Sejauh ini proses melahirkan hanya diartikan bagian dari fase biologis seorang perempuan yang mengeluarkan seorang manusia kecil dari rahim, yang hidup dalam kurun waktu 9 bulan. Tahap melahirkan kurang lebih memakan waktu satu setengah jam dengan setiap kontraksi, ibu harus mengejang keras agar dapat mendorong bayinya keluar menuju kamar lahir. Pada detik-detik penantian, semua orang tak sabar menanti kelahiran manusia kecil. Tapi mereka lupa bahwa di saat yang sama seorang perempuan pun tengah dilahirkan untuk menjadi seorang ibu. Gambaran perjuangan melahirkan yang sering kali tak terlihat, ternyata membawa jauh perjalanan pengalaman seorang perempuan. Makna berjuang mempertaruhkan nyawa benar-benar nyata adanya, mengerahkan seluruh hidup untuk memastikan bahwa manusia kecil yang sedang berada di dalam rahim berhak lahir bahagia meski sang ibu lupa bahwa dia juga perlu bahagia untuk melanjutkan hidup di kemudian hari.
Pasca melahirkan terus berlanjut, masih diikuti berbagai macam fase perjalanan manusia kecil yang kita sebut sebagai buah hati. Merawat dan menyusui yang ternyata memerlukan aturan sedemikian rupa agar sang anak mendapat kebutuhan hidup yang utuh. Tertinggal jam sedikit saja, seluruh tubuh rasanya remuk sakit tak tergambarkan. Jam tidur yang tak beraturan mengikuti kehidupan awal anak. Lelah tak tertahankan, tapi semestinya kita tetap melawan karena saat ini kita bukan lagi berbicara diri sendiri. Ada bayi kecil yang menjadi tanggung jawab kita untuk seterusnya. Tak hanya fisik yang bekerja, mental rasanya dihajar habis-habisan ditambah dengan ketidakmampuan yang dibarengi dengan segala ketidaktahuan menjadi ibu. Segalanya yang serba ‘baru’ memberi pemahaman bahwa kini telah dilahirkan menjadi ibu.
Seiring tumbuh kembang sang anak, membandingkan satu anak dengan anak yang lain menjadi sebuah obrolan menyakitkan bagi semua ibu. Berat badan menjadi tolak ukur sepenuhnya atas keberhasilan sang ibu di hari-hari merawat. Bila sang anak terlihat bulat menggemaskan maka sudah dipastikan bahwa perjuangan sang ibu tidak ada salahnya. Sangat-sangat dinilai sempurna. Berbanding sebaliknya, bila sang anak terlihat tak sesuai harapan mereka, ibunya kemudian yang menjadi ‘santapan’ hangat.
Suara tuntutan menjadi ibu sempurna terdengar sangat menyebalkan, bising di telinga tapi mau tak mau itu terus berdatangan silih berganti, salah sedikit saja, berbagai macam ‘tuduhan’ terus disematkan. Sebagai ibu baru mustahil rasanya semua dapat berjalan layaknya air mengalir deras tanpa ada hambatan. Ketidaktahuan kita merawat anak, tak sedikit yang menyebut kita belum siap sepenuhnya menjadi seorang ibu. Tuntutan gelar ibu sempurna rasa-rasanya masih menjadi hal lumrah di kalangan masyarakat kita. Padahal sekali lagi, kita adalah ibu baru yang sepenuhnya masih perlu belajar.
Pada akhirnya terlalu banyak mendengar masukan bukan justru merecharge energi, yang ada justru malah berbanding terbalik, tubuh bertambah lelah dan pusing mendengar cacian berkedok nasihat. Tanpa sadar, mempercayai banyak hal yang bersumber dari ‘katanya’ ternyata membawa beban dan tekanan bagi sang ibu. Mereka dipaksa untuk mendengar dan melaksanakan, sampai lupa bahwa kita sebagai ibu baru yang masih berproses punya hak untuk memilah dan memilih demi ketenangan hati. Ibu baru butuh dukungan bukan cacian, ibu baru butuh cinta bukan serangan, mereka butuh semangat bukan dihujat.
Bila boleh, kita ingin berhenti sejenak dari segala hiruk pikuk kegiatan bersama anak, meletakkan segala kepenatan yang tak kunjung henti untuk sementara waktu, berdiam diri tanpa memikirkan apapun yang tengah terjadi. Tak jarang penyesalan datang menyapa, terlintas keinginan untuk kembali di masa awal sebelum kita memulai semua ini. Bisa jadi keinginan itu terwujud, tapi ibu tetaplah ibu seluruh hatinya akan tetap terpaut untuk anak, berhenti bukanlah solusi tetap melanjutkan dengan ribuan pembelajaran ke depan.
Kita punya jatah untuk menangis, kita punya jatah mengakui segala lelah di hari-hari bersama anak. Tumpahan deras air mata ibu bukan sebuah kelemahan, lelahnya ibu bukan sebuah aib yang harus kita tepis. Pada dasarnya, setiap pembelajar akan ada berada pada titik yang terendah, semangat yang naik-turun adalah bagian dari perjalanan.
Jelas di sini, bahwa menjadi ibu yang dilahirkan tak hanya butuh belajar menyelami berbagai macam ilmu. Tapi juga perlu melatih mental agar siap mendapat ‘stigma’ apapun. Menjadi ibu baru adalah anugerah, untuk diri dan anak kita. Selamanya dan seterusnya kita akan terus belajar menjadi ibu bahkan dari hal paling terkecil yang terkadang tak pernah lewat di benak kita. Tidak ada gagal yang ada hanyalah terus memperbaiki. Gelar ibu sempurna adalah omong kosong, yang ada hanyalah ibu bahagia. Semestinya sesama perempuan kita paham, bahwa menjadi ibu tidak akan pernah ada titik akhirnya, sampai anak beranjak dewasa dan harus meninggalkan rumah sekalipun kita tetap ibu, ibu yang terus belajar kini, nanti dan selamanya.
Sedang menempuh studi magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
