Site icon Inspirasi Muslimah

Tantangan dan Peluang Menjadi Seorang Penulis Perempuan

peluang

Oleh: Mohammad Iqbal Shukri*

Sebagai seorang penulis laki-laki mungkin awalnya saya tidak terlalu memikirkan sebuah tantangan bagaimana menjadi seorang penulis perempuan. Tapi semakin ke sini, saya ingin sekali mengetahuinya.

Dari apa saja tantangan bagi seorang penulis perempuan pemula. Hingga bagaimana penulis perempuan itu mempersiapkan mental diri untuk tetap berdiri kokoh tampil di ruang publik.

Sebuah keberuntungan, rasa ingin tahu saya perihal tantangan yang dihadapi seorang penulis perempuan dijawab oleh Kalis Mardiasih. Ketika Kalis menyampaikan materi tentang kiat menjadi seorang penulis dalam perspektif gender, di sebuah grup kursus menulis yang saya ikuti di WhatsApp Group (WAG).

Kisah Kalis Mardiasih Sebagai Penulis Perempuan

Kalis menceritakan bahwa banyak tantangan yang harus dihadapi oleh seorang penulis perempuan, atau tantangan peluang perempuan tatkala tampil di ruang publik. Berdasarkan pengalaman pribadinya, saat mengawali karir menjadi penulis, pernah suatu ketika ia menulis di salah satu situs media online. Kemudian ada netizen yang mengkritiknya, tapi bukan substansi dari sebuah tulisannya yang dikritik. Namun lebih menyasar pada pakaian yang dikenakannya.

“Pakai kerudung aja belum bener, pantesan tulisannya tidak mencerminkan Islam” ujar Kalis menirukan salah seorang netizen.

Melihat kritikan yang diterimanya, Kalis dalam waktu dekat, iseng berupaya mengganti foto profilnya yang mengenakan kerudung cukup lebar. Kemudian ia menulis lagi. Namun Kalis tetap mendapatkan kritikan atau lebih tepatnya hujatan dari salah seorang netizen.

“Sudah pakai kerudung, tapi tulisannya anti Islam”

Tidak hanya sampai di situ, perjalan karir menulis Kalis menuai tantangan demi tantangan yang harus dihadapinya. Tapi Kalis tetap tidak gentar untuk terus melangkah menjadi seorang penulis perempuan.

Melalui pengakuannya, Kalis juga pernah mendapatkan pesan singkat di akun sosial medianya yang isi pesannya cukup mengerikan. Saat itu, menurut Kalis situasi politik sedang memanas.

“Mana nih, rumahnya betina, mau gua perkosa”

Dari cerita Kalis tersebut nampaknya tak mudah untuk menjadi seorang penulis perempuan untuk tampil di ruang publik. Perempuan rawan sekali terjadi korban pelecehan seksual. Berbeda dengan penulis laki-laki, yang sangat minim atau mungkin tidak ada kritik yang menyasar pada sisi bagaimana cara berpakaian seorang laki-laki misalnya.

Meski tantangan menjadi seorang penulis perempuan itu cukup berat. Tapi kiranya para perempuan  yang akan tampil di ruang publik dengan jalan menjadi seorang penulis, alangkah baiknya sedikit banyak dapat belajar kepada Kalis.

Kalis Mardiasih seorang penulis perempuan yang dapat diakui memang bermental baja. Di tengah badai kritikan dan hujatan dari luar, ia tetap kokoh berdiri untuk produktif menulis di beberapa media mainstream nasional, dan atas kegigihannya ia juga mampu menerbitkan beberapa buku. Selain menjadi seorang penulis, Kalis adalah seorang aktivis perempuan. Ia sekarang juga aktif di Jaringan Gusdurian untuk isu gender.

Peluang bagi Penulis Perempuan

Meskipun tantangan bagi penulis perempuan cukup besar, tapi peluang untuk menjadi seorang penulis perempuan juga tak kalah besar. Dibuktikan dengan dukungan dari banyaknya media online (khususnya) yang memberi rubrik spesifik pada medianya. Rubrik itu bernama rubrik perempuan.

Di antaranya, alif.id, iqra.id, arrahim.id, pesantren.id, rahma.id dan lainnya. Rubrik tersebut membahas isu-isu tentang keperempuanan, dari sejarah hingga dengan isu-isu perempuan terkini. Perempuan bisa menulis di rubrik-rubrik khusus tersebut.

Penulis perempuan lebih dekat dengan isu-isu-isu keperempuanan, sebab mereka sendiri adalah perempuan yang merasakan dan mengalaminya sendiri. Sedikit banyak sama seperti apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan lainnya.

Problem yang sering dialami perempuan diantaranya, bagaimana diskriminasi terhadap perempuan itu bisa terjadi, apa yang dirasakan perempuan, atau mengapa keadilan perempuan itu sulit didapatkan.

Sebagai seorang perempuan yang sekaligus menjadi penulis, mereka akan lebih bisa membuat cerita atau tulisan yang lebih mengena dan berhati-hati, dengan berlandaskan pertimbangan rasa sisi keperempuanan. Tentunya hal itu akan berbeda ketika yang menulis adalah seorang penulis laki-laki saat menuliskan isu keperempuanan.

Hingga kemudian para penulis perempuan setidaknya bisa mendominasi dalam menuliskan konten di ruang rubrik perempuan tersebut.

Jangan sampai rubrik-rubrik perempuan ini malah lebih banyak diisi oleh penulis laki-laki. Bukan berarti pula, penulis laki-laki tidak boleh menulis di rubrik perempuan. Karena dalam hal ini bisa ditarik menggunakan sisi kesetaraan gender. Bagaimana laki-laki memandang perempuan, dan perempuan memandang dirinya sendiri sebagai perempuan. Yang kemudian memunculkan banyak pandangan khasanah keilmuan, hingga memperkokoh nilai-nilai kesetaraan gender.

Selain itu dari kacamata pribadi, saya meyakini bahwa adanya rubrik perempuan, pastinya adalah untuk memberi peluang kepada penulis-penulis perempuan baru, untuk bisa tampil diruang publik. Di mana kemudian dapat memunculkan sebuah kekuatan baru dari sesama penulis perempuan, untuk terus menulis. Tanpa dihantui rasa takut saat menjadi seorang penulis perempuan yang tampil di ruang publik.

*) Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Blora, aktif di Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat UIN Walisongo Semarang dan mahasiswa S1 Perbankan Syariah

Bagikan
Exit mobile version