19 tahun sudah aku beteman dengan kepura-puraan
Rentetan tanya menyelaksa di setiap ruang jiwa
Karena kata tak berani tampil mencari jawabannya
Yang terisisa hanya ruang kosong tanpa suara
Menanyakan pada diri sendiri
Bak bicara dalam hati
Yang terus menyayat batin dengan duri
Karena tidak akan pernah ada arti
Berpura-pura untuk tertawa adalah hal biasa
Sunyi sepi sudah jadi realita
Namun selalu tertutup kepalsuan belaka
Adakah yang tau apa penyebabnya?
Ibu, ada apakah di balik tabir bahagia itu?
Tolong bicaralah tentang nya padauk
Aku ingin tau, seperti apa dia yang ku rindu?
Karena jujur, aku ingin bertemu
Ibu, maaf jika ini menyakitimu
Dengan mengulik masa lalu kelam itu
Semoga tak seperti menaburi garam di lukamu
Karena sudah cukup belenggu lara itu meyiksamu
Tapi aku hanya ingin sekedar tau
Bagimana rupa nya? Adakah aku mirip dengan nya?
Seperti apakah dulu dia menyanyangiku?
Apakah dia adalah Ayah yang baik waktu itu?
Terlepas dari kebencianmu
Aku percaya itu
Pasti ada dulu yang indah
Sebelum sekarang yang susah
Ceritakanlah Bu! Jujurlah padaku!
Karena kalimatmu
Dia tidak akan selamanya asing bagiku
Mulailah untuk bicara Bu!
Jawablah semua itu demi aku
Sudah cukup rentetan tanya itu menyiksaku
Bicaralah! Itu salah satu cara
Agar aku mengenalnya meski lewat cerita
Mahasiswa Ilmu Komunikasi di UINSA Surabaya
