Mendidik anak-anak autis bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan karena selain membutuhkan keseriusan juga membutuhkan kesabaran. Begitulah Nining Honijah yang memiliki panggilan Bunda Bening Selaksa Hati memilih tantangan itu. “Saya berharap Allah meridhoi apa yang saya lakukan selama ini dan semuanya menjadi ladang amal bagi saya,” terangnya dalam sebuah kesempatan kepada penulis.
Austisme sendiri adalah gangguan perkembangan otak yang serius dan sangat komplek yang mengganggu kemampuan bahasa, komunikasi dan interaksi dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya. Hal tersebut menimbulkan gangguan perilaku yang buruk serta emosi yang tidak terkendali pada saat anak menginjak remaja/dewasa bila tidak tertangani sejak dini. Kondisi ini jelas baginya merupakan tantangan tersendiri yang mesti terlalui dengan penuh keikhlasan agar menghasilkan pahala.
Karenanya dengan melihat kondisi seperti ini makanya beliau dengan pengetahuan yang ada serta meraba-raba bagaimana cara menangani anak autis ini. Akhirnya ia memulai sentuhan terapinya kepada anak-anak penyandang autis ini. Semua itu bermula pada tahun 2001 dengan membuka pusat terapi namun khusus untuk penyandang autis usia 10 tahun ke bawah. “Hal ini saya lakukan setelah saya sadar dari koma akibat terjatuh karena darah rendah. Justru dalam ingatan saya saat itu yang mengajak pulang adalah anak autis yang saya asuh. Nah ketika saya sembuh saya kemudian berazam di kesempatan kedua hidup saya selama hidup akan saya baktikan kepada anak-anak autis ini,” terangnya mengungkap alasannya peduli kepada anak-anak autis ini.
***
Semua ia lakukan secara otodidak karena saat itu pengetahuan tentang autisme sendiri sangat terbatas. Ia belajar kepada orang-orang yang terlebih dahulu menangani anak-anak autis ini juga belajar melalui buku atau sumber-sumber lainnya. Dalam hal ini baginya tak ada kata menyerah. Lambat laun dari apa yang ia pelajari mampu mengelola anak-anak autis ini dan perlahan tapi pasti mampu mengeluarkan mereka dari keaustikannya ini.
Tahun 2009 mencoba pindah ke Jatinangor dan fokus mendirikan pusat terapi dan menerima pengasuhan selama 24 jam seraya melakukan observasi. Mengapa anak-anak autis ini mengalami regresi pada usia remajanya. Namun kegiatan itu mendapat penentangan dari warga karena merasa keberatan. Terlebih pemilik kontrakan pun tak memberi kesempatan rumahnya di kontrak lagi. Baginya hal ini memang tidak mudah, tetapi ia sadar jika sebuah perjuangan tentu harus siap dengan segala pengorbanannya.
Bunda Bening ini merasa semua itu adalah takdir Allah yang menetapkan hatinya dan juga hati keluarganya dengan memilih jalan ini untuk memanfaatkan agar bisa berkhidmat kepada anak-anak penyandang autis sepanjang hidup dan berharap jalan ini bisa berlanjut oleh anak cucunya. Dia menyadari jika tak ada yang terjun dan mau peduli dengan anak-anak autis ini maka bagaimana kehidupan mereka selanjutnya. “Mereka adalah amanat Allah, dan selain orangtuanya sebagai manusia saya pun mesti turut bertanggung jawab untuk mendidik mereka,” ungkap nenek yang memiliki lima cucu ini.
***
Demi tercapainya penanganan anak-anak autis ini secara optimal makanya perempuan yang lahir 6 September 1970 ini maka ia pun membuat komitmen kepada suami dan juga anak-anaknya. Sebab menangani anak-anak autis berbeda dengan menangani anak didik biasa bahkan waktunya harus tersita kalau ada masalah menimpa. Tetapi untuk urusan rumah tangga selalu utama karena dua-duanya wajib pula sehingga tidak terjadi ketimpangan.
Adanya sekolah Autisma Bening Selaksa Hati ini hadir dengan segala keterbatasannya. Semua hadir semata-mata atas kebesaran Allah dan dukungan dari berbagai pihak yang peduli dengan kondisi anak-anak autis ini. Sementara praktik pendidikannya adalah menduplikasi pola hidup anak normal dari bangun tidur sampai bangun lagi. Hanya yang membedakan adalah metode pembelajaran dan pengasuhan yang menerapkan metode bantuan dan bimbingan serta reward dalam setiap tahapannya. Juga terapi di laur sekolah pun sangat penting untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam pencapaian perkembangan berbagai hal sesuai harapan.
Anak-anak autis ini sendiri mendapat pendidikan agama dengan melakukan pembiasaan seperti berdoa atau melakukan Shalat. Namun menurut istri Aris Rohana ini dalam menanamkan nilai-nilai agama tersebut membutuhkan waktu lama daripada anak-anak normal pada umumnya. Namun agar anak-anak autis ini mampu bersosialisasi maka mereka memperoleh bekal rasa kepercayaan diri secara utuh sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan siapapun termasuk warga di sekitar sekolah. Terlepas masyarakatnya sendiri mau terima atau tidak, itu urusan belakangan. Namun pihaknya tetap tidak memaksa mereka menerima anak-anak autis ini. Tetapi yang terpenting kesadaran sebab anak-anak autis adalah amanah Allah yang layak mendapat kesempatan hidup.
***
Anak-anak autis yang saat ini terbina jumlahnya ada 78 siswa dan yang berada di asrama 64 siswa. Sisanya pulang kerena tempat tinggal mereka di wilayah Kabupaten Bandung. Keberadaan sekolah saat ini di Kampung Cibeet Hilir RT 05/13 Desa Cileunyi Wetan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung terus disempurnakan yang baru mendapat izin operasional tahun 2013. Untuk pembiayaan sekolah dibedakan menjadi tiga. Pertama, mereka yang bisa bayar penuh. Kedua, mereka yang mampu bayar sesuai kemampuan dan ketiga, yang dibebaskan karena tidak memiliki keluarga lagi. Jadi ada semacam subisidi silang. Sekolah ini berada di bawah Yayasan Bani Enim.
Perempuan yang memiliki 4 orang anak ini merasa bangga bsia bersama dengan para ahli surga yang lurus hatinya terlebih kini banyak pihak yang membantunya termasuk para donatur yang selalu memberikan bantuan. Kini perjuangannya tidak sia-sia karena sudah punya lahan wakaf yang dari seorang donatur bernama Itang Hidayat seluas 1470 m2 untuk sekolah dan asrama, sebidang sawah 2284 m2 untuk kebutuhan makan anak yatim piatu serta sebuah rumah untuk asrama anak autis yatim piatu. Saat ini sedang dibangun gedung untuk sekolah bantuan dari BJB dan Pertamina.
Tentu saja perjuangannya masih panjang dan tak berhenti di situ saja. Semoga perjuangannnya tidak sia-sia dan semuanya mendapat ridho dari Allah SWT.***
Penulis adalah bapak dari tiga orang anak yang terbiasa menulis segala hal dan dengan segala nikmat yang ada merasa betah tinggal di Kota Bandung
