Site icon Inspirasi Muslimah

Angka Pernikahan Semakin Menurun, Benarkah Trauma Menjadi Penyebabnya?

pernikahan

Pernikahan merupakan pengikatan janji suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pernikahan dilakukan untuk memperoleh keturunan. Selain untuk memperoleh keturunan pernikahan juga dilakukan untuk menciptakan kebahagiaan. Untuk menciptakan keluarga yang harmonis, pasangan harus saling mencintai, terbuka, dan berusaha memahami satu sama lain. Meski nantinya akan ada banyak halangan dan cobaan yang dihadapi selama menjalani pernikahan.

Belakangan ini angka pernikahan di Indonesia semakin menurun. Pada tahun 2023 angka pernikahan berada pada titik terendah selama 10 tahun terakhir. Angka pernikahan pada tahun 2023 hanya sebesar 1,5 juta. Pada tahun 2024 angka pernikahan tercatat terus menurun, bukan hanya yang tercatat pada KUA saja tetapi agama lain juga. Apa yang menyebabkan terjadinya penurunan angka pernikahan di Indonesia? Apakah trauma menjadi penyebabnya?

Trauma yang dialami oleh seseorang dapat menjadi salah satu faktor penyebab orang tersebut tidak mau menjalani pernikahan. Trauma pernikahan adalah kondisi di mana seseorang mengalami ketakutan, kecemasan, dan stres yang berhubungan dengan pernikahan. Adapun trauma tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal. Mungkin orang tersebut pernah berada dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship. Mendapat tekanan, mengalami kekerasan, atau menjadi korban perundungan dari lingkungan sekitar. Berada dalam keluarga tidak harmonis dan rumit. Menjadi korban perceraian hingga menimbulkan perselisihan dengan orang tua.

Berada dalam hubungan yang tidak sehat akan menimbulkan trauma tersendiri bagi seseorang. Mereka takut untuk menjalin hubungan kembali dengan seseorang, memiliki kecemasan jika mereka kembali pada hubungan yang tidak sehat. Mengalami dan menerima kekerasan dari pasangan pada saat menjalin hubungan. Melihat orang yang disayangi menerima kekerasan pada saat menjalani suatu hubungan. Pernah menjadi korban pelecehan juga dapat menjadi penyebab terjadinya trauma pada seseorang.

Keluarga yang tidak harmonis dan tidak sempurna atau broken home dapat menimbulkan tekanan tersendiri bagi batin seseorang. Dia merasa bahwa pernikahan hanya membawa petaka dalam suatu hubungan. Ketika seseorang bosan dalam suatu hubungan, orang tersebut akan menjalin hubungan terlarang dengan orang lain atau yang biasa disebut perselingkuhan. Perselingkuhan akan menjadi bencana dalam suatu hubungan pernikahan. Mereka tidak mau itu terjadi kembali di masa depan. Mereka lebih memilih menjalin hubungan tanpa status agar jika suatu saat berada pada fase bosan dalam suatu hubungan tidak akan menimbulkan  masalah serius seperti perceraian. Tidak menikah seumur hidup dari pada menjalani hubungan yang tidak harmonis seperti orang tua mereka dulu menjadi opsi terbaik bagi mereka.

Mereka dapat menjalin hubungan dengan lawan jenis, tetapi ketika akan menginjak ke tahap serius mereka akan merasa cemas dan takut akan hubungan tersebut. Mereka akan mengalami perasaan cemas, panik dan takut ketika ingin membangun sebuah komitmen dengan pasangan. Orang-orang yang mengalami trauma pernikahan biasanya akan menghindari komitmen, menjauhkan diri dari lawan jenis, memutuskan hubungan dengan pasangan dan menghindari kencan. Orang tersebut tidak akan mau menjalani pernikahan, jika dipaksa pun hubungan pernikahan tidak akan berjalan dengan lancar.

Tidak hanya trauma yang menjadi penyebab seseorang tidak mau menjalani pernikahan. Terdapat berbagai faktor lain seperti faktor ekonomi dan karir. Pada zaman sekarang harga kebutuhan pokok semakin tinggi, maka uang yang disiapkan untuk menjalani pernikahan juga semakin banyak. Jika faktor ekonomi tidak mendukung maka akan menimbulkan masalah seperti, kekurangan makanan, tidak mampu membiayai sekolah, kesehatan, dan kebutuhan lainnya. Selain itu, pada saat menjalani upacara pernikahan uang yang diperlukan tidak sedikit. Mahalnya baju pernikahan, rangkaian adat, hingga mahar yang diminta menyebabkan calon laki-laki mundur karena tidak mampu.

Karir yang bagus juga menjadi faktor kuat penyebab turunnya angka pernikahan di Indonesia. Mereka lebih nyaman tanpa pasangan yang mungkin akan mengatur dan menambah beban ekonomi mereka. Gaji yang tinggi menjadi standar dalam mencari pasangan. Mereka tidak mau jika ke depannya sampai terjadi kekurangan finansial. Sebagian orang mencari pasangan yang setara dengan mereka untuk menghindari masalah-masalah yang akan timbul ke depannya. Hal itu menjadikan sebagian orang minder jika ingin mendekati atau menjalin hubungan dengan orang yang tidak setara dengan mereka atau berada di atas mereka dari segi finansial.

Mungkin saja hal tersebut pernah mereka alami dan membuat mereka trauma akan hubungan pernikahan. Trauma tersebut dapat disembuhkan dengan menjalani terapi, pengobatan, dan dukungan dari keluarga dan orang-orang sekitar. Support mereka agar dapat melawan rasa trauma mereka. Membuktikan bahwa tidak semua hubungan pernikahan itu gagal, tergantung pada bagaimana kita menyikapi suatu masalah. Ubah pola fikir jika pernikahan itu menyeramkan. Semakin banyak orang sembuh maka angka pernikahan akan semakin meningkat dan menyelamatkan populasi manusia.

Bagikan
Exit mobile version