Media sosial mempengaruhi hampir keseluruhan hidup kita. Setiap waktu ada informasi yang dikonsumsi terus menerus. Media sosial seperti Instagram, Tiktok, X, Facebook, dan Youtube menggunakan algoritma sebagai pemberi preferensi konten yang seseorang pilih. Dengan algoritma, kita disuguhi topik sama dan berulang. Lama kelamaan konten apa yang kita lihat menjadi hal yang diyakini. Standar penilaian terhadap sesuatu menjadi berganti sesuai dengan apa yang dilihat sehari-hari. Hal ini membawa pengaruh positif sekaligus negatif bagi individu.
Sisi Gelap Algoritma: Serangan Fear of Missing Out (FOMO) pada First Time Mother.
Sebagai seorang perempuan, menjadi first time mother merupakan babak baru peralihan dari peran sebagai istri menjadi seorang Ibu. Peralihan peran ini membawa para first time mother pada pencarian informasi-informasi yang berkaitan dengan dunia parenting khususnya tentang topik pengasuhan anak. Di era digital, media sosial menjadi salah satu perantara seseorang mendapatkan informasi-informasi tersebut.
Durasi untuk berinteraksi dengan media sosial semakin intens untuk mendapatkan berbagai informasi. Seringkali membludaknya informasi tentang parenting membuat first time mother merasa overwhelmed. Dari banyaknya informasi itu semua orang bisa beropini tentang parenting terlepas dari latar belakang pendidikan, profesi, dan keahlian.
Perbedaan gaya pengasuhan turut menyumbang terciptanya social comparison (perbandingan sosial) antara satu Ibu dengan Ibu lainnya. Resiko-resiko seorang first time mother mengalami baby blues atau postpartum menjadi semakin besar dengan membandingkan dirinya di media sosial ini. Ketika social comparison tidak diregulasi dengan baik oleh seseorang, akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental.
Seringkali kita sebagai masyarakat digital disuguhi tontonan yang begitu ideal. Kebahagiaan perempuan pasca melahirkan yang terlihat di layar gawai berisi konten-konten roman, seperti momen istri melahirkan yang sangat ‘diratukan’ oleh suaminya, entah diperlakukan spesial dalam bentuk materi maupun kasih sayang. Terlihat bahagia. Momen itu didokumentasikan dengan baik, lalu diunggah di media sosial.
Konten tersebut menjadi `standar baru kebahagiaan` bagi masyarakat khususnya bagi first time mother. Standar baru itu menghegemoni pikiran seseorang untuk berperilaku sama. Dampak lanjutannya, seseorang tidak ingin merasa ketinggalan oleh momen bahagia seperti penggambaran media sosial tersebut. Tidak ingin tertinggal dengan orang lain merupakan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang sedang menjangkiti masyarakat digital saat ini.
Padahal ada realitas lain yang tidak bisa dilihat melalui media sosial dalam konteks pengalaman menjadi first time mother, seperti lelahnya begadang mengasuh newborn, ketidaktahuan dalam mengasuh anak, beradaptasi dengan peran baru yang mungkin diselimuti tangis pilu. Kondisi demikian yang tidak terekspos di media sosial.
Seringkali kita dipertontonkan oleh sepersekian persen kehidupan orang lain yang tampak baik. ‘Sepersekian’ karena kita tidak pernah mengetahui 100% kehidupan orang lain melalui media sosialnya. Konten-konten roman yang membentuk standar baru itu merupakan kondisi ideal yang tidak harus menjadi impian semua orang.
Melepas Belenggu Standardisasi Media Sosial
Ketika seseorang melihat unggahan-unggahan di media sosial, mereka cenderung menerima apa yang terlihat tanpa mempertimbangkan keadaan sebenarnya. Fenomena ini menciptakan dunia yang terjebak dalam hiperrealitas, di mana tanda dan citra yang dihasilkan di media sosial lebih nyata dibandingkan dengan realitas sehari-hari.
Gaya hidup, citra, dan personal branding yang selama ini ditampilkan melalui media sosial dipandang begitu indah oleh para penggunanya. Padahal kenyataannya tidak semua yang ditampilkan tersebut merupakan realitas sebenarnya. Keindahan yang diperoleh dalam dunia maya tersebut mungkin saja berbanding terbalik dengan kondisi dunia nyata. Akibatnya, dia akan lebih memilih kehidupan di dunia mayanya ketimbang kehidupan sosialnya.
Di era hiperealitas ini kemampuan beradaptasi menjadikebutuhan dasar masyarakat digital. Ada istilah populer agar kita bisa beradaptasi dengan dunia hiperrealitas, antitesis dari FOMO yaitu JOMO (Joy of Missing Out), perasaan senang karena tidak mengikuti sesuatu. Agar bisa sampai pada tahap JOMO, seseorang perlu beberapa tahapan penting untuk diinternalisasikan.
Pertama, pahami cara kerja media sosial. Cara kerjanya menampilkan hal-hal yang sifatnya algoritmik. Algoritma membawa kita masuk ke dalam eco chamber, di mana apa yang kita lihat bisa membentuk perspektif dan pilihan kita. Pengaruh eco chamber seperti dua sisi mata uang, negatif dan positif dalam satu paket. Di satu sisi, kita disuguhkan konten yang memang disukai, di sisi lain menciptakan efek FOMO dengan hidup orang lain.
Kedua, memiliki kemampuan menyaring dan mengolah informasi yang didapat dengan baik. Di tengah membludaknya informasi terkait parenting, first time mother juga perlu memiliki kemampuan menyaring informasi agar terhindar dari informasi hoax dan mitos. Mitos-mitos tentang parenting yang seringkali bertentangan dengan kedokteran akan membingungkan first time mother dalam mengasuh anak.
Ketiga, hal terpenting yang bisa dilakukan agar tidak terbelenggu oleh realitas semu adalah dengan membuat standar hidup sendiri. Dimulai dengan mengafirmasi diri sendiri, bahwa bukan suatu masalah jika memiliki kehidupan yang berbeda dengan standar media sosial. Ciptakan definisi hidupmu sendiri. Jangan sampai definisimu dikendalikan oleh ‘standar’ media sosial. Selain itu, juga perlunya kita
membuka diri dengan sudut pandang baru dan berbeda dari mindset kebanyakan orang. Menyadari bagaimana cara media sosial bekerja, kemampuan menyaring mana realitas nyata dan semu, dan memiliki standar hidup sendiri menjadi kunci waras hidupnya masyarakat digital. Semoga dengan munculnya teknologi digital ini bisa menambah ekosistem digital positif, sehingga JOMO tercipta dan terhindar dari tren FOMO
Mahasiswi Sosiologi UGM
