Hening, sore ini kami datang ke rumahmu di tengah hujan deras. Kami baru mendengar berita tentangmu tadi pagi, semiggu setelah kepergianmu. Adikmu, Banyu, baru masuk sekolah hari ini. Dia bercerita bahwa dia tidak masuk karena, “Mbak Hening meninggal.”
Ya, orang tuamu mestinya menelepon ke sekolah, mengabarkan bahwa adikmu tidak bisa datang ke sekolah karena ada kedukaan. Apalagi di pekan lalu Banyu mendapat giliran menjadi pemimpin kelas, dan ibu atau ayahmu bisa mengisi kegiatan kelas.
Kami selalu berharap ada perubahan dari orang tuamu, apalagi di saat Banyu mempunyai momen penting, seperti menjadi pemimpin. Namun hal itu tidak pernah terjadi. Sejak Banyu duduk di kelas 1 hingga kelas 3 SD, ibumu hanya datang saat mengambil rapor. Ayahmu yang bertugas di luar kota baru sekali hadir dalam pertemuan dengan wali kelas membahas adikmu. Dalam kesempatan itu ayah dan ibumu berjanji akan lebih memperhatikan Banyu.
***
Namun lagi-lagi Banyu kerap tidak hadir di sekolah tanpa kabar. Esok atau esoknya lagi, saat masuk sekolah, Banyu menjelaskan mengapa dia absen. Dari semua alasannya, pasti tersebutkan namamu. “Tukang ojek tidak datang, Ibu sudah berangkat pagi-pagi antar Mbak Hening ke sekolah”, “Tukang ojek dipakai Ibu ke dokter bawa Mbak Hening”, “Aku temani Ibu. Mbak Hening lagi marah-marah terus.”
Jawaban-jawaban itu diberikan kepada guru kelasnya, bukan saya, karena tidak mungkin saya, kepala sekolahnya, bertanya tentang langsung kepada Banyu. Namun dari jauh saya selalu mengamati Banyu. Dia tidak banyak bicara, dan tidak punya banyak teman. Setiap kali melihat adikmu, saya selalu bertanya dalam hati, apakah tubuhmu juga kurus? Apakah poni rambutmu juga menutupi matamu?
Saya ingin mengenalmu. Kesempatan itu kecil terwujud karena kau bersekolah di tempat lain, bersama anak-anak berkebutuhan khusus lain.
***
Saat Banyu berulang tahun bulan lalu, ibumu berjanji akan hadir di sekolah. Untuk anak yang berulang tahun, orang tua dapat hadir dalam doa bersama sambil mendengarkan guru kelas membacakan sejarah hidup yang berulang tahun dari bayi hingga usia terkini. Ibumu tidak mengirim cerita tentang adikmu, sehingga guru kelas tidak dapat bercerita tentang pengalaman adikmu sejak lahir hingga sekarang. Banyu hanya menatap kosong saat guru mengajak teman-temannya berdoa.
Saat Banyu tidak hadir pekan lalu, kejengkelan saya kepada orang tuamu memuncak. Saya beranggapan orang tuamu menyia-nyiakan kesempatan untuk mengembangkan adikmu jadi anak yang percaya diri. Ya, biasanya anak yang jadi pemimpin akan tumbuh percaya diri.
Saya sudah membuat surat peringatan untuk orang tuamu, sampai datang berita dari adikmu tentang kepergianmu.
Sore ini kami pun datang ke rumahmu, untuk pertama kalinya. Suasana duka masih tampak dari papan-papan duka cita di halaman rumahmu. Sebilah papan bunga terjatuh tertiup angin. Guru-guru mengangkatnya dan menyandarkannya ke dinding. Di papan itu tertulis namamu: Hening Ayu.
***
Seperti namamu, kau memang sunyi, karena terlahir nonverbal. Namun kau tidak pendiam. Saat bercerita kepada kami, ibumu bilang kau bisa berteriak bila marah atau sedih. Kau juga bisa menendang dan membanting bila tak dipahami. Sebaliknya, kau akan mencium dan memeluk Ibu dan Banyu. Kau pun anak yang bersemangat bersekolah. Malah akan marah bila sekolah libur karena rutinitas berganti.
Karena kau tidak dapat bicara, kau sulit mengekspresikan rasa sakit, di hari-hari terakhirmu. Kata ibumu, di malam hari kau bolak-balik mandi dan minum, bahkan dengan air di kamar mandi. Oh ya Banyu berkata tadi pagi bahwa Mbak Hening sakit karena minum air mentah.
Dari mulut ibumu hanya keluar cerita tentangmu. Saya menunggu cerita tentang Banyu. Saat itu Banyu tidak mau menemani kami. Dia lari ke dalam setelah bersalaman dengan kami. Ayahmu sudah kembali ke kota tempat tugasnya.
Akhirnya muncul yang saya tunggu. Dengan mata mengambang ibumu bercerita bahwa sebetulnya dia malu kepada kami. Ibumu terpaksa mendahulukan kepentinganmu daripada adikmu. “Ada dorongan untuk lebih melindungi Hening, yang autis nonverbal, dengan kondisi kecerdasan di bawah normal,” katanya.
***
Banyu banyak mengalah, kata ibumu. Sejak kecil Banyu diam saja bila mainan atau makanannya kau rebut. Dia juga tidak marah bila kau menendang atau mendorongnya. Bahkan dalam urusan sekolah, dia tak protes manakala ibumu lebih memperhatikan dirimu daripada Banyu.
Sore ini ibumu berjanji akan memberi perhatian kepada Banyu. Hati saya belum percaya pada janji ibumu. Apakah ketika kesedihan datang, janji itu juga akan tersapu bersama air mata? Karena itu saya katakan bahwa Senin depan Banyu akan menjadi petugas upacara. Kalau Ibu hadir di barisan orang tua murid, dia pasti akan bangga.
Biasanya Banyu mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum satu garis, berbeda dengan dirimu yang lebih ekspresif, sekalipun kau nonverbal. Begitu luar biasa pengalaman hidup yang Banyu jalani selama ini, dan dia tetap diam.
Tuhan tahu yang terbaik untuk dua makhluk yang Dia sayangi, dirimu dan Banyu. Selamat jalan, Hening. Maafkan saya, yang kerap ingin merebut ibumu untuk adikmu.
Penulis dan pengelola lembaga pendidikan TK dan SD di Jagakarsa, Jakarta Selatan
