Secara religius perempuan memiliki tempat yang sama dengan laki-laki pada perihal kewajiban dan wewenangnya. Namun demikian dari pandangan sosial seringkali perempuan didiskreditkan. Hal ini disebabkan oleh konstruksi sosial yang sudah mengakar di masyarakat yang memandang rendah perempuan baik peran bahkan martabatnya. Stigma tersebut tentunya tidak bisa ditolerir terlebih di masa modern saat ini di mana peradaban sudah semakin maju. Perempuan telah banyak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang memberikan dampak positif bagi diri, keluarga dan lingkungannya.
Keistimewaan dan ketangguhan perempuan yang demikian pada akhirnya diuji saat meledaknya pandemi Covid-19, mau tak mau perempuan ikut turun tangan menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Keterlibatan ini terbukti dengan banyaknya UMKM berbasis perempuan yang hadir di kala pandemi ataupun pada akhir masa pandemi.
Perempuan dan Kreatifitasnya yang Tak Terbatas
Selain bakat dan potensinya, perempuan yang kerap kali menghadapi pilihan sulit dan menjadi lini kedua dalam keluarga telah menciptakan kemampuan berfikir cepat dan tepat bagi perempuan. Pemanfaatan sumberdaya yang bahkan kadang tak terlihat menjadi kemampuan spesial perempuan. Kreatifitas dan kehebatannya tidak perlu diragukan lagi. Hal ini menjadi dasar bahwa perempuan di nilai sebagai insan yang teliti dan cermat.
Tak jarang terdapat beberapa pekerjaan rumit yang tak bisa dilakukan oleh pria dengan teliti dan jeli tetapi perempuan bisa menyelesaikannya dengan efisien dan efektif, termasuk urusan ekonomi. Seperti yang telah dilansir dalam Katadata, bahwasannya perempuan-perempuan hebat mampu mengambil peran dalam pengelolaan UMKM.
Dalam hal usaha mempertahankan stabilitas dan dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga perempuan sering di cap jempolan. Pada hakikatnya pun perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengan para lelaki dalam mencari nafkah di keluarga walaupun tugas lebih besar dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga.
Kreativitas, ketangkasan dan kecekatan tangan perempuan tersebut, dibuktikan dengan mampunya mereka dalam menghasilkan berbagai macam produk UMKM. Produk yang ditawarkannya pun tak kalah menarik dan kekinian dengan produk skala industri. Banyak di antara mereka yang menciptakan brandnya sendiri dan memasarkan produknya dalam bentuk busana, makanan dan minuman.
Kreatifitas inilah yang membawa nama perempuan melambung tinggi dan mendapatkan pengakuan di masyarakat. Walaupun sejatinya kesetaraan tidak perlu diakui, ia hidup sebagai ruh dan telah lahir sebelum pengakuan itu terucap.
Kreatifitas perempuan di kala pandemi telah menciptakan setitik cahaya harapan ekonomi untuk bertahan. Di saat keluarga tertahan ekonominya, disaat itu pulalah perempuan hadir melalui keterlibatan dan pembentukan UMKM sebagai penenang dan lapis kedua bergerak menunjukan aksinya.
UMKM dan Perempuan Tangguh dalam Menghadapi Pandemi
Keikutsertaan perempuan dalam pengelolaan UMKM berakibat adanya ekskalasi pendapatan ekonomi keluarganya. Dalam skala mikro hal ini membentengi ketahanan ekonomi keluarga agar terbebas dari kemiskinan. Dalam skala makro hal tersebut menyumbang angka pertumbuhan ekonomi bangsa. Terlebih apabila sektor UMKM tersebut dapat menyerap tenaga kerja. Dalam berita yang dilansir oleh CNBC, Deputi BI, Juda Agung mengatakan “Berdasarkan survey BI, dari sekitar 65,5 juta UMKM yang ada di Indonesia, 65% dikelola oleh perempuan.”
Kita dihadapkan dengan bencana pandemi yang memporak-porandakan lini kehidupan, banyak sektor perekonomian mengalami penurunan secara drastis. Kemerosotan pendapatan menjadi hal yang acapkali di dengar. Banyak usaha perumahan yang gulung tikar. Produksi besar pun ikut menurun. Tetapi tidak dengan pelaku usaha UMKM yang dikelola oleh para perempuan.
Berdasarkan hasil survey BI pada masa Pandemi Covid-19, kebanyakan UMKM yang dikelola oleh perempuan lebih mampu bertahan menghadapi pandemi dibandingkan dengan UMKM yang dikelola oleh laki-laki.
Kejelian dan ketelitian yang perempuan miliki menjadikan nilai lebih untuk bekerja dengan rapih dan lebih resisten terhadap permasalahan. Tata kelola yang dilakukan oleh perempuan menunjukkan keunggulannya dalam berbagai kondisi situasi yang merugikan.
UMKM yang dikelola perempuan telah memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional sebesar 61,07%. Dengan demikian perempuan-perempuan tangguh ini turut meyumbang persentase ketahanan ekonomi nasional.
Semakin banyaknya perempuan yang turut serta dalam pemerataan ekonomi tersebut, diharapkan dapat mencapai Indonesia Emas di tahun 2045. Selain itu dapat tercapai juga salah satu tujuan SDGs yang kelima yakni Gender Equality atau kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Hal tersebut merupakan solusi untuk pemberdayaan perempuan. Agar terwujudnya perempuan-perempuan yang berdikari, setara secara gender di ranah publik dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan. Utamanya mampu menunjukan ketangguhan perempuan dalam menjaga ketahanan ekonomi.
Sumber:
Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian RI
https://www.cnbcindonesia.com/umkm-ditangan-perempuan-leboh-banyak-bertahan-saat-pandemi
Mahasiswi Prodi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM. Lulusan terbaik ke II Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung. Instagram: heni_widyawati30 Fb: Heni Widyawati Twitter: @HeniWidyawati7
