Menikah adalah momentum yang paling ditunggu oleh setiap orang, termasuk diriku secara pribadi. Namun, jauh sebelum itu kita harus mempersiapkan diri dengan baik terlebih dahulu. Sebab, menikah adalah ibadah terpanjang. Kita harus memastikan bahwa untuk menuju tahap tersebut kita harus benar-benar siap.
Aku tahu dari waktu ke waktu selalu muncul tanda tanya besar dalam benak kita. Tanda tanya bahwa siapa sih yang kelak akan membersamai kita di masa depan? Akan tetapi, jawaban itu tidak akan kita dapati karena siapa pun jodoh kita adalah rahasia sang Pencipta semesta.
Kita cukup yakin saja bahwa jodoh yang akan datang di kemudian hari adalah cerminan dari diri kita sendiri. Tugas kita saat ini adalah belajar secara terus menerus. Gunakan waktu kita untuk terus berupaya menjadi seseorang yang lebih baik. Percayalah bahwa perkara jodoh itu sudah dijamin sama Allah.
Ada dua pilihan yang bisa kita ambil selama fase penantian. Pilihan yang pertama ialah merumuskan life plans atau peta masa depan untuk diri kita. Pilihan yang kedua adalah mengambil sebanyak mungkin kesempatan untuk lebih banyak belajar.
Ingatkan diri kita bahwa fase jomblo atau penantian harus dilewati dengan produktif. Kita harus melakukan hal-hal yang terbaik di fase ini. Ingatkan diri kita bahwa semua ada masanya. Ingatkan diri kita bahwa kita yang belum diamanahi jodoh oleh Allah merupakan orang-orang pilihan. Kenapa? Karena Allah memberikan kita kesempatan berbenah terlebih dahulu. Jika kita berniat untuk mendapatkan pasangan terbaik, maka alangkah lebih baik lagi upayakan diri kita sendiri terlebih dahulu.
Ada 3 pattern atau rumus yang bisa kita pakai dalam masa penantian yakni:
1. Produktif belajar
Luangkan waktu kita untuk belajar apa saja yang belum kita bisa. Misalnya, jika selama ini kita belum terlalu pandai memasak, maka sekarang upayakan untuk mendalaminya. Contoh yang lain, jika sampai saat ini kita belum paham soal cara mendidik anak, dll, maka belilah buku-buku parenting dan pelajari. Jika selama ini kita meledak-ledak di saat marah, maka coba belajar untuk mengendalikan diri. Dengan menyibukkan diri kita belajar, insyaallah kita secara tidak langsung sedang mempersiapkan diri kita sendiri.
2. Produktif berkarya
Pada tahap ini apa yang telah kita pelajari, mari kita share atau berbagi ke orang lain supaya ilmu yang kita peroleh tidak berhenti di kita semata. Lagi-lagi harus kita ingat bahwa sebaik-baiknya orang adalah yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Kita bisa melakukan tahap ini dengan berbagi cara seperti: ikut terjun dalam beberapa komunitas sosial, membagikan tulisan-tulisan sederhana kita di sosial media, sharing bersama teman sejawat, dan pengupayaan lainnya.
3. Produktif berdaya
Sebagai seorang muslim/muslimah kita harus berdaya. Kita tak boleh lembek-lembek. Kita harus berdaya dalam berbagai bidang. Tiga di antaranya adalah berdaya secara ilmu, mental, dan finansial. Kenapa? Karena dengan ketiga ini bisa mempersiapkan diri kita untuk menjadi kepala madrasah atau ibu madrasah terbaik di madrasah rumah tangga kita nanti.
Dear Saudaraku,
Belajar itu bak menabur benih. Ketika kita berkarya, maka benih itu sedang bertumbuh, dan tentunya kita secara pribadi juga ikut bertumbuh.
Di saat kita berdaya, benih yang kita tanam tadi bisa kita panen, dan tak hanya kita seorang yang menikmatinya, tetapi orang-orang di sekeliling kita juga ikut merasakan manfaatnya. Oleh karena itu, kuatkan azam kita untuk terus memantaskan diri!
Percayalah bahwa Allah itu memberikan sesuatu sesuai kadar kepantasan diri kita. Jika ingin mendapatkan partner hidup yang terbaik, maka upayakan diri kita menjadi yang terbaik lebih dahulu. Ingatkan dalam benak kita bahwa pernikahan adalah bentuk kolaborasi, so kita harus pastikan bahwa diri kita harus siap untuk kolaborasi bersama partner kita kelak.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk ‘tuk memantaskan diri agar kelak ketika sudah bersama, kita cukup mempraktikkan apa yang telah kita pelajari. Kita bisa menyebarluaskan ilmu yang telah kita peroleh kepada orang lain. Ayo bersemangat untuk terus melejitkan potensi kita, buatlah Sang Khalik percaya bahwa kita tidak sedang main-main dalam menyambut sebuah hal yang serius. Hamasah everyone! Kamu, aku, dan kita semua pasti bisa menjadi yang terbaik jika kita sungguh-sungguh dalam berikhtiar dan berdoa.
Seorang guru Bahasa Inggris di sebuah sekolah di Malang dan telah menulis lebih dari 10 antologi bersama dengan para penulis lainnya di beberapa klub menulis. Motto hidupnya adalah belajar dan berkaryalah tanpa henti. Yuk berkenalan dengannya lewat Facebook Mardhatillah Mardha, Instagram @mardhatillah27_.
