Oleh : Affan Safani Adham*
Tepat pada 31 Mei 2020 ini, Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif berulang tahun ke-85. Laki-laki kelahiran Sumpur Kudus, Sumatera Barat, bila dikritik dan dihujat tak pernah marah atau menunjukkan murka. Tapi beliau selalu senyum ketika banyak hujatan kepadanya.
Ahmad Syafii Maarif adalah tokoh toleransi lintas agama. Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute ini dikenal masyarakat sebagai sosok yang kritis dan plural. Syafii pun tak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan.
Sebagai pengajar, Buya Syafii tergolong pengajar yang rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Karirnya dimulai menjadi guru di sekolah Muhammadiyah, sebelum meneruskan belajar di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta.
Pada tahun 1987-1999 saya menjadi karyawan “Suara Muhammadiyah”. Waktu itu Prof Dr HM Amien Rais, MA menjadi pemimpin umum dan Prof Dr HA Syafii Maarif menjadi pemimpin redaksi.
Selama berada di lingkungan “Suara Muhammadiyah” saya mengenal baik Buya Syafii Maarif. Berada di “Suara Muhammadiyah” Buya Syafii menjadi panutan bagi pimpinan, karyawan dan reporter yang kebanyakan para mahasiswa: Haedar Nashir, Imawan Wahyudi, Yusuf A Hasan, Mahfud Ahmad, Imron Nasri, Misma Kasim dan lain-lain.
Bisa dikatakan Buya Syafii Maarif adalah sebagai tokoh yang egaliter, humanis dan demokratis yang mencintai Muhammadiyah. Adapun hal yang menakjubkan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2000-2005 ini adalah pengkhidmatannya yang luar biasa untuk Muhammadiyah.
Hal itu pun berlanjut setelah tidak menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Beliau tetap terus berkhidmat untuk Persyarikatan Muhammadiyah.
Selalu Cinta Muhammadiyah
Kecintaannya pada Muhammadiyah lahir dari hati. Tidak dengan retorika dan citra. Sampai saat ini kepada karyawan “Suara Muhammadiyah” pun selalu mendampingi. Selalu berpesan dan mengajak kerja keras agar “Suara Muhammadiyah” semakin besar dan maju.
Ketika bertemu saya selalu saja bertanya, “Bagaimana kabarmu?” Lalu beliau berpesan, “Jangan lupakan Muhammadiyah.” Ucapannya tidak basa-basi. Tapi keluar dari hati.
Menyaksikan kiprah Buya Syafii Maarif, diri ini merasa sangat kecil. Dan saya menaruh hormat kepada beliau yang sangat bersahaja. Apa yang selalu diucapkan beliau adalah suara hati, tidak dibuat-buat. Komitmen dan pikirannya tentang Muhammadiyah selain paham juga lahir dari penghayatan yang menyatu dengan pengkhidmatannya.
Buya Syafii Maarif selalu berusaha memposisikan Muhammadiyah dalam koridornya sebagai gerakan dakwah dan ormas keagamaan sesuai Kepribadian dan Khittah. Tidak berusaha menarik-narik organisasi Islam itu ke politik praktis dan yang tidak sejiwa dengan karakter gerakan Islam yang didirikan Kiai Haji Ahmad Dahlan pada tahun 1912 itu. Sikap hidup Buya Syafii Maarif bisa dikatakan apa adanya. Dan sungguh kuat jiwa keteladanan dan pengkhidmatannya itu.
Setelah tidak menjadi karyawan “Suara Muhammadiyah”, saya rindu tokoh Muhammadiyah yang apa adanya ini. Senantiasa memposisikan diri selaku orang Muhammadiyah yang tidak larut dalam tarikan pihak dan kepentingan lain. Sikap dan pikirannya lurus. Kalaupun mengkritik tetap tawazun. Untuk itu kita perlu belajar banyak dari figur beliau yang tetap bersahaja itu.
Selamat ulang tahun Buya Syafii Maarif. Dengan kiprah yang tak kenal lelah dalam memajukan Muhammadiyah, Buya Syafii seakan ingin memberi pesan kepada kita: kalau betul-betul merasa Muhammadiyah, bantulah gerakan Islam ini. Kalau belum dapat membantu, setidaknya jangan banyak menuntut dan membebani Muhammadiyah.
Sungguh luhur sikap hidup tokoh Muhammadiyah yang bersahaja ini. Saya yang lebih muda dibuatnya malu dengan jejak langkahnya yang nirpamrih itu.
*) Affan Safani Adham, anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY Periode 2010-2015/2015-2020
Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY Periode 2010-2015/2015-2020
