Teologi di Balik Tangisan Manusia (1)
Oleh : Muhammad Bagus Irawan*
Sementara para ulama, di antaranya, Ismail bin Ayasi dan Yazid bin Maisarah menjabarkan bahwa menangis ada tujuh macam, yaitu; tangisan karena takut pada Allah, tangisan kebahagiaan, tangisan kesedihan, tangisan karena mabuk cinta, tangisan karena kaget, tangisan karena sakit, dan tangisan karena bersyukur. Sementara Ibnu al-Qayyim dalam Zadul Ma’ad-nya menambahkan tiga model tangisan sehingga genap menjadi sepuluh, yakni; tangisan dusta (nifaq), tangisan simpati, dan tangisan yang dipinjamkan (nihayah). Seperti yang pernah diungkapkan Umar bin Khattab, “Engkau jual sikapmu dan tangismu sehingga orang lain ikut menangis bersamamu.” Adapun perbedaan antara tangisan sedih dan tangisah takut (khauf), yakni; tangisan sedih terjadi tatkala ada kejadian yang tidak disukainya, semisal meninggalnya orangtua, yang berhubungan dengan kenangan masa lampau. Sedangkan tangisan khauf terjadi bersandar pada hal gaib, masa depan yang ia sendiri tak terbayang apa yang bakal terjadi padanya, sehingga timbullah rasa takut pada Allah.
Pura-Pura Menangis
Suatu ketika, Rasulullah menangis bersama Abu Bakar, di depan tawanan Perang Badar. Melihat hal itu Umar yang baru dating berkata: “Beritahu kepadaku, kenapa engkau menangis wahai Rasulullah? Jika aku menemukan alas an untuk menangis, maka aku akan menangis. Namun jika aku tidak menemukannya, maka aku akan berusaha untuk menangis karena engkau berdua menangis.” (HR. Muslim). Nabi Muhammad pun tidak mengingkari, jikalau sebagian Sahabat berkata, “Menangislah karena takut kepada Allah, jika tidak bisa, maka berusahalah terlihat seolah menangis.”
Sahabat Abdullah bin Umar dalam majelisnya menyampaikan, “Menangislah! Jika tidak bisa, maka berpura-puralah menangis. Sedandainya kalian mengerti rahasianya, maka pasti di antara kalian akan shalat sampai patah tulang punggungnya, dan akan menangis sampai habis suaranya.” (HR. Al-Hakim). Ihwal kondisi pura-pura menangis ini, Ibnu al-Qayyim menjabarkan bahwa, di balik alas an pura-pura menangis ada dua macam, yang terpuji dan tercela. Adapun pura-pura menangis yang terpuji ialah berangkat dari kelembutan hati karena takut kepada Allah semata. Sedangkan pura-pura menangis yang tercela itu berangkat dari motif riya’ (pamer ingin dilihat) dan sum’ah (ingin didengar) agar mendapat simpati makhluk yang bersifat keduniawian, bukan untuk mendekati Sang Khalik.
Tangisan Langit dan Bumi
Tahukan kita? Langit dan bumi akan menangis tatkala ada seorang mukmin yang meninggal dunia sehingga terputuslah amalnya. Hal demikian disebutkan dalam QS. Ad-Dukhan ayat 25-29: “Betapa banyak taman-taman dan mata air yang mereka tinggalkan, juga kebun-kebun serta kediaman yang indah, dan kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana. Demikianlah, dan Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka, dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.” Berkaitan dengan ayat ini, Rasulullah bersabda; “Tiada seorang hamba kecuali ia memiliki dua pintu langit; pintu untuk rezekinya dan pintu untuk memasukkan amal dan ucapannya. Ketika ia meninggal, maka hilanglah dua pintu itu dan keduanya menangis.” (HR. Abu Ya’la).
Imam Mujahid pernah menyatakan bahwa seorang mukmin yang meninggal akan ditangisi kepergiannya oleh langit dan bumi selama 40 hari. Apakah kita masih heran? Bagaimana mungkin bumi tidak menangisi kepergian seorang hamba yang memakmurkan bumi dengan rukuk dan sujudnya? Dan bagaimana mungkin langit tidak menangis bila ditinggalkan seorang hamba yang selalu bertakbir dan bertasbih seperti suara lebah? Sedangkan Imam Qatadah menjabarkan bahwa orang-orang mukmin lebih mudah baginya untuk menangis dari pada tangisan langit dan bumi. (Habib Sa’ad, Madza Ta’rif an al-Buka, h. 154)
Pada akhirnya, tangisan seorang mukmin membawa rahmat dan kebahagiaan. Membawa ketentraman jiwa dan hati. Sekaligus menjadi obat penenang yang membersihkan kotoran pada mata, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani. Tangisan menjadi salah satu kenikmatan dari Allah yang wajib disyukuri. Sungguh merugilah seorang yang tak pernah menangis, karena hatinya akan kaku dan hidupnya penuh tekanan dan kesusahan. Maka itu, menangislah! Wallahu A’lam
*) M. Bagus Irawan adalah penulis lepas, penerjemah, dan editor buku, alumnus Tafsir Hadits UIN Walisongo Semarang
