Masih hangat diperbincangkan khususnya di kalangan mahasiswa perguruan tinggi mengenai kasus pelecehan. Ya, lagi dan lagi kasus ini terjadi di lingkungan perguruan tinggi. Banyak hal yang dapat dikategorikan dalam pelecehan itu sendiri, di antaranya pelecehan verbal dan non-verbal. Di mana pelecehan non-verbal adalah ketika pelaku melakukan hal tersebut secara langsung bersentuhan fisik kepada korbannya di tempat yang sama, dan pelecehan verbal adalah ketika pelaku dan korban pun tidak ada kontak fisik secara langsung namun itu adalah pelecehan. Lalu kapan pelecehan verbal itu terjadi? Ketika seseorang memberikan kata-kata atau tindakan yang memang tidak ada kontak fisik di dalamnya, namun hal tersebut bersifat merendahkan, menghina, atau menggoda ke arah seksual.
Menyedihkan, kata pertama yang keluar ketika penulis mendapati bahwa penulis menjadi salah satu korban dalam hal ini. Merasakan posisi di mana kita adalah korban, namun kita dipaksa bungkam atas ini semua. Untuk apa? Menjaga nama baik lembaga? Menjaga nama baik institusi? Atau menjaga citra baik organisasi? Pertanyaannya adalah, apakah dengan membungkam korban adalah solusi yang terbaik? Lalu apa efek jera bagi pelaku? Untuk apa banyak bicara soal perlindungan perempuan, soal perempuan berdaya, soal kesetaraan gender? Jika masalah seperti ini kalian enggan memberikan simpati kepada korban atau bahkan lebih menyedihkannya adalah meminta korban mengerti posisi si pelaku. Lagi-lagi untuk apa menjaga nama baik pelaku atau embel-embel yang dia bawa? Bukankah seharusnya orang-orang akan takjub ketika suatu organisasi dapat mengupas tuntas kasusnya dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku? Bukan malah meminta korban untuk menunggu teguran-teguran kepada pelaku yang dalam masa itu entah apa yang akan terjadi kepada korban selanjutnya, walaupun diadakan pendampingan.
Memang pada kenyataannya pelecehan yang terjadi akan sulit dibuktikan dan akan menjadi boomerang untuk korban ketika korban berani menyuarakannya dengan bukti yang kurang kuat, katanya. Lalu apakah dengan ‘mempertanyakan ulang’ alias meragukan kesaksian korban terkait kebenaran laporannya juga solusi paling baik? Tentu itu adalah hal bodoh selanjutnya setelah perkara meminta korban untuk menyimpan dulu laporannya atau meminta korban mengerti posisi pelaku dan embel-embel yang di bawanya.
Hastag-hastag bertebaran dengan awal kata ‘percuma lapor’ itu nyata adanya. Penulis akan melantangkan suara: percuma lapor organisasinya! Kenapa? Sudah tentu organisasi tidak mau tercoreng citra baiknya atas perlakuan oknumnya. Namun ketika yang kita bicarakan adalah organisasi pergerakan mahasiswa Islam, apakah pantas oknum di dalamnya menutupi apa yang terjadi kepada oknum lainnya? Meminta korban untuk berpikir panjang tentang dampak yang terjadi ketika kasusnya viral, yang katanya akan merugikan organisasi dan diri korban sendiri karena bukti yang dimiliki dirasa ambigu dan kurang jelas.
Apakah sampai hati atau malah tidak menggunakan hati? Organisasi pergerakan mahasiswa Islam yang melantangkan suara juga akan mencegah dan menangani kasus pelecehan pun ternyata nol. Apa katanya? Sabar dulu ya tunggu, dua minggu waktunya. Kalau diviralkan buktinya kurang jelas. Suruh nurut dulu aja. Ironis. Sungguh sangat menyedihkan mendengarnya. Apa benar kata orang-orang jika belum merasakan maka tidak akan mengerti rasanya? Semoga ini tidak terjadi kepada kalian juga, ini menyedihkan, sungguh.
Pelakunya hidup tenang dan damai di luar pulau, sedang korban mengalami trust issue hebat bergemuruh di dalamnya. Apakah memang sudah saatnya pamit undur diri dari organisasi ini? Yang katanya memberikan perlindungan atas diri kadernya namun pada kenyataannya oknum di dalamnya yang memberikan ancaman itu sendiri. Iya benar, bukan organisasinya yang tidak memberikan arahan dan batasan jelas, oknumnya saja yang terlewat batas. Jangan meminta korban mengerti posisi pelaku dan organisasi yang ia bawa saat ini, mengertilah posisi korban yang takut, malu, dan bingung karenanya.
Sekali lagi, penulis hanya seorang kader ikatan yang mencari keadilan bukan pembelaan semata. Penulis hanya ingin dimengerti, dipahami posisinya juga, dan tidak diarahkan untuk bungkam sementara pelaku bebas berkeliaran melanglang buana ke daerah lain untuk mengader sama seperti korban yang juga mengader. Bedanya saat ini pelaku mengader bebas dan korban mengader waswas. Akhir kata, penulis harap tulisan ini akan menjadi surat tersirat untuk oknum terkait terkhusus pelaku dan menjadi refleksi bersama agar menjaga nama baik diri sendiri sekaligus embel-embel yang kita bawa. Abadi perjuangan!
Oleh : IMMawati Cabang Kota Berseri
“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
