Beberapa waktu yang lalu, kampung saya geger dengan adanya peristiwa pencabulan yang dilakukan orang dewasa terhadap anak usia 6 tahun. Kejadian tersebut dipergoki oleh tetangganya yang langsung berteriak minta tolong. Penyamaran yang dilakukan pelaku dengan memakai helm fullface dan mengancam menggunakan pisau ke arah si anak sehingga anak takut untuk memberontak. Akhirnya pelaku berhasil melarikan diri dari lokasi kejadian setelah teriakan minta tolong dari tetangga tersebut.
Hasil asesmen awal bahwa pelaku telah melakukan penyerangan seksual berupa kontak seksual antara kelamin pelaku dan korban. Korban bercerita kepada orang tuanya bahwa pelaku telah “pipis” pada pakaian dalam si korban.
Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) sejak 1 Januari hingga 31 Juli 2020, terdapat 4.116 kasus kekerasan pada anak di Indonesia dan enam puluh persen dari data tersebut merupakan korban kekerasan seksual, (Kompas.com, 24/8/2020).
***
Pendidikan seks dan seksualitas adalah dua hal yang sama namun berbeda. Pendidikan seks adalah tentang pengetahuan fisik dan aktivitas seksual genital, sedangkan seksualitas adalah mencakup pikiran, pengalaman, ideal, nilai, fantasi, dan emosi dari pendidikan seks itu sendiri. Namun, masih banyak orang tua yang sulit untuk memberikan informasi dan pendidikan seksual kepada anak-anak mereka, termasuk juga saya.
Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa anak adalah kelompok yang sangat rentan menerima perlakuan pelecehan seksual. Artinya komunikasi dalam keluarga untuk memberikan pemahaman tentang pendidikan seks dan seksualitas begitu penting. Sehingga anak dapat mengerti sejauh mana seseorang boleh berinteraksi dengan tubuh mereka.
Namun ada jalan berliku untuk menuju kondisi ideal tersebut. Beberapa kendala yang menyulitkan komunikasi orang tua kepada anak tentang pendidikan seks di antaranya; pertama, masyarakat Indonesia masih mempunyai pemahaman bahwa seksualitas adalah urusan yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka.
Beberapa dekade yang lalu, pembicaraan seksualitas hanya menjadi bahasan dalam ruang tertutup, tidak adanya kebebasan untuk mencari tahu atau mempelajari secara terbuka apa itu seksualitas.
Sebagian masyarakat kita masih memegang tradisi bahwa pengasuhan seorang anak merupakan tanggung jawab orang dewasa dan pembahasan-pembahasan seksualitas masih tabu dalam keseharian mereka. Sekalipun ada tradisi suku bangsa tertentu yang melakukan pernikahan di usia dini, pendidikan seks dan seksulitas juga tidak di bicarakan dalam keluarga.
Bagi kelompok masyarakat seperti kakek dan nenek beranggapan bahwa pendidikan seks merka dapatkan “pada saatnya nanti”. Menurut mereka pemberian pemahaman tentang pendidikan seks merupakan kewajiban sekolah, bukan orangtua. Dan pemahaman ini berakibat pada kenyataan bahwa pelaku kekerasan seksual pada anak-anak sangat besar dilakukan oleh keluarga terdekat.
***
Kendala kedua, orang tua tidak memiliki kecakapan yang cukup terkait pendidikan seks. Orang tua milenial merupakan produk tahun 80an, di mana pembicaraan tentang pendidikan seks juga bukan hal yang biasa didengar dan dibicarakan. Selain itu, kemampuan berbahasa dalam memberikan penjelasan tentang hal-hal yang “tabu” ini membuat perasaan orang tua menjadi tidak percaya pada diri sendiri.
Tuntutan pengasuhan keluarga sekarang ditandai dengan menganut prinsip keterbukaan dalam berkomunikasi antar keluarga. Dalam komunikasi keluarga seorang anak dapat mengemukakan pendapat atau pertanyaan dengan bebas dan jawaban yang memuaskan mereka adalah yang diberikan secara logis dan ilmiah.
Di sini orang tua belajar memahami konsep dan konteks pendidikan seksual itu sendiri. Sehingga saat anak-anak mengajukan pertanyaan maka orang tua dapat memberikan jawaban yang valid dan memuaskan.
Bagi anak, orang tua merupakan pihak yang paling dapat dipercaya untuk mendapatkan informasi. Jika peran orang tua tidak memuaskan anak-anak, maka anak akan mencari dari pihak luar baik itu secara positif atau negative.
Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dari anak usia dini biasanya adalah yang sering mereka dengar atau mereka lihat dari gadget, baik itu televisi maupun ponsel. Berawal dari perbedaan jenis kelamin si anak dan orang tuanya. Jika masih dalam tahap anatomi tubuh, tentunya orang tua mudah untuk memberikan pemahaman kepada si anak.
Permasalahan akan timbul jika anak menuntut penjelasan yang mengarah pada “hubungan seksual” orang dewasa yang mereka dengar dalam percakapan sehari-hari.
Anak mendapat penjelasan bahwa jenis kelamin yang berbeda tidak melakukan aktivitas tertentu secara bersama-sama karena perbedaan jenis kelamin, misalnya mandi dalam ruangan tertutup. Namun anak juga butuh penjelasan secara logis mengapa penjelasan tersebut harus mereka patuhi.
***
Hambatan ketiga adalah orang tua enggan memberi penjelasan tentang pendidikan seks kepada anak; karena banyak orang tua di sekitar tidak melakukan hal yang sama dengan mereka. Pada saat si orang tua memberi penjelasan kepada anak secara logis kadangkala mendapat benturan dari lingkungan sekitar. Karena tidak semua anak mendapatkan penjelasan yang sama perihal pendidikan seks dari orang tua atau keluarga.
Sehingga saat anak-anak berkomunikasi dengan sesamanya, maka anak yang belum “terpapar” informasi pendidikan seks, akan menerima informasi yang seringnya salah dan berakibat marahnya orang tua terhadap anak karena telah “ngomong jorok”.
Menjadi kebutuhan orang tua milineal akan komunikasi efektif serta dapat memberikan pemahaman pendidikan seks untuk anak usia dini. Dan jika pun si anak menyampaikan informasi yang pastinya hanya potongan-potongan informasi tidak menimbulkan distraksi bagi anak lain.
Pendidikan seks dan seksualitas bagi anak usia dini juga salah satu bentuk pencegahan dari pelecehan seksual bagi mereka. Anak-anak adalah korban yang paling banyak dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang tua di sekitar.
***
Keempat, informasi peristiwa pelecehan/kekerasan seksual atau pencabulan yang terjadi di lingkungan kita, membuat keluarga korban merasa malu. Malu untuk mengadu kepada pihak yang berwenang, malu untuk berkonsultasi akibat dari peristiwa tersebut. Namun rasa malu orang tua ini berakibat fatal bagi si anak saat berusia dewasa.
Banyak peristiwa terjadi bahwa yang melakukan pelecehan seksual di saat mereka dewasa telah menerima pelecehan seksual di waktu mereka kecil.
Di sini terjadi lingkaran setan yang menjadi sebab dan akibat dari sebuah peristiwa. Tanpa adanya dukungan informasi yang baik, tindakan yang memberi dukungan, maka permasalahan yang terjadi tidak akan putus. Sehingga masalah tetap datang tanpa ada solusi yang berkesinambungan.
Untuk mendukung sebuah komunikasi dalam keluarga, kebiasaan untuk terbuka dalam komunikasi antara orang tua dengan anak sangat penting. Komunikasi adalah bentuk lain dari kasih sayang dalam sebuah keluarga. Keluarga yang selalu berada dalam keterbukaan berkomunikais lebih berbahagia karena kebutuhan fitrah manusia berinteraksi dengan manusia lainnya terpenuhi.
Komunikasi dalam pendidikan seks dan seksualitas adalah kebutuhan mutlak bagi anak terutama anak usia dini. Kemampuan merekam setiap informasi pada usia ini merupakan alat istimewa sehingga waktu yang tepat dalam memberikan informasi pendidikan seks dan seksualitas bagi mereka dan tentunya dapat mencegah mereka mengalami pelecehan seksual yang banyak terjadi saat ini. (RbR)
Bekerja sebagai ASN. Suka menulis karena ingin melepaskan kepenatan dalam pikiran yang bersiliweran dan berharap tulisan bermanfaat bagi orang lain.
