Hari ini adalah hari keenam belas di bulan Ramadan tahun 2021. Anda masih berpuasa? Alhamdulillah.
Bulan puasa seperti ini, hal pertama yang menjadi top rank isi kepala sebagian para emak adalah masak memasak. Azan Maghrib sebagai tanda berbuka puasa baru terdengar kurang lebih pukul 17.30, tetapi sebagian para emak pasti sudah riweuh searching menu dan persiapan masak sejak selesai sahur. Kok bisa? Iyalah, karena tukang sayur datang pukul 7 pagi, jadi gambaran menu berbuka hari ini dan sahur untuk esok hari sudah harus terplaning dengan matang. Jangan sampai ya, rencana membuat sayur sop jadi ambyar gara-gara kehabisan lada.
Emang salah ya, perubahan rencana mendadak? Nggak kok. Hanya saja, merubah satu menu masakan akan berdampak ke menu yang lain. Ketika tercetus menu sayur sop, pasti pilihan menu pendampingnya adalah perkedel, tahu tempe goreng, ayam goreng, sambal kecap dan krupuk udang.
Ketika tiba-tiba tak diketemukan lada, dan akhirnya sayur sop harus bertransformasi menjadi sayur bening, otomatis menu pendamping juga ikut berubah. Bukankah sayur bening lebih pas bersanding dengan penyetan lele, tahu, tempe beserta sambal terasi dan lalap komplit.
Jangan sampai ya, hanya gara-gara lada, rencana menu masakan yang sudah tersusun rapi di kepala jadi ambyar. Karena biasanya satu ke”ambyar”an akan disusul dengan ambyar-ambyar yang lain. Mood menjadi down, berujung beli ke warung.
***
Beberapa hari yang lalu saya juga mengalami hal yang sama seperti ini. Waktu itu saya berpikir untuk menghidangkan soto untuk makan siang, tetapi apa daya bumbu dapur tidak komplit. Tetapi, karena pada saat itu saya kekeuh pada rencana awal untuk menghidangkan soto, no matter what. Akhirnya masak lauknya aja, sayurnya delivery order.
Saya berpikir setelah mengambil keputusan delivery order, persoalan soto selesai sampai di sini. Ternyata tidak. Anak-anak tidak terlalu suka rasa soto yang beli jadi tadi. Akhirnya si soto dibiarin saja, anak-anak lebih memilih makan lauk seadanya dengan cocolan kecap dan saus yang memang selalu ada di meja makan.
Di sini saya tersadar betapa pentingnya merencanakan segala sesuatu dengan matang sebelum pelaksanaan eksekusi terakhir. Mendata dengan detail segala persiapan dan pernak-pernik yang mungkin diperlukan. Dan, tak lupa mempersiapkan back up plan, sebagai antisipasi ketika rencana utama ternyata gagal untuk direalisasikan. Paling tidak, meminimalkan kemungkinan gagal total.
Saya ingat, pernah membaca sebuah artikel tentang prinsip hidup artis multitalenta Agnes Monica. Salah satu dari 3 prinsip hidupnya adalah “If you fail to plan, you plan to fail”. Agnes percaya dengan perencanaan dan sesuatu yang berjalan sistematis. Tetapi di lain pihak, Agnes juga percaya dengan segala sesuatu yang bersifat spontanitas.
Pada saat diminta menyanyikan lagu urban, Agnes mempersiapkan dengan detail segala printilan yang mendukung aksi panggung bertema urban. Sehingga aksi panggungnya benar-benar totalitas dan mampu menghipnotis penonton. Tetapi, pada saat yang sama, tidak menutup kemungkin tiba-tiba diminta untuk menyanyikan lagu balad. Maka Agnes pun harus prepare dengan stage action dan vocal baladnya. Sosok Agnes selalu siap dengan segala situasi.
***
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya hal tersebut tak hanya terjadi pada sosok fenomenal seperti Agnes Monica. Sebagia ara emak berdaster pun telah melakukan hal yang sama. Ketika telah merencanakan untuk keluar rumah, jauh-jauh hari sudah pasti menata dengan rapi jadwal kerjaan harian rumah.
Jadi ketika hari-H hendak pergi, tak lagi pusing dengan cucian yang menumpuk atau kaca rumah yang harusnya terjadwal perlu kita bersihkan. Segala bekal dari makanan, baju ganti anak-anak, P3K, sampai dengan hal remeh semacam sunglasses dan payung pasti sudah siap. Jadi jangan heran kalau emak keluar rumah, bawaannya bisa melebihi stok belanjaan bulanan.
Dan ternyata, persiapan matang yang dilakukan oleh para emak tak hanya ketika hendak pergi saja. Seperti hari ini, sebelum sahur tadi saya sempatkan membuka chat WA. Ada chat dari tetangga yang ikut menjahit di usaha konveksi adik saya. “Bu, hari ini ada jahitan ‘gak?” begitu pembukaan chatnya.
Saya mengiyakan karena memang jahitan yang harus diselesaikannya sudah siap di rumah saya. “Oke, Bu. Nantijam 6 aku ambil. Ini masih mau beres-beres dan nyuci dulu, jadi ntar bisa full jahit, nggak mikir cucian dan kerjaan rumah lagi” tutupnya di chat.
See? Bahkan untuk sekedar mengerjakan rutinitas harian, ternyata tanpa sadar kita telah menyusun sebuah pengaturan dan persiapan agar semua berjalan lebih efisien dan mendapatkan hasil sesuai harapan.
Jadi, mengapa hal seperti ini tak kita biasakan ketika menghadapi momen atau suatu hal yang lebih penting. Tapi, begitulah kita. Terkadang mengacuhkan suatu hal yang krusial tetapi menganggap penting suatu hal yang remeh.
***
Mempercayai dua hal yang bertentangan sekaligus, terdengar aneh. Tapi itulah yang terjadi dalam hidup. Seringkali kita harus berada pada dua sisi yang berbeda, dan harus bisa menyesuaikan diri dengan cepat dengan perbedaan-perbedaan yang cepat juga berganti.
Ketika berangkat kerja cuaca cerah, matahari bersinar terang benderang. Tak menutup kemungkinan ketika sore hari perjalanan pulang kerja tiba-tiba hujan turun dengan deras. Apakah kita lantas menyalahkan langit yang tak memberikan notice terlebih dahulu sebelum menurunkan hujan?
Maka perlu keterampilan yang harus dilatih berulang-ulang untuk selalu siap menghadapi segala perubahan. Melatih diri untuk selalu merangkai ulang setiap rencana dengan matang, dan tak lupa mempersiapkan deretan rencana cadangan untuk menghadapi segala ‘insiden’ yang mungkin kita hadapi.
Tak ada yang pernah berharap akan bertemu dengan kendala, tetapi sedia payung sebelum hujan, akan lebih baik daripada nekat basah-basahan dan akhirnya membuat kita jatuh sakit.
Jadi, moms and dad. Sudahkah anda mengatur menu hari ini? Bagaimana jika ternyata tukang sayur memutuskan untuk tidak jualan hari ini? ha ha. Have a nice cooking.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
