Site icon Inspirasi Muslimah

Saudagar Perempuan yang Suka Berderma (1)

saudagar

Oleh Juwanti (Jujuk)

Saya ingin bercerita tentang seorang perempuan paruh baya berusia 64 tahun. Perempuan itu bernama lengkap Noor Liesnani Pamella. Ia memiliki lima orang anak buah cinta pernikahan dengan suaminya bernama Sunardi Syahuri. (Alm). Noor Liesnani Pamella dilahirkan di Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 13 September 1955. Banyak orang kagum dengan beliau tentang kesederhanaannya, ramah, dermawan, dan ceria. Meskipun terlahir dari keluarga sederhana, Noor Liesnani Pamella memiliki semangat kerja keras yang tinggi dalam mengarungi perjuangan hidupnya. Berkat tempaan itu, Noor Liesnani Pamella bisa melewati rintangan-rintangan hidup yang dilaluinya.

Noor Liesnani Pamella yang sering dipanggil Ibu Pamella adalah saudagar perempuan Muhammadiyah yang suka berderma. Ia menggeluti bidang ekonomi dengan mengembangkan sayapnya dalam bisnis ritel Pamella Group, SPBU, Salon Khusus Perempuan, Senam Perempuan, dan lain-lain. Kesuksesan yang nampak saat ini bukanlah warisan dari keluarga. Namun hasil kerja keras, taat beribadah, selalu berdoa, hemat, sederhana, ikhlas, dan jujur.

Pamella mampu mengantarkan bisnis ritel yang dipimpinnya tumbuh dan berkembang pesat, serta memberi manfaat untuk orang banyak. Apa yang beliau mimpikan sejak dulu yaitu ingin kaya dan sukses. Sehingga bisa berbagi dengan ribuan orang. Keberhasilan itu terwujud dengan kunci sungguh-sungguh dengan bisnis Syar’i sekaligus membantu orang. Dari situlah kita dapat memetik perjuangan Noor Liesnani Pamella yang luar biasa.

Keturunan Pedagang

Pamella suka sekali dengan makanan yang sudah dilumuri parutan kelapa. Perempuan hebat ini adalah seorang keturunan dari keluarga pedagang. Ia terlahir sebagai anak sulung dari pasangan Hadisunaryo (Alm) dan Hj Marlin. Pada masa awal pernikahan orang tuanya, orang tuanya pindah di rumah orang tuanya, sehingga Pamella lahir dan besar di rumah simbah. Dalam satu rumah dihuni oleh tiga kepala keluarga di mana masing-masing keluarga mengelola bisnis dengan skala menengah.

Bermacam-macam usaha pun dikembangkan keluarga Pamella. Dengan lingkungan keluarga pedagang dari kecil, Pamella sudah terbiasa melihat bagaimana orang tuanya berbisnis. Antara lain batik, tenun, warung makan, perhiasan imitasi dengan merek Ircham, agen bedak kecantikan bermerek Yayi dan toko peralatan kepanduan.

Sembilan tahun sudah Pamella dan keluarga tinggal bersama simbah, dan pada akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah baru. Rumah itu hasil dari perjuangan menabung selama ini. Setelah pindah rumah, usaha berdagang kain batik yang digeluti orang tua Pamella sempat berkembang, tetapi pada akhirnya mengalami penurunan omset. Hal itu bukan karena dampak krisis politik dan ekonomi, tetapi adanya perubahan mode busana di pelosok Indonesia.

Akhirnya tanpa ragu-ragu keluarga Pamella mengalihkan usaha ke bidang lain. Contohnya budidaya ikan, baik ikan segar maupun yang sudah matang, peternakan ayam petelur dan bertani, penjualan ikan segar, penjualan tanaman hias dan buah-buahan, serta penggilingan padi. Alhamdulillah Pamella di saat itu merasa bahagia dan berkecukupan.

Setelah bapaknya wafat baru menyadari kalau ternyata semua usaha ayahnya menggunakan dana pinjaman dari bank. Menurut Pamella, bahwa bapaknya adalah seorang pemberani yang mengambil resiko untuk mengembangkan usaha bisnisnya. Meskipun hal itu mebuat keluarga yang ditinggalnya terbebani hutang dengan jumlah tidak sedikit.

Menurutnya, semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan seperti dalam QS. Ali Imran ayat 26 yang artinya “Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’’ Dengan adanya doa itu untuk memohon anugrah dari Allah SWT berupa kekuatan dan keluasaan rezeki.

Masa Surut

Dari sekian usaha yang digeluti bapaknya semakin lama semakin lancar dan berkembang pesat. Setelah membuka usaha budidaya juga jual beli ikan konsumsi dan penggilingan padi, Bapaknya pernah membuka usaha agen minyak tanah. Namun masa keemasan bapak tidak berlangsung lama. Sekitar tahun 1970 Bapaknya jatuh sakit berat yang sulit disembuhkan dan akhirnya meninggal. Usaha yang selama ini dirintisnya akhirnya tidak bisa dipertahankan dan ia bersama ibunya harus berjuang melunasi hutang bapaknya yang sangat besar. Masa-masa itu adalah masa kelam dan surut.
Mana kala bapak Pamella meninggal, Pamella masih berusia 15 tahun. Pada saat itu, dia sudah mampu melihat bagaimana pedihnya hati Ibunya. Ibunya dengan tegar, ikhlas, tabah, dan tanpa putus asa berjuang keras memenuhi kebutuhan keluarga untuk menghidupi empat orang anak. Setelah bapaknya wafat, Ibunya bertekad membesarkan anak-anaknya sendiri tanpa menikah lagi. Bersyukur di saat-saat surut saudara-saudaranya banyak yang peduli untuk membantu. Sebab tanpa bantuan mereka mungkin Ia dan adik-adiknya terancam tidak bisa bersekolah karena biaya.

Pamella berusaha meringankan beban ibu dengan membantu membawa makanan kecil ke sekolah bahkan menjualkan pakaian yang diambil dari toko pakaian saudara. Hal itu saya lakukan tanpa malu, ujar Pamella. Sepulang sekolah ia harus kulakan barang yang persediaannya menipis dengan menggunakan sepeda pemberian simbah. Semua dilakukan dengan ikhlas dan senang.

Putus Sekolah Demi Usaha

Sewaktu SMA, Pamella sempat mengalami kesulitan, karena dia harus membagi kesibukannya antara belajar dan mengurus Toko yang semakin berkembang. Pada akhirnya, terkadang dia mengabaikan waktu belajar karena tak tega dengan sang ibu yang bekerja sendirian. Pamella sering tak mengerjakan PR, hingga takut bertemu guru mata pelajaran tertentu hingga akhirnya dia mengidap Psikosomatis (red: salah satu masalah psikologis). Hal itu terjadi karna dia mengalami trauma terus menerus yang tidak menyenangkan. Pamella kemudian dibawa ke psikiater, menurut psikiater, dia harus memilih sekolah atau mengurus toko. Akhirnya ia memilih mengurus toko dan keluar dari sekolah dengan petunjuk Tuhan.

Pamella tetap semangat dan terus menerus berupaya mengembangkan diri menjadi saudagar. Masih penasaran dengan kelanjutan cerita Pamella. Tunggu lanjutannya di Part 2 ya, Rahmania!

*)Juwanti : guru, aktivis perempuan muda dan alumni Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Bagikan
Exit mobile version