Kajian gender khususnya eksistensi perempuan selalu menjadi wacana menarik untuk kita dalami. Mengutip KH Husain Muhammad, perkembangan kajian ini juga merambah dalam berbagai aspek keagamaan, baik fiqih terlebih tasawuf.
Tasawuf sendiri, mungkin dapat menjadi antitesis terhadap perspektif fiqih yang (dalam beberapa kasus) cenderung memahami feminin dari sudut pandang maskulin. Maka kemudian, tulisan ini mencoba untuk mengupas nafas feminin dalam dunia tasawuf; melalui sudut pandang Annnemarie Schimmel, salah satu sarjana barat terbaik dalam hal kajian sufisme.
Prof Annemarie Schimmel, adalah sedikit dari banyak tokoh oriantalis yang patut untuk diberikan apresiasi terhadap jasanya kepada dunia Islam. Buku-bukunya menjadi jembatan alternatif untuk memahami dunia Timur secara apa adanya. 80 karyanya yang membahas tentang sufisme, sastra, dan kajian agama didedikasikan untuk apa yang ia sebut “menggambarkan sejarah Islam yang benar kepada masyarakat Eropa”
Sosok Prof Annemarie Schimmel
Beliau dilahirkan di Erfurt, Jerman pada 7 April 1922 dari keluarga kalangan menengah. Ayahnya adalah pekerja pos dan ibunya berasal dari keluarga pelayaran. Schimmel tumbuh menghabiskan masa kecilnya dengan mendengarkan puisi dan sastra bersama ayahnya; dia mengingat sang ayah sebagai teman bermain dan membaca.
Pada 1939, usia 17 tahun, ia belajar di Universitas Berlin dan mendapatkan gelar doktor pada usia 19 tahun, dalam bidang Bahasa dan Peradaban Islam. Setelahnya beliau mengajar dan menjadi professor di beberapa kampus seperti; Universitas Bonn, Harvard, Cambridge, dan beberapa universitas di Turki, Iran, Pakistan, dan Afghanistan.
Pada bab terakhir salah satu magnum opus-nya, Mistycal Dimensions of Islam, Schimmel menjabarkan 11 halaman tentang “the feminine element in sufism”. Beliau mengawali tulisannya dengan mengutip syair Sana’i, “seorang wanita saleh lebih baik dari 1000 pria buruk”. Kutipan ini tidak dalam rangka untuk menentukan mana gender yang paling baik, tetapi menjadi kontra narasi terhadap tradisi yang men degradasi derajat perempuan.
Schimmel berkeyakinan, sufisme menjadi perspektif terbaik untuk melihat kemuliaan derajat perempuan di antara cabang Islam yang lain. Rasa simpati nabi kepada para wanita, istri-istri dan keempat anak beliau menjadi fakta yang mendukung tesisnya.
Dalam mazhab Syiah, posisi Sayyidah Fatimah yang teramat mulia juga mengindikasikan kuatnya nafas feminin dalam Islam. Fakta bahwa salah satu tokoh sufi terbesar, Rabiah al-Adawiyah, adalah seorang wanita juga membantu untuk memberikan gambaran bagaimana seorang pecinta yang ideal.
Beberapa kelompok sufi juga memberikan kesempatan kepada perempuan dalam ritual mereka. Beberapa literatur Arab dan Persia juga mencatat nama para sufi wanita yang terkenal karena keutamaan mereka. Bahkan beberapa nama disebutkan mendapat bimbingan oleh Khidir langsung. Rabiah istri Ahmad ibn Abi al Hawari, terkenal karena syair syair sufinya.
Nafs-Nafs Perempuan
Dalam pembahasan yang lebih dalam, Schimmel mengasosiasikan perempuan dengan nafs.Nafs adalah tingkatan jiwa terendah, terdalam dan representasi individual terhadap lingkungannya. Nafs Jiwa yang menggantungkan diri kepada esensi yang lebih rendah (dunia materil) adalah nafs yang tercela.
Adapun jiwa yang melebur jiwanya kepada esensi yang lebih tinggi (Tuhan, intelektual dan ruh) nafs yang terpuji. Maka dari itu Muhyiddin Ibn Arabi memahami gagasan nafs bukan hanya kepada unsur keperempuanan saja tetapi juga merambah esensi Ketuhanan.
Dalam pembahasan yang lebih dalam, Schimmel mengasosiasikan perempuan dengan nafs.Nafs adalah tingkatan jiwa terendah, terdalam dan representasi individual terhadap lingkungannya. Nafs Jiwa yang menggantungkan diri kepada esensi yang lebih rendah (dunia materil) adalah nafs yang tercela.
Adapun jiwa yang melenbur jiwanya kepada esensi yang lebih tinggi (Tuhan, intelektual dan ruh) nafs yang terpuji. Maka dari itu Muhyiddin Ibn Arabi memahami gagasan nafs bukan hanya kepada unsur keperempuanan saja tetapi juga merambah esesnsi Ketuhanan.
Sufi banyak menyajikan sudut pandang yang bersahabat kepada perempuan. Dalam Al-Qur’an, Allah meyajikan banyak ilustrasi yang indah terkait dengan peran wanita dalam kehidupan. Contoh yang paling terkenal adalah bagaimana kisah cinta Zulaikha terhadap Yusuf. Zulaikha menjadi manifestasi terbaik dari keterpesonaan cinta, terhadap keindahan ilahi yang terpancar kepada figur Yusuf. Zulaikha, mengutip Jami’, menjadi simbol siwa yang dimurnikan melalui jalan cinta dan kemiskinan.
Maka kemudian Jami mengutip syair Rabiah dengan begitu indah,
Jika seluruh wanita seperti yang telah kami sebutkan
Niscaya wanita akan lebih diutamakan dari pada laki laki
Maka para wanita tak perlu malu kepada matahari
Mahasiswa Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin Adab & Dakwah, UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Dapat disapa melalui akun Instagram @lhu_pin
