Jika mendengar kata wonder woman, sudah tentu yang terbayang adalah jagoan wanita terkuat dari karakter superhero DC. Karakter rekaan yang tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki kecerdasan dan wibawa di atas rata-rata. Tokoh wonder woman dalam komik maupun film ini tergambarkan sebagai sosok yang seksi. Namun, pernahkah terbayang sosoknya dalam balutan kain kerudung dan baju tradisional Indonesia?
Ialah Sultanah Safiatuddin. Muslimah dari tanah Indonesia yang sangat pantas mendapat julukan wonder woman. Tidak hanya karena karir cemerlangnya sebagai muslimah, tetapi juga sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sultanah Safiatuddin atau yang memiliki nama asli Putri Seri Alam merupakan istri dari Iskandar Tsani, seorang pangeran dari kerajaan Pahang; ditunjuk untukmenggantikan raja legendaris kerajaan Aceh. Iskandar Muda, ayah dari Putri Seri Alam atau yang kemudian mendapat julukan Sultanah Safiatuddin
Putri Seri Alam naik tahta sepeninggalan Iskandar Tsani pada tahun 1641. Sang raja meninggal dalam keadaan yang tidak memiliki putra maupun putri. Saudara-saudara dari Iskandar Tsani pun tidak dapat dipertimbangkan untuk menggantikan posisinya karena nasab mereka yang berasal dari kerajaan Pahang.
Para tokoh pribumi Aceh khawatir bila nantinya kerajaan Aceh akan diambil alih oleh penguasa dari kerajaan Melayu seperti Johor, Perak, atau Pahang.
Dalam pengangkatan Putri Seri Alam sebagai sultan, terdapat pertentangan dari setidaknya 300 tokoh. Mereka menentang keabsahan seorang perempuan memimpin kerajaan. Namun, Nurudin Ar-Raniry, salah satu ulama terkemuka pada masa itu, mengemukakan pendapat bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin apabila memenuhi kualitas, seperti amanah, adil, dan luas ilmunya. Tentu saja semua hal ini sudah ada dalam diri Putri Seri Alam. Dengan itu, maka Putri Seri Alam naik tahta dan mendapat gelar Tajul Alam Syafiatuddin Syah.
Berbeda dari ayahnya yang gemar berperang dan ahli militer, Sultanah Safiatuddin merupakan ahli diplomasi yang tidak suka berperang. Ia membangun aliansi dan mencari dukungan untuk menghalau ancaman-ancaman terhadap kerajaan Aceh.
Kelihaian berdiplomasi dari Sultanah Safiatuddin ini sampai ke negara-negara Eropa seperti Portugis, Inggris, Spanyol, dan Turki Utsmani. Berkatnya, Aceh selamat dari rong-rongan kolonialis selama masa kepemimpinannya, 34 tahun.
Meskipun tidak suka berperang, dalam sejumlah kesempatan Sultanah juga mengambil jalan ini untuk menegaskan wilayah kekuasaannya. Di antaranya yaitu dalam memerangi VOC di Perak dan pantai barat Sumatra.
Sultanah Safiatuddin juga dikenal sebagai orang yang mendukung kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan.
Sejarah mencatat bahwa ia telah memajukan Masjid Jami’ Baiturrahman dan pesantren-pesantren di Kerajaan Aceh. Dengan bantuan Ar-Raniry dan Abdurrauf Singkil sebagai mufti kerajaan, Sultanah dikenal sebagai pemimpin yang adil dan cerdas. Terhadap penentangnya, ia mengizinkan mereka pindah dari Aceh dan mendirikan pesantren. Contohnya Syekh Abdul Wahhab yang diizinkan hijrah ke Tiro dan mendirikan pesantren di sana.
Pada masa kepemimpinannya, Sultanah Safiatuddin juga mendorong para ulama untuk menulis karya-karya yang masih digunakan sebagai rujukan hingga saat ini. Misalnya Syekh Ar-Raniry yang menuliskan kitab Hidayatul Iman bi Fadhlil Manan dalam Bahasa Melayu atas permintaan Sultanah. Juga Abdurrauf Singkil yang diminta menuliskan Mir’atut Thullab fi tashili Ma’rifatil-Ahkam dan sembilan kitab lain. Sementara Syekh Daud Ar-rumy menuliskan Risalah Masailal Muhtadin li Ikhwanil Mubtadi atas permintaannya pula.
Lembaga pendidikan bagi perempuan yang merupakan kebijakan sultan terdahulu juga dilanjutkan. Hal ini membuka kesempatan bagi para perempuan untuk dapat bekerja di bidang yang memungkinkan, termasuk menjadi bagian dari Balai Majelis Mahkamah Rakyat, lembaga yang setingkat dengan parlemen.
Sebagai seorang muslimah, Sultanah memang tidak dapat memimpin ritual-ritual keagamaan. Namun, ia kerap merujuk dirinya sebagai penegak hukum agama sehingga ia terkenal dengan kesalehannya. Seorang pengelana muslim dari Timur Tengah yang sempat dijamunya, Al Mutawakkil, mengatakan bahwa, “Ia adalah seorang muslimah sempurna yang baik hati dan dermawan. Ia pandai membaca dan menguasai ilmu pengetahuan.”
Pada masa itu, keahlian membaca memang belum umum dimiliki oleh perempuan. Keshalehan Sultanah juga terlihat ketika Bulan Ramadan. Ia selalu memenuhi kewajibannya untuk berpuasa kecuali jika sedang berhalangan. Ia bahkan meminta maaf kepada para tamu karena tidak dapat menyuguhkan makanan atau minuman pada siang hari di bulan suci tersebut.
Sultanah Safiatuddin juga mempraktikkan toleransi antarumat beragama.
Ia mengizinkan sejumah rahib Fransiskan untuk mendirikan gereja guna melayani pemeluk agama katolik di Aceh.
Sultanah Safiatuddin berpulang pada tahun 1675 di usia 63 tahun. Berkat pemerintahannya yang sangat apik, para tokoh pun tidak lagi ragu untuk menunjuk perempuan sebagai penerusnya, yaitu Putri Naqiah.
Nah, dari uraian tersebut, pantaslah bila Sultanah Safiatuddin diberi julukan sebagai wonder woman Muslimah. Seorang perempuan yang berjuang dengan gigih demi bangsa tanpa meninggalkan nilai-nilai agama yang dipegangnya.
Sultanah Safiatuddin tidak hanya seorang raja bagi kerajaan Aceh, tetapi juga pejuang yang telah membantu para perempuan Aceh agar dapat belajar dan bekerja dengan layak.
Dari segi fisik, kebanyakan perempan memang kalah bila dibandingkan dengan laki-laki, tetapi bukan berarti perempuan itu lemah. Kita memiliki banyak kelebihan yang dapat kita asah, yang dapat membantu kita untuk menjadi muslimah yang berguna bagi keluarga, agama, ataupun bangsa kita. Dengan tetap berpegang pada akidah islam, mengutamakan adab, dan fokus pada tujuan, maka tidak mustahil lahirlah Sultanah Safiatuddin era modern ini.
Seorang mahasiswa farmasi dari Klaten, Jawa Tengah yang memiliki hobi menulis sejak di bangku sekolah dasar. Dapat dihubungi melalui Instagram @hsnblqtrnd
