Menikah muda, tanpa pacaran. Itulah keputusan seorang teman tiga puluh empat tahun yang lalu. Sayang, rumah tangganya berantakan setelah lebih dari dua puluh tahun. Bahkan sudah merayakan kawin perak.
Kok bisa? Entahlah, karena selama ini tidak pernah terdengar ada masalah apapun. Adem ayem. Dengan alasan menjaga nama baik suami, banyak keluarga memilih menyimpan rapat-rapat masalah rumah tangganya. Tak ada yang percaya ketika berhembus kabar perceraian mereka, meskipun itulah kenyataannya. Seperti gunung berapi yang menyimpan magma bertahun-tahun, kemudian, ‘duaarr’, meletus dengan dahsyat.
Walaupun menikah itu membuat hati berbunga-bunga, tapi menyatukan dua pikiran yang berbeda menjadikan perjalanan pernikahan tidak semulus jalan tol. Ada riak-riak kecil yang mengganggu. Sayangnya, dalam rumah tangga adanya gejolak ini sering dianggap sesuatu yang wajar. Nanti juga reda sendiri. Padahal tidak.
Maka sekecil apapun konfliknya, harus segera diatasi. Rasa ragu serta enggan untuk saling bicara, membuat permasalahan seringkali didiamkan dan dipendam dalam hati. Bahkan banyak pasangan memilih menghindar dan meninggalkan rumah.
Keadaan seperti ini dapat memburuk dan menjadi pemicu keretakan rumah tangga yang tidak bisa terkendalikan lagi. Semakin cepat duduk bersama untuk berdiskusi meluruskan masalah tanpa emosi yang meledak-ledak, akan semakin dekat menuju titik temu.
*
Semboyan “lebih baik mencegah daripada mengobati” rasanya tepat bila dialamatkan kepada calon suami istri yang mau belajar tentang pernikahan sebelum mengikat janji suci. Mengenali berbagai permasalahan yang mungkin timbul dan cara mengatasinya diharapkan mampu memperkecil angka perceraian.
Karena sejatinya, membangun keluarga membutuhkan kerja sama yang kompak, saling menghargai, bahu membahu dalam mengatasi setiap masalah yang timbul.
Untuk meminimalkan terjadinya perselisihan dalam rumah tangga, sebaiknya calon pasangan mengetahui apa yang menjadi tugas masing-masing dan tugas bersama. Sebagai umat Islam, jelas panduannya adalah Al-Qur’an dan hadis. Akan tetapi, harus diingat bahwa panduan ini digunakan untuk meng-upgrade diri menjadi lebih baik. Bukan menjudge pasanganlah yang bersalah karena tidak sesuai dengan panduan.
Maksudnya bagaimana sih? Pernah membaca hadis “Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain, tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” kan?
Hadis ini lebih tertuju kepada para perempuan agar taat dan patuh kepada suaminya. Namun bukan sebagai senjata para suami untuk menyalahkan istri ketika merasa sang istri tidak mentaatinya. Jika yang terjadi seperti ini, bisa jadi bahwa suami bersifat arogan terhadap pasangannya.
Atau hadis lainnya, “maafkanlah dia dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali”. Hadis ini tertuju kepada para suami agar bersikap sabar tanpa batas dalam menghadapi tingkah laku istri yang berlebih dan mengganggunya.
*
Dalam sehari semalam, suami dan istri akan berinteraksi bersama-sama selama kurang lebih sepuluh jam. Karena empat belas jam terpakai untuk tidur dan berkerja. Seandainya hadis ini menjadi senjata untuk mengganggu suaminya, itu berarti setiap sembilan menit sekali istri mengganggu kesabaran suami. Alamak!
Oleh karena itu, jika sesekali istri mengganggu, maafkanlah. Ingat, batasannya sampai tujuh puluh kali sehari. Dan satu lagi, “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.
Namun demikian, kadang ujian dalam rumah tangga tetap terjadi. Ketika keadaan ini melanda, jangan pernah pergi dari rumah. Baik itu istri apalagi suami. Masalah perlu diselesaikan, bukan ditinggal pergi. Bagi suami, meskipun pergi meninggalkan rumah diperbolehkan, tapi berapa lama dan bagaimana dengan kewajiban nafkah serta perasaan istri? Selain itu meninggalkan rumah memperlihatkan sikap pengecut dan kurang dewasa karena menghindari masalah.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita”. “Saling menasihatilah untuk berbuat baik kepada perempuan karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.”
*
Sebagai pemimpin, seorang suami harus bisa membimbing istrinya dengan baik, sabar, dan bijak. Tanpa kebaikan, kesabaran, dan kebijakan, istri akan mudah terluka dan menjadi dingin bahkan mati hatinya. Jika ini terjadi, jangan pernah berharap pernikahan dapat diselamatkan.
Ketika badai menerpa kehidupan rumah tangga dan kepala tak lagi dingin, jangan menolak bantuan dari luar. Allah berjanji akan memberikan taufik kepada pasangan suami istri jika dengan saling tolong menolong, dan benar-benar ingin memperbaiki; bukannya memperkeruh keadaan. Allah selalu menyediakan jalan keluar terbaik bagi pasangan yang ingin bersama-sama mempertahankan keutuhan rumah tangga.
Siapa pun pasti pernah mengalami badai dalam rumah tangga. Jadi, jangan cepat menyerah dan tergesa-gesa memutuskan untuk bercerai. Membangun keluarga yang tenteram dan bahagia membutuhkan kerja sama tim (suami dan istri) yang kokoh, penuh perjuangan, toleransi dan pantang menyerah. Selalu berdoa memohon perlindungan-Nya adalah sebuah kewajiban.
