Mungkin untuk pertama kalinya saya akan mengingkari isi tulisan yang pernah saya buat; hal ini mulai saya pertimbangkan sejak tulisan saya yang membahas tentang konsep gender yang ideal ditentang oleh salah satu teman saya setelah membaca tulisan saya tersebut.
Mungkin isi tulisan saya tak bermaksud apa-apa selain memberikan literasi seputar konsep, teori dan aplikasi dari konsep gender yang baik. Namun tanpa disadari isi tulisan tersebut memuat sebuah kata yang sebenarnya dapat diartikan sebagai kontradiksi akan praktek konsep gender yang kurang baik apabila diterapkan di lapangan.
Inti dari tulisan saya tersebut mengatakan bahwa subordinasi dapat menjadi salah satu solusi untuk kaum wanita agar lebih dihargai oleh kaum pria; yang seringkali di dalam realitas sosial sering terjadi sebuah tindakan; atau praktik beragam kekerasan dan pelecehan fisik dan non fisik yang dialami oleh kaum perempuan.
Judul tulisan tersebut ialah Suara Perempuan Perlu Didengarkan merupakan representasi dari pemikiran salah satu wanita yang mengatakan bahwa subordinasi perlu diterapkan karena beberapa sebab; pembaca yang budiman dapat membaca tulisan tersebut secara mandiri agar mendapatkan pemahaman yang kaffah.
Kembali ke isi tulisan saya yang mengutip pernyataan tersebut; kemudian mendapatkan pertentangan dari salah seorang teman yang mengatakan bahwa subordinasi bukanlah solusi karena memuat praktik yang jahat. Secara harfiah subordinasi merupakan penilaian bahwa salah satu gender lebih rendah dari yang lain. Subordinasi lebih banyak terjadi pada perempuan dan menjadikannya berada di posisi inferior atau lebih rendah.
Hal tersebut jika kita artikan secara definitif, mungkin hanya akan memperoleh pemahaman dari satu sisi; yakni memandang praktik subordinasi sebagai hal negatif. Akan tetapi, saat isi tulisan tersebut dimaksudkan sebagai hal sarkasme maka dapat diartikan berbeda; seperti yang akan penulis isi dan maksud dari tulisan tersebut.
Sarkasme
Aksi pelecehan dan kekerasan yang kerap didera oleh perempuan kini haruslah mendapatkan perhatian yang ketat dari pemerintah dan masyarakat umum; terutama para aktivis feminis maupun keperempuanan. Mengapa hal tersebut penting kita pahami, karena saat kita mau membaca gerakan perempuan dalam beragama realitas sosial maka kita akan menghormati kaum perempuan tentunya.
Kasus-kasus pelecehan seksual yang kini marak terjadi di Indonesia, merupakan representasi dari superiornya salah satu gender “pria” dapat sesuka hati mengatur; dan menumpahkan nafsu sesaatnya kepada makhluk yang dipandang lebih lemah daripadanya.
Selain itu, salah satu isu yang tengah marak yaitu perempuan yang dikambinghitamkan oleh seorang pria yang diduga suaminya; yang hanya disebabkan membalanjakan uangnya untuk kebutuhan pokok satu bulan mendatang; yang sebenarnya kemarahan tersebut hanyalah salah paham dan dapat diredam jika mau memahami pokok persoalan yang ada.
Hal-hal seperti inilah yang harus mendapatkan perhatian ketat dari para pemerhati yang memang benar-benar peduli akan nasib perempuan yang semakin diperlakukan semena-mena. Tentunya tidak semua perempuan diperlakukan demikian, namun tak menampik pula banyak perempuan yang mengalami perundungan; kekerasan; hingga pelecehan verbal dan non-verbal yang belum mendapatkan aspek keamanan maupun keadilan dari para pemangku kebijakan.
Selain itu, apa salahnya jika saya sebagai salah seorang laki-laki memberikan sebuah pendapat yang walaupun dipandangan menyimpang; tetapi hal itu dimaksudkan sebagai bentuk sarkasme; yang dimaksudkan apabila para lelaki dibalik menjadi objek kejahatan pelecehan, kekerasan dan kejahatan lainnya.
Bukan Solusi
Mungkin harus saya akui subordnasi juga tidak bisa dijadikan landasan solusi untuk menciptkan konsep kehidupan gender yang ideal. Hal ini terlihat dengan definisi subordinasi adalah merendahkan salah satu gender; padahal jika kita mau meruntut lebih dalam fungsi gender adalah saling melengkapi bukan merendahkan.
Dalam menciptakan kehidupan antar gender adalah dengan memahami makna secara sempurna mengapa gender itu diciptakan; yakni bukan menjadi siapa paling yang terbaik, melainkan untuk saling melengkapi.
Walaupun laki-laki memang dari kodratnya diciptakan sebagai pemimpin untuk kaum perempuan akan tapi tidak serta merta kaum pria boleh melakukan apa saja yang ia mau disebabkan memiliki kelebihan yang secara kodrat telah digariskan oleh Tuhan sejak awal.
Justru dengan kelebihan yang dimiliki kaum pria sebagai pemimpin kaum perempuan haruslah memanfaatkan hal lebih tersebut sebagai faktor untuk melindungi dan menjaga harkat martabat kaum perempuan; bukan malah sebaliknya digunakan untuk berbuat serta merta sesuka hati seperti, pelecehan, perundungan hingga pelecehan verbal maupun non-verbal.
Perlu dipahami kembali bahwa gender yang diciptakan oleh Tuhan “pria dan wanita” adalah untuk saling melengkapi kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain. Kehidupan manusia telah diciptakan oleh Tuhan dengan konsep azwajan, yakni berjodoh-jodoh untuk saling melengkapi agar tercipta kehidupan yang dinamis.
Jadi seputar makna subordinasi tersebut hanyalah sebagai bentuk sarkasme belaka terhadap para pelaku kejahatan terhadap kaum perempuan, apabila nasibnya dibalik. Justru dengan sarkasme inilah kaum pria maupun wanita harus memahami kembali makna gender secara baik beserta pnerapannya pada realitas sosial sehingga terjadi hubungan timbal balik yang harmonis.
Mahasiswa INISNU Temanggung. Pernah menempuh jalur pendidikan Pondok Pesantren Chasanah asuhan KH. Abdul Jalil (2013-2016) dan Pondok Pesantren Sunan Plumbon, Krajan Tembarak asuhan KH. M. Abdul Hakim Cholil, S.Ag. saat ini aktif sebagai salah satu mahasiswa di Institut Islam Nahdhatul Ulama (INISNU) Temanggung, diamanahi menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Progam Studi (HMPS) PGMI INISNU Temanggung periode 2021-2022 dam pengurus Rayon KH. Subuki Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Trisula INISNU Temanggung dan menjadi tenaga kependidikan di MI Ma’arif 2 Tlogopucang. Disela-sela kesibukan memiliki hobi menulis dan pernah meraih prestasi diantaranya; nominasi pemenang artikel Milad Hidayatuna ke-2 (2021), juara 2 Lomba Menulis Refleksi Kemerdekaan 76 Tahun oleh Anggota DPD RI Bapak Tamsil Linrung (2021), dan juara 3 lomba menulis Artikel dalam rangka hari santri oleh PCNU Temanggung (2021). Mengirimkan di berbagai media massa diantaranya yang termuat: Haraktuna.com, Ma’arifjateng.or.id, Hidayatuna.com, Opini.id, MataBanua, Qureta.com dll.
