Dari semua masakan ibu, yang paling saya suka adalah soto. Soto yang berwarna kuning berkuah bening, bukan yang berkuah santan; yang pakai irisan ayam goreng, bukan daging. Soto yang sambalnya sudah dicampur kecap hingga tidak perlu ditambah kecap lagi; yang bihunnya banyak sekali sehingga saya tidak perlu tambahkan nasi.
Soto kemudian menjadi makanan yang mewakili perasaan rindu saya pada ibu. Itu tentu saja terjadi ketika saya jauh dari ibu untuk sekolah, bekerja, dan kemudian berkeluarga.
Saya terbiasa jauh dari ibu. Sejak SMA, saya sudah tinggal terpisah. Sekolah dan kuliah di Jogja, lalu bekerja di beberapa kota. Saya sempat pulang untuk merawat bapak yang saat itu stroke pada tahun 2008. Pada saat itu, bapak memang membutuhkan bantuan untuk beraktifitas. Rasanya kasihan saja jika ibu sendirian yang mengurus bapak. Setelah bapak mulai bisa sedikit mandiri, saya pindah ke Palembang hingga sekarang.
Saya pulang ke rumah ibu biasanya pada saat libur akhir tahun. Jadwal kepulangan saya biasanya sudah ditanyakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Pada hari keberangkatan, ibu bisa menelepon saya berkali-kali untuk memastikan pukul berapa saya sampai rumah. Hal itu ibu lakukan karena beliau ingin menyajikanya dengan kuah yang panas. Padahal menghangatkan kuah soto tidak butuh waktu yang lama. Namun, begitulah ibu.
***
Dulu, saya selalu berpikir apa yang dilakukan ibu berlebihan. Namun, saya sadar ibu hanya ingin memberi sesuatu yang terbaik, yakni menyajikan soto dengan kuah panas. Sesuatu yang bisa diterjemahkan sebagai wujud cintanya yang hangat pada saya.
Biasanya ibu menyediakan soto yang luar biasa banyak jika saya pulang. Persis seperti sajian lebaran meski hanya saya sendiri yang datang. Masalahnya, sejak bapak berpulang, ibu tidak punya orang yang “dikorbankan” untuk mencicipi kuahnya. Itu sebabnya, soto buatan ibu kerap terlalu kentara rasa mericanya. Hal itu membuat saya sering sakit perut jika mengonsumsi terlalu banyak.
Namun, saya pasti akan memakan soto buatan ibu sebanyak perut saya bisa menampung. Kadang sengaja tidak makan di perjalanan supaya bisa makan soto ibu sebanyak-banyaknya.
Saya suka melihat wajah ibu tersenyum sambil memandangi saya makan seperti orang tidak pernah makan sebelumnya. Lebih suka lagi dengan wajah bahagia ibu ketika saya nambah. Tentu saja wajahnya makin berbinar ketika saya mengatakan bahwa sotonya enak, soto terenak nomor satu di dunia.
***
Pandemi mengubah banyak hal. Termasuk berbagai hal dalam kehidupan saya. Setidaknya saya tidak bisa sewaktu-waktu menempuh perjalanan Palembang-Lampung jika saya merindukan ibu. Terakhir saya pulang dan makan soto ibu ketika peringatan seribu hari meninggalnya bapak. Itu terakhir kali saya makan soto buatan ibu.
Dulu ketika belum menikah, saya sering marah kalau ibu memaksa saya makan dan makan lagi. Hal ini kadang menimbulkan kejengkelan, baik dari saya maupun dari ibu. Saya merasa ibu terlalu berlebihan. Sedangkan ibu merasa saya tidak menghargai masakannya.
Sekarang, di masa pandemi yang sangat sulit ini, saya sering kangen soto buatan ibu. Soto yang bihunnya penuh semangkuk, yang ayam gorengnya begitu gurih meski penyedap rasanya hanya seuprit. Saya merindukan soto yang kalau saya makan kebanyakan, saya pasti mencret. Tentu itu terjadi apabila kebanyakan merica.
Sejujurnya, saya kangen makan sambil dilihat ibu. Kangen liat matanya yang berbinar senang. Kangen dia bilang, “Tambah, Ret. Itu Ibu bikin khusus buat kamu. Ibu ambilkan lagi ya?” Duh, rasanya tuh istimewa sangat.
***
Di awal pandemi, saya sering masak soto. Saya menanyakan resepnya dan kemudian mengeksekusi dengan harapan yang tinggi. Saya mencoba dengan sungguh untuk menduplikasi, tapi tidak pernah bisa sempurna.
Pada saat demikian, saya menyadari bahwa bukan sotonya yang saya rindukan. Ternyata saya merindukan sosok yang meracik bumbu, mengiris kol, menggorengkan ayam, membuatkan sambal kecap, menunggui kuah yang menggelegak itu. Ya, saya ternyata rindu pada sosok di balik enaknya soto panas itu.
Saya selalu merindukan ibu lengkap dengan sotonya, saat beliau menelepon saya. Atau saat saya mengingat kata-katanya, “Gimana kabarmu? Situasi memang sulit. Tapi kalau kamu berusaha dan terus percaya kepada Allah, pasti ada jalan. Oh ya, cucu-cucuku jangan dikasih makan mie instan terus ya.”
Saya selalu tertawa jika ia berkata demikian. Lalu, memandangi anak-anak yang makan mie instan dan pada gelas kopi saya yang mulai dingin. Ah, pandemi telah menjungkir balikkan banyak hal dalam hidup saya. Beruntungnya, saya dan anak-anak masih bertahan.
Dua bulan lagi beliau ulang tahun. Tentu saya berharap beliau tetap sehat di tengah situasi pandemi yang makin mengerikan ini. Saya berharap segala yang terbaik untuk beliau. Andai bisa, saya ingin bertemu, memeluknya, dan makan soto buatannya. Dan jika saya tidak bisa bertemu dengannya, saya ingin menyampaikan rindu melalui duplikasi soto ibu. Meski rasanya tak pernah sama–tidak pernah sama–.
Katarina Retno Triwidayati, M.Pd., merupakan ibu dua anak yang bekerja sebagai dosen di Univeritas Katolik Musi Charitas. Beberapa artikel dan cerita pendeknya telah dimuat di majalah/ koran daerah/ nasional.
