Bencana banjir yang menerjang kota Batu dan mengenai juga daerah sekitarnya pada 4 November lalu mengingatkan saya pada salah satu negeri yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Meski tidak bisa disamakan seutuhnya, negeri dan kota ini terdapat kemiripan sebagai negeri dengan kesuburan tanah, limpahan hasil bumi dan kesejahteraan rakyatnya, yang kemudian tertimpa bencana banjir. Tulisan ini hanya bermaksud untuk mengingat kembali sebuah peradaban suatu negeri yang berada dalam Al-Qur’an.
Alkisah di negeri Yaman, terdapat sebuah negeri yang sangat subur. Tanahnya yang bergunung-gunung dan kerap mendapatkan air dari curahan hujan menjadikan berbagai macam tanaman dapat tumbuh, bahkan yang jarang ditemukan di negara Arab lainnya. Dalam salah satu riwayat digambarkan tentang kesuburan negeri itu. Seandainya seorang pejalan kaki meletakkan keranjang di atas kepala, niscaya sambil berjalan keranjang itu akan penuh dengan aneka buah-buahan yang berjatuhan.
Dalam kesuburan negara Yaman tersebut, terdapat sebuah negeri yang bernama Saba’. Saba’ merupakan negeri dengan peradaban gemilang yang diperkirakan hidup sekitar 1000-115 SM. Sebuah negeri yang berdiri mewarisi negeri Muin (Ma’in atau Minaean). Di dalam Al-Qur’an, kata Saba’ disebut berkaitan dengan kisah ratu Balqis yang oleh burung Hudhud dikatakan memiliki kerajaan yang luas. Di ayat lain, disebutkan juga tentang sebuah negeri yang memiliki dua kebun yang indah.
Nama Saba’ semula merujuk pada nama seorang lelaki Arab, Abdu Syams bin Syams bin Yasyjab bin Ya’rib bin Qathan. Dinamakan Saba’ karena dia adalah orang pertama yang melakukan perjalanan jauh(Saba’) ke Arab. Menurut riwayat Muhammad bin Ishaq, Saba’ memiliki 10 anak. Enam di antara putra-putranya menetap di Yaman dan 4 lainnya bermukim di Syam. Anak yang menetap di Syam bernama: Lakham, Judzam, Ghassan dan Amilah. Sementara yang berada di Yaman adalah: Azd, Asy’ar, Himyar, Madzhij, Anmar dan Kindah.
Karena kesuburan tanah dan kemahiran penduduknya, negeri Saba’ yang awalnya kecil lama kelamaan bertambah luas. Penduduknya bertambah banyak, mereka hidup dalam kemakmuran dan maju dalam peradaban. Semula ibukota negeri ini hanyalah kota kecil yang bernama Shinvah (ada yang menyebut Sirwa), kemudian berpindah ke kota yang lebih teratur dan modern yang bernama Ma’rib.
Negeri Saba’ dengan ibukota Ma’rib menjadi kota yang sangat makmur. Letak geografisnya sangat strategis dan menguntungkan. Strategis karena menjadi rute perdagangan dengan beberapa kota di sekitarnya. Kota ini juga sangat menguntungkan karena memiliki perkebunan yang memberi kemakmuran bagi rakyatnya.
Berlimpah Nikmat Dua Kebun dan Bendungan Ma’rib
Dalam surat Saba’ ayat 15 Allah bersumpah bahwa Sesungguhnya bagi kaum Saba’ terdapat tanda kekuasaan Allah. Di lokasi kediaman mereka yang tidak jauh dari kota Shan’a di Yaman selatan, terdapat dua kebun yang mengelilingi negeri mereka di sebelah kanan dan sebelah kiri. Kepada penduduk tersebut dipesan agar makan dari rezeki yang dianugerahkan kepada mereka. Yang menganugerahkan ini adalah Tuhan Pemelihara dan Pembimbing. Setelah itu mereka diperintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat itu sesuai petunjuk-Nya. Dalam ayat itu juga disebutkan bahwa negeri yang mereka tempati ini adalah negeri yang baik, aman dan sentosa serta berada dalam pengampunan Tuhannya.
Meskipun kawasan ini sangat luas dan hamparan tanah yang cukup subur, namun keberadaannnya sedikit rumit, karena terdapat banyak lembah. Satu hal yang membuat sulit dalam arsitektur negeri Saba’ adalah karena air hujan yang banyak turun di negeri mereka itu dapat menggenangi negeri mereka lantaran berada di dataran tinggi. Sebentar saja setelah hujan besar turun, semua air akan mengalir ke negeri-negeri lain yang berdekatan dengan negeri Saba’ yang umumnya terdiri dari padang pasir.
Akhirnya, wilayah ini tidak memiliki banyak sumber air untuk mengairi kawasan pertanian yang cukup luas itu. Penduduk di wilayah tersebut hanya mengandalkan air hujan limpahan dari pegunungan untuk mengairi tanaman mereka. Aliran air gunung itu berujung di hamparan padang pasir yang kemudian langsung terserap ke perut bumi. Tidak ada air yang tergenang. Air yang mengalir ke sana melewati permukaan tanah kemudian meresap ke dalam bumi.
Terdorong oleh kebutuhan untuk mendapat air yang dapat mencukupi keperluan mereka dalam waktu yang panjang, mereka memiliki gagasan untuk menahan aliran air gunung itu sehingga tidak lenyap begitu saja. Setelah melalui beberapa kali percobaan, akhirnya mereka dapat membuat tanggul penahan yang cukup kuat. Dibangunlah bendungan di antara lembah-lembah sehingga air limpahan dari gunung itu terkumpul di satu titik.
Upaya mereka yang telah berhasil membendung satu aliran air, mendorong mereka membangun beberapa buah bendungan lain lagi yang mengitari bukit-bukit di wilayah tersebut. Akhirnya, mereka memiliki lebih dari seratus buah bendungan yang dipergunakan untuk mengairi lahan pertanian mereka. Bendungan yang paling besar, paling kokoh dan paling banyak dipergunakan terkenal dengan nama bendungan Ma’rib.
Ma’rib sendiri memiliki makna air melimpah. Kota ini terletak antara Shan’a dan Hadhramaut. Berkat bendungan ini, kawasan seluas 300 mil persegi yang kering dan tandus dapat berubah menjadi lahan subur dan produktif. Karena itu, Saba’ dikenal pula dengan sebutan Ma’rib, karena melimpahnya air berasal dari beberapa aliran berkumpul menjadi satu di satu lembah yang terdapat di sekitarnya. Dari lembah itu pula, penduduk negeri itu mengambil air dan menyirami kebun-kebun mereka.
Bendungan Ma’rib menjadi salah satu monumen terpenting dari kaum Saba’. Konsep dan konstruksi bendungan Ma’rib ini merupakan indikasi penting yang menunjukkan tingkatan teknologi kaum Saba’. Adanya bendungan Ma’rib yang mereka bangun menjadikan lahan-lahan perkebunan kaum Saba’ menjadi subur. Hasil-hasil perkebunan kaum Saba’ sangat besar. Bahkan, setiap tahun mereka berhasil meraup keuntungan. Pendek kata, saat itu mereka benar-benar mencapai tingkat kemakmuran yang sangat tinggi.
Para ahli sejarah tidak memiliki pendapat yang sama menyangkut siapa yang membangun bendungan itu dan faktor apa yang menjadi penyebab kehancurannya. Seorang penulis Yunani, Pliny, yang pernah mengunjungi daerah ini mengatakan, kota Ma’rib merupakan salah satu kota termodern di masanya. Pliny menambahkan, kawasan Saba’ dan sekitarnya begitu tampak menghijau dengan perkebunan yang sangat luas. Kaum Saba’ adalah kaum yang mempunyai peradaban tinggi di Arabia Selatan.
Kekayaan sumber daya alam dan tingginya teknologi yang dibuat kaum Saba’ diakui juga oleh sejumlah ahli tafsir, seperti: al-Qurthubi, al-Maraghi, dan Abdullah Yusuf Ali. Menurut Ibnu ‘Asyur, sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah, bahwa seorang sejarawan yang pernah melihat reruntuhan bendungan itu adalah al-Hasan al-Hamdani yang hidup pada IV H. menurutnya, bendungan tersebut memiliki dinding sepanjang 800 hasta, lebarnya 150 hasta, dan tingginya sekitar belasan hasta. (sehasta: antara 50-70 cm).
Bersambung …
Lailatul Fithriyah Azzakiyah, S.H.I, M.Pd.I adalah Founder Metode Tahfizh Qur’an Tematik
