Hari-hari berlalu seiring gempita pandemi
Lelah jua jiwa ini menahan sepi sepanjang hari
Ingin rasanya seperti mereka bebas pergi kesana-kemari
Dengan jet pribadi meluncur ke lain benua
Bekal surat sehat ditanggungnya
Namun pikiran ini tak dapat dibohongi
Ada rasa takut menghampiri
Terlebih banyak anak yang belum bisa mengutarakan rasa
Entah sampai kapan harus menahan diri
Sementara kaki ini terus saja ingin berlari
Mendengar kerabat yang harus pergi meninggalkan bumi
Dirundung covid dan peyakit penyerta
Rasanya semakin takut pergi jauh dari rumah
Derita demi derita silih berganti
Ujung timur Jakarta
Dijadikan tempat pemakamannya
Tanpa dilihat anak istri
Ia pergi dan tiada pernah kembali
Sesak dan sesal bergelayut di hati
Sampai kapankah akan terus begini
Tersiar kabar sanak saudara dirumahkan
Banyak suami ganti profesi
Tanpa gaji untuk rumah tangga sehari-hari
Sedang di rumah ia punya anak istri
Adakah gerangan yang mampu membantu deritanya
Ataukah perceraian jadi jalan terbaik bagi mereka
Oh, betapa kerdil buah pikir ini
Sepertinya konsultasi mental begitu berharga dalam menjalani hari
Supaya rasa syukur tak hilang dalam diri setiap insan
Bersyukur karena diberi nikmat sehat
Bersyukur karena masih diberi kesempatan memiliki keluarga yang utuh
Bersyukur karena masih ada beras di dapur
Bersyukur karena masih diberi waktu menikmati hari ini
Ibu rumah tangga, domisili di Lubang Buaya. Tertarik pada dunia baca tulis, hingga saat ini masih dalam proses belajar membaca dan menulis.
