Cahaya sang surya begitu menyilaukan pagi ini, lambat laun ia semakin naik. Ini menandakan waktu keberangkatanku yang hanya tinggal hitungan menit saja, pun dengan bunga-bunga dalam pot yang semakin layu dan lesu. Tak kalah pula dengan rerumputan hijau yang juga memucat seolah mereka semua tak menginginkan kepergianku dalam jangka yang lama. Rupanya berat hati meninggalkan kampung yang sejak kecil menjadi tempatku menimba ilmu dan kini harus aku tinggalkan dengan perasaan rela nan rida. Tapi, bukankah ini akan terjadi pada setiap insan? “Menuntut ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat.” Ini adalah salah satu bukti bahwa selagi nyawa masih di kandung badan, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat. Toh nantinya ia akan menjadi khazanah kehidupan yang tidak hanya berbicara tentang ijazah dan sarjana.
“Mak, Izra pamit ya…, Izra minta doanya biar selama belajar di sana diberikan kelancaran dan kemudahan. Jadi pas Izra pulang nanti ilmu itu bermanfaat untuk umat,” pamitku pada mamak sembari mencium tangan mamak. Tak lupa mamak mencium keningku sambil berpesan, “Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya nduk… dan doa mamak selalu terselip untuk kebaikanmu, lakukan yang terbaik selama di sana, jalani, nikmati dan syukuri, karena itu adalah tanda bahwa kamu mensyukuri nikmat-Nya.” Mamak mengucapkannya dengan senyuman tulus penuh kebanggaan. Aku tahu mamak sedih, tapi disembunyikannya dariku agar tidak semakin berkepanjangan tangisan itu mewarnai perpisahan antara aku dan mamak, pandainya mamakku menyembunyikan air mata. “Hmmm, antara aku, mamak dan Kota Istimewa Yogyakarta akan menciptakan kisah tersendiri, penuh sarat dan makna yang akan terabadikan dalam sebagian kecil sejarah perjalanan hidupku mulai saat ini, nanti dan beberapa tahun yang akan datang,” batinku. Perjalananku bersama bapak pun dimulai.
***
“Zra pulang yuk ke asrama…, udah sore nih takutnya Trans Jogja makin penuh, apalagi di halte Malioboro. Zra! Ayo! Jangan bengong terus dong”, ajakan Hanan menyadarkan lamunanku, “hmmm, apa? Gimana Nan? Pulang ya? Ayo ayo…”, jawabku tak beraturan, “nah, kan… makanya jangan ngelamun terus Zra, kesambet loo”, lanjut Hanan sembari beranjak dari bangku, “he…he…”, balasku sambil tersenyum kikuk.
Kami menuju halte tiga Malioboro kemudian membayar tiket dan menunggu Trans Jogja jurusan 3A. Alhamdulillah tak berselang lama bus pun datang. Sore ini Trans Jogja betul-betul full, karena memang ini adalah jam pulang bagi anak-anak sekolah dan para pekerja. Tak dapat dipungkiri kami pun harus rela berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain. “Tak apalah… sesekali”, kata Hanan. Jum’at ini pun berakhir dengan pengembaraan kami di Malioboro. Sekadar berkeliling pasar Beringharjo, cuci mata di mall sembari makan es krim di lantai atas hingga berfoto-foto ria di alun-alun sudah cukup mengisi week end kami setiap hari Jum’at.
Rupanya antara aku, Hanan dan kota Istimewa ini memiliki ikatan tersendiri yang menguatkan, why? Sebab rundungan rindu yang menggelayut hati pada kampung halaman, terutama pada mamak semakin tersamarkan dengan kegiatan asrama yang gembira dan menggembirakan. Pun dengan Kota Istimewa ini yang telah menghipnotis kami untuk betah berlama-lama tinggal di sini, menimba ilmu hingga tampungan yang kami bawa full untuk kemudian dialirkan kembali di kampung halaman kami masing-masing. Kenyataannya merantau ke kota ini mengajarkan banyak hal. Mulai dari memanagemen kiriman dari kampung, fashion sederhana namun tetap berkelas dan menabung. Pun yang tak kalah penting adalah bertambahnya kawan dari berbagai pulau hingga tercipta persaudaraan di antara kami. Belajar memahami berbagai karakter dan mencari solusi dalam memecahkan masalah. So, kita jadi lebih dewasa dengan belajar memaknai hakikat hidup yang sesungguhnya, asal menjalaninya dengan fun dan diniatkan untuk ibadah, maka semuanya akan terasa ringan, bahkan mendapat keridaan dan bonus pahala disisi-Nya. wallahu a’lam
***
Hey kau Yogyakarta, sebuah kota rasa pedesaan, pesonamu tak ubahnya bagaikan surga dunia bagi siapapun yang menginjakkan kaki di tanahmu. Kota yang menjadi saksi bisu torehan sejarah perjuangan para pahlawan, pun menjadi saksi atas perjalananku selama empat tahun ini. Atas keramah-tamahan warganya, kebersahajaan dalam kehidupan rakyatnya dan keunikan khas Yogyakarta yang tanpa disadari menyuguhkan hikmah tersendiri bagi diri. Dan… atas ajaran mamak pula, semua yang kulalui betul-betul membekas dengan amat lekat dalam diri. Tentang kesederhanaan dan kelembutan yang membuatku semakin percaya diri menjalani rutinitas di kota ini.
Hey kau, tak semua orang mendapat kesempatan mengunjungimu. Bahkan untuk sekedar menginjak tanahmu saja mereka harus bermimpi lebih dari sekedar mimpi dalam tidur malamnya, pun demikian yang kurasa dulu, bahwa aku menjadikanmu ada dalam sebagian mimpiku. Maka, aku bersyukur sekarang dapat menikmati pesonamu dengan amat gampang. Terima kasih Kota Istimewa telah menjadikan hidupku lebih berwarna. Karena antara aku, mamak dan kau akan hadir keajaiban besar mulai sekarang, nanti dan selamanya. Terima kasih Rabbi.
Mahasiswi Ulama Tarjih Muhammadiyah. Sapa saja di ig @izra_wijaya dan fb Izza Alfitra
