Site icon Inspirasi Muslimah

Proses Mendewasakan Diri

orang

Husna Fathiyah

Aku seorang gadis desa yang punya mimpi besar. Namaku Hafizah, anak pertama dari keluarga yang memiliki latar belakang didikan orang tua yang keras. Hidup bersama kedua orang tua yang serba berkecukupan. Memiliki perjalanan hidup yang selalu terlihat orang baik-baik saja, tapi buruk bagi diriku sendiri. Aku selalu ingin tahu banyak hal, banyak keinginan dan butuh sosok seorang yang senantiasa mendukung apa yang menjadi keinginanku.

Aku seorang anak yang ambisius, selalu ingin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Tetapi, selalu saja gagal karena keluargaku sendiri. Setiap apa yang ingin aku lakukan serba salah di mata mereka, dan mereka akan melakukan apa saja agar bisa menggagalkan rencana, bahkan impian besarku. Hari-hariku penuh rasa takut dan bersalah. Ketika melangkahi kehendak mereka aku adalah anak durhaka, tapi ketika aku diam saja aku menjadi bodoh di depannya.

Padahal apa yang ingin aku lakukan itu adalah hal yang baik. Aku hanya ingin berbagi ilmu dan bermanfaat bagi banyak orang. Meluangkan waktu untuk hal-hal yang positif bersama orang-orang di sekelilingku. Ingin sekali rumah itu ramai dengan anak-anak yang ingin belajar Al Qur’an dan literasi. Aku selalu iri melihat teman-temanku yang basicnya saja tidak berpendidikan tapi mampu mendidik banyak anak di rumahnya.

***

Orang tuaku selalu bilang, tidak perlu membuang-buang waktu dengan hal yang tidak memberimu banyak uang. Lelahmu hanya terbayar dengan gratisan! Sungguh menurutku itu pemikiran yang bodoh, padahal Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 66 yang artinya: “Dan sesungguhnya kalau mereka mengamalkan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan mereka.”

Aku sadar sampai saat ini aku masih dalam proses belajar, seringkali aku membantah apa yangkedua orang tuaku katakan. Sejak kecil aku memang sudah dididik keras oleh kedua orang tua. Perkataan kasar, bermain tangan sudah pernah kurasakan. Di mata mereka aku adalah anak yang bodoh, anak yang seringkali mendapat kemarahan padahal tidak bersalah. Mereka juga sering bertengkar dan aku menjadi pelampiasannya.

Aku pikir hidupku sungguh buruk, aku selalu menangis dan membenci diriku dan keluargaku. Aku memendam ini sendiri, tiada seorang pun yang tahu. Orang-orang di luar sana hanya melihat keharmonisan yang tertutupi kebencian mendalam. Ini memang salah, seharusnya aku tidak harus merasakan ini hal yang buruk, tapi sebuah rintangan.

***

Setiap keberhasilan yang aku dapatkan, mereka selalu menganggapnya kebetulan. Yaa.. aku memang tidak pintar seperti teman-temanku, tapi aku selalu ingin belajar dan belajar. Tapi, sedikitpun tak pernah dihargai. Sampai di sini aku belum menyerah, perkataan mereka aku jadikan sebuah kekuatan, bahwa aku tidak lemah. Mental seorang anak pertama memang jatuh ketika orang tua sendiri merendahkannya. Anak pertama memang berhadapan dengan hal-hal yang membuatku lebih sabar dan tidak jatuh.

Menghindari kerusuhan di rumah, aku selalu menghabiskan waktu di luar. Mengikuti kajian, berkumpul bersama teman-teman dan bahkan mencari waktu untuk sendiri. Menurutku rumah menjadi lebih tenang ketika aku tidak ada. Dan aku lebih menikmati hari-hariku bersama teman-teman, walaupun orang bilang keluarga adalah segalanya. Tapi, aku bilang kehidupanku yang mengatur segalanya.

Sehingga aku pernah bermimpi, dan mimpi itu aku tuliskan di dalam buku kecilku. Di dalamnya kutuliskan bahwa setelah selesai pendidikan di bangku perkuliahan ini selesai, aku ingin melanjutkan pendidikan agama di Pesantren. Karena aku berpikir bahwa ketika nanti aku di Pesantren kehidupanku akan menjadi lebih baik dan lebih tenang.

***

Saat ini aku belajar menjalani hidup dengan ikhlas dan lebih sabar. Anak pertama memang harus tahan banting, walaupun di akhir juga sering menangis. Semua itu adalah ujian dari Allah, kenapa Allah berikan ujian yang berat seperti ini? Karena Allah tau hambanya mampu melewati itu. Allah sedang menguji kesabaranku, dengan mendatangkan lika-liku di setiap langkahku.

Setahun lalu aku pernah menulis sebuah impian ingin membangun rumah baca. Dan Alhamdulilah setelah aku belajar dari teman-teman yang mengelola rumah baca. Aku mendapat kepercayaan untuk membangun rumah baca di rumahku sendiri. Dari tangan-tangan orang baik yang selalu ingin mendengar keluh kesahku, kini mereka memberi kesempatan untuk terus semangat dan belajar lebih giat lagi. Setelah rumah baca buka dan banyak sekali buku-buku di rumah, kini banyak anak-anak yang datang dan belajar.

Hari-hari kuhabiskan dengan teman-teman kecil dan buku-buku yang ada. Sebenarnya ada hal yang ingin aku wujudkan lagi, yaitu membuat tempat belajar yang terbuka dan lebih nyaman. Tapi, aku tau pasti akan menyusahkan orang tuaku. Dan aku mengurungkan niat itu, dan lebih menghargai apa yang ada. Aku percaya suatu saat nanti, ini akan menjadi suatu hal besar yang tidak satupun orang tau. Walaupun dari hal kecil yang aku lakukan, setidaknya bermanfaat bagi mereka.

***

Belajar menyikapi suatu hal dengan lebih dewasa, perlu kita sadari masalah yang hadir itu untuk mendewasakan diri kita. Orang pikir mimpi kita terlalu tinggi, tapi pemikiran mereka yang terlalu rendah. Setiap orang punya cara sendiri untuk bangkit dan mewujudkan mimpi. Langkah orang yang memiliki mimpi yang besar tidak pernah mulus, selalu ada jalan yang terjal yang harus dilewati. Allah yakin kamu bisa. Tetaplah rendah hati.

Kisah ini akan menjadi pelajaran bagi segelintir orang di luar sana. Bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Tapi, berikanlah yang terbaik. Tunjukan bahwa kita tidak lemah dan mampu mewujudkan apa yang kita inginkan. Beranilah bermimpi besar, jangan takut akan kegagalan. Karena orang yang sukses pasti pernah merasakan kegagalan.

Bagikan
Exit mobile version