Site icon Inspirasi Muslimah

Menjawab Pertanyaan Tentang Perbedaan, Berikut 7 Tips Untuk Ibu Memberikan Pendidikan Toleransi Agama kepada Anak

toleransi agama

Beberapa waktu silam, dunia maya gempar karena berita pasangan berbeda agama yang memutuskan untuk menikah. Hal ini tentunya menuai pro dan kontra, mengingat Indonesia masih cukup beragam dalam menanggapi pernikhan beda agama. Ada orang yang berpendapat bahwa menikah lain agama adalah urusan masing-masing individu. Namun ada pula yang begitu getol menentang hal tersebut dan menyebutnya sebagai perzinahan.

Sesungguhnya terdapat beragam agama di dunia, tetapi di negara kita sendiri hanya mengakui 6 agama. Sehingga persoalan menikah lintas agama hampir selalu menjadi momok yang dianggap menakutkan bagi banyak pihak, di antaranya orang tua. Pada saat pertumbuhan dan timbul rasa keingintahuan yang tinggi. Biasanya setiap anak mencoba mengulik beragam pertanyaan menggelitik. Misalnya mengapa banyak orang berbeda fisik, apa itu istilah toleransi, ataupun cara beribadah temannya yang tak serupa. Lantas bagaimana orang tua terutama para ibu berusaha memaparkan hal ini?

Memahami Makna Toleransi

Selama ini istilah toleransi selalu berhubungandengan menghargai perbedaan agama. Padahal toleransi juga dapat digunakan dalam segala bidang kehidupan, misalnya ciri fisik, suku, ras, bahkan pandangan politik. Namun mencoba mengerucut, dalam hal toleransi beragama, kita harus bisa menghormati keberagaman pilihan agama orang lain. Asalkan tidak mengganggu dan merugikan umat beragama lainnya, toleransi berjalan dengan lancar.

Namun perlu kita garis bawahi bahwa toleransi bukanlah membiarkan segala bentuk penyimpangan agama. Memanglah tugas setiap manusia untuk selalu mengingatkan jika ada seseorang yang berada di luar jalur ‘aturan’. Namun jangan sampai kita terlalu ikut campur dengan ranah privasi dan orang tersebut merasakan sakit hati. Sehingga dapat dikatakan bahwa toleransi adalah bersikap positif dengan segala jalan yang dipilih orang lain termasuk agama.

7 Cara Tak Salah Langkah Mengajarkan Toleransi Pada Anak

Walau terlihat mudah secara teori, praktik toleransi selalu menghadapi hambatan yang cukup rumit. Namun bukanlah hal mustahil bagi perempuan mengajarkan toleransi pada anak, berikut cara-caranya.

  1. Ajari Ia Untuk Mencintai Diri Sendiri
    Modal utama seseorang untuk memahami perbedaan ialah kemampuan mencintai diri sendiri (self love). Seseorang yang mampu mengenal diri sendiri biasanya akan bersikap stabil secara emosional ketika menghadapi masalah. Begitu juga dengan toleransi agama, berikanlah pemahaman pada anak bahwa ia adalah sosok hebat dan berharga. Sehingga ia tidak akan terjebak dalam pengaruh menyerang mentalitas dan agama orang lain.
  2. Perlihatkan Beragam Jenis Agama Melalui Buku Ataupun Video
    Berkunjung ke tempat ibadah agama lain mungkin dianggap bukanlah pilihan yang tepat untuk mengenalkan jenis-jenis agama. Namun jangan sampai ibu kehilangan akal untuk hal ini. Ibu bisa membacakan dongeng terkait kisah-kisah nabi lintas agama. Ataupun menunjukkan video animasi terkait perayaan agama lainnya.
  3. Perkenalkan Basic Manner Saat Berhadapan dengan Orang Lain
    Biasanya seorang ibu akan memerintah anaknya untuk bersikap sopan dan santun kepada orang yang lebih tua. Mulai dari sekarang ubahlah kebiasaan ini. Menghormati orang lain juga harus diterapkan kepada siapa saja, bahkan yang usianya jauh lebih muda. Berilah contoh pada anak untuk selalu mengucapkan tiga kata ajaib ketika berinteraksi, yakni maaf, tolong, dan terima kasih.
  4. Ajak Menonton Pagelaran Budaya dan Tradisi di Indonesia
    Sebagian seremonial agama di Indonesia masih bercampur dengan kegiatan kebudayaan. Seperti terlihat pada desain pembuatan masjid dan hadrah yang terpengaruh kebudayaan Jawa. Menyimak berbagai kontes kebudayaan akan menambah pengetahuan anak terhadap indahnya keberagaman.
  5. Daftarkan Anak Pada Komunitas Belajar Tidak Terbatas Agama
    Hampir setiap ibu akan merasakan keamanan dan kenyamanan jika anak berada di lingkungan seragam. Padahal hal ini bisa berpengaruh pada kemampuannya beradaptasi. Sebaiknya ikutkan anak pada komunitas bermain atau kelompok belajar yang tidak terikat agama. Selain membukakan pikirannya terhadap perbedaan agama, secara tidak langsung anak biasanya lebih mencintai persaudaraan yang tidak terbatas di antara pertemanannya.
  6. Eksplorasi Indahnya Perbedaan dengan Berkunjung ke Tempat Baru
    Anak yang intoleransi biasanya terbentuk karena kebiasaan berada pada lngkungan yang sama dalam waktu lama. Karena tidak adanya kontras, ia cenderung kaget secara mental jika berkunjung ke lokasi baru. Sehingga usahakan ajaklah anak untuk sekadar jalan-jalan liburan ke tempat wisata baru beberapa kali. Selain bertujuan menyegarkan pikiran, pertemuan dengan banyak orang yang berbeda di hadapannya, akan membuatnya lebih santai dengan hal yang tidak familiar.
  7. Tidak Hanya Sebatas Pahala dan Dosa, Ciptakan Suasana Beribadah Menyenangkan
    Ketika menyentuh masa kenakalan, biasanya ibu mulai mengancam anak dengan kata mujarab ‘pahala dan dosa atau surga dan neraka’. Padahal hal ini tidak seharusnya dibenarkan karena hanya membangun rasa takut pada diri anak. Jika ibu merasa khawatir dengan keimanan sang anak, lakukan ibadah bersama-sama tanpa ada paksaan. Bukankah anak adalah sang peniru ulung? Jangan lupa untuk memberikan reward jika ia mulai merasa sadar dengan kewajibannya melaksanakan perintah agama.

Sebagai sosok lemah lembut, sudah sepatutnya orang tua khususnya perempuan memandang toleransi dengan bijak. Bawalah pesan perdamaian mulai dari tingkat komunitas terkecil, yakni keluarga. Jangan biarkan anak berpikiran radikal hingga tak lagi mengedepankan kemanusiaan.

Penulis : Melynda Dwi Puspita
Instagram : @melyndadwipuspita

Bagikan
Exit mobile version