benar-benar membuat hati senang. Rasanya seperti disiram air surga. Ingin kuteruskan mimpi ini, jika saja jam weker tidak membangunkanku.

“Buya adalah tokoh teladan, guru bangsa. Tulisan-tulisan Buya di media massa maupun buku-bukunya memperkaya khazanah Islam Indonesia. Saya banyak mendapatkan pengalaman dari beliau”. Demikian rata-rata kesaksian para narasumber yang hadir, memulai testimoni sosok Buya Syafii Maarif pada diskusi 30 Mei lalu. Saya sepakat dengan kalimat ini. Selama tiga hari mengikuti webinar yang melibatkan narasumber lebih dari 35 orang, rata-rata semua mengucapkan hal yang sama, memuji, tidak ada yang mencela Buya. Kecuali, tiga narasumber (Yuniyanti Chuzaifah dan Edriana Noerdin) punya pandangan berbeda, menyampaikan harapan agar Buya bisa menyuarakan perlindungan perempuan korban. Serta Yefri Heriani (Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumatera Barat), narasumber 2/6/2020 yang mengatakan pentingnya dukungan Buya agar ada perempuan yang menjadi ketua umum pimpinan pusat dalam organisasi otonom Muhammadiyah seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Sebagai tim yang bekerja di balik layar dan tak sempat ikut bicara dalam forum webinar. Saya sangat mengapresiasi catatan-catatan ketiga narasumber tersebut. Mereka tidak hanya menunjukkan kapasitasnya sebagai individu yang mengenal Buya dengan baik. Tetapi, juga kritis atas persoalan perempuan dan anak yang semakin mengkhawatirkan. Juga pentingnya mendorong kepemimpinan perempuan dalam tubuh organisasi Islam berkemajuan terbesar di Indonesia. Sehingga dibutuhkan campur tangan seorang guru bangsa, di saat semua narasumber menyampaikan pengalaman personal dengan Buya, kebersahajaan kehidupan Buya. Maupun, pujian lainnya tentang kesigapan Buya memberikan rekomendasi beasiswa bagi anak muda, semudah membalikkan telapak tangan.

Buya Syafii di Mataku

‘Mencari Autentisitas dalam Kegalauan’ adalah salah satu catatan Buya yang saya gemari. Buya menulis ‘…jika ada kaum laki-laki yang merendahkan dan menghina perempuan, jelas mereka adalah jenis manusia yang berada di luar wilayah peradaban…’ Walau demikian, saya punya pengalaman khas dengan Buya. Mei 2013, acara ‘Dua Jam Lebih Dekat dengan Buya Syafii’ di UHAMKA Jakarta’. Saya berkesempatan bertanya, “bagaimana tanggapan buya terhadap kasus perkosaan yang menimpa perempuan dan kekosongan hukumnya?”. Buya menjawab ‘dunia serba kacau, laki-laki memperkosa perempuan. Maka jangan berputus asa, selama roda dunia berputar’.

Kata-kata Buya seperti cahaya penerang. Buya memang orang yang sangat santun dan menghormati perempuan. Bahkan saya tidak punya foto berdua bersama buya, kecuali bertiga dengan Muhammad Daraz. Dukungan Buya memang sangat nampak. Misalnya, monogami sebagai wujud keluarga sakinah, perlunya tafsir baru bahwa perempuan bukan dari tulang rusuk laki-laki sebagai akar penindasan. Serta jilbab pada perempuan bukan sebuah pemaksaan dalam bingkai negara (otonomi daerah) tetapi bagian dari hak perempuan dalam beragama, berekspresi.

Saya pikir, dukungan Buya (Ketua Umum Muhammadiyah, 2000-2005) pada isu perempuan menjadi pondasi. Memperkokoh sikap Muhammadiyah, monogami sebagai salah satu ciri keluarga sakinah (Putusan Tarjih, 2015). Dien Syamsudin, (Ketua Umum Muhammadiyah 2005-2015) mengatakan “bermimpi poligami saja tidak pernah, apalagi melakukannya bagi pengurus Muhammadiyah” dalam peluncuran buku Aisyiyah ‘Memecah Kebisuan, Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan demi Keadilan’, (2009).

Sikap Negarawan

Situasi korona dan meningkatnya angka KDRT memang membutuhkan campur tangan negarawan. Di saat PSBB dan physical distancing diterapkan, terbatasnya moda transportasi, tidak tersedianya layanan ojek online yang mengantarkan penumpang, tetapi di sisi lain tidak diperhatikannya nasib perempuan yang ter(di)paksa pulang malam karena bekerja di garda depan. Bagaimana mereka harus jalan sendirian dengan minimnya penerangan jalan, menuju lorong gelap gang-gang yang masih mencapai 200 meter atau lebi,h untuk sampai ke kosan/rumah dari pinggir jalan. Atau mereka yang harus berjuang, bertahan dalam situasi KDRT dari suami, mustahil bisa mengakses rumah aman (WCC) dalam situasi korona.

Naïf kiranya bila ada peserta diskusi webinar mengatakan ‘Buya tidak perlu campur tangan urusan gender karena seorang negarawan’. Justru, negarawan sejati adalah mereka yang bersetia pada isu hak asasi manusia. Bukan hanya menolak hukuman mati, menyerukan perlindungan kelompok minoritas agama/etnis, tetapi juga dukungan bagi kelompok-kelompok rentan seperti disabilitas, lansia, minoritas seksual, serta perempuan.

Perempuan, dari segi jumlah, setengah dari populasi Indonesia. Namun, perempuan tidak dianggap manusia utuh, hanya objek seks, sering mendapatkan pelecehan yang merendahkan martabat manusia, KDRT, kekerasan seksual maupun perkosaan. Padahal, Deklarasi HAM Wina (1994) kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran HAM, Statuta Roma dan International Criminal Court sudah memasukkan unsur perkosaan sebagai pelanggaran HAM yang bisa diajukan dalam persidangan internasional. Demikian pula KDRT, sebagai salah satu bentuk penyiksaan yang tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia, sebagaimana Rekomendasi Umum Konvensi CAT.

Bergerak di isu perempuan sejak 2003, pada titik ini, saya sungguh-sungguh berdoa mimpi di atas terwujud. Tahun ini, saya hanya menunggu dukungan Buya. Agar ada kebijakan khusus tentang perlindungan perempuan dari pelecehan maupun kekerasan seksual dalam rumah tangga maupun publik, di manapun mereka berada.

Barakallah Buya, sehat senantiasa, maafkan Saya bila tulisan ini sebuah permintaan, berbeda dari seluruh kado ulang tahun yang Buya terima.  

*Ketua Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan (PSIPP) Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD) Jakarta, Maarif Institute Associate, dan Jaringan Islam Berkemajuan

Bagikan
Exit mobile version