Site icon Inspirasi Muslimah

Najiyah dan Maryam, Sosok Perempuan dan Ibu Terbaik pada Masanya

perkawinan anak

Setiap tahunnya pada tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu di Indonesia. banyak dari kita berlomba-lomba untuk mengucapkan ‘selamat hari ibu’ atau memberikan hadiah yang spesial bagi ibu kita. Dari rahim ibulah kita dapat terlahir di dunia ini.

Pada hari ibu ini, saya ingin menceritakan kembali dua sosok perempuan dan ibu yang hebat yang melahirkan dua orang yang hebat. Yaitu ibunda dari nabi Musa yang bernama Najiyah -sebagian ulama berbeda pendapat tentang hal ini-, dan ibunda dari nabi Isa yang bernama Maryam.

Dua sosok ini adalah contoh sosok seorang ibu yang tegar. Apalagi saat mereka melahirkan anaknya, mereka banyak mengalami ujian dari Allah.

Kisah Ibunda Nabi Musa

Sebagian dari kita mungkin sudah tak asing dengan kisah ibunda nabi Musa. Bahkan kisah ini terekam dalam al-Qur’an itu sendiri.

Jadi pada saat itu Fir’aun, penguasa Mesir saat itu, bermimpi melihat api mendekati Baitul Maqdis dan melahap semua yang ada, kecuali bani Israil. Dari penafsiran para pentakwil mimpi, mereka mengatakan bahwa akan ada seorang dari bani Israil akan menggulingkan tahta seorang Fir’aun. Maka dari itu Fir’aun memerintahkan tentaranya untuk membunuh semua bayi yang lahir saat itu.

Maka saat Najiyah mendengar berita ini, turunlah wahyu surah al-Qashash ayat tujuh. “kami ilhamkan kepada ibunya Musa, ‘susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan, janganlah engkau takut dan bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul,’” (QS. Al-Qashahash: 7).

Setelah mendapatkan wahyu, Najiyah menghanyutkan anaknya Musa di sungai Nil dengan sebuah peti kecil. Tentunya sangat berat bagi Najiyah untuk menghanyutkan anaknya di sungai. Namun ia menepis semua keraguan itu dan tetap menghanyutkan anaknya dan percaya akan firman Allah.

Setelah hanyut, ternyata peti itu tiba di istana Fir’aun. Dan setelah peti kecil itu terbuka, Asiyah -istri Fir’aun, langsung jatuh hati pada sosok bayi yang ada di dalam peti itu. Dan ia membujuk Fir’aun untuk membolehkannya mengasuh bayi itu.

Singkat cerita, Asiyah mengasuhnya, qodarullah ternyata yang menjadi ibu susuannya adalah ibu kandungnya sendiri, yaitu Najiyah.

Kisah Ibunda Nabi Isa

Begitupun dengan kisah dari ibunda nabi Isa, Maryam. Kisahnya juga banyak terekam di dalam al-Qur’an.

“(Ingatlah) ketika para malaikat berkata ‘Wahai Maryam, sesunggunya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu). Wahai Maryam, taatilah Rabbmu, sujud dan ruku’lah bersama orang yang ruku’. ‘itulah sebagian dari berita-berit ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar. (Ingatlah), ketika para malaikat berkata, ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang saleh.’” (QS. al-‘Imron: 42-46)

Maryam seorang perempuan yang taat, kehidupan sehari-harinya diisi dengan ibadah dan taqorub kepada Allah.

Suatu ketika ia didatangi oleh seseorang yang tinggi dan bercahaya. Dan ternyata orang itu adalah malaikat Jibril yang berubah menjadi seorang manusia. Jibril mengabarkan bahwa Maryam akan melahirkan seorang anak laki-laki yang suci. Tentunya hal ini membuat sedikit membuat Maryam khawatir. Ia berpikir bagaimana mungkin seseorang dapat hamil tanpa ada seseorang yang menyentuhnya dan ia juga bukan seorang pezina.

Lalu Jibril menjawab,

“Demikianlah Rabbmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan,’” (QS. Maryam: 21)

Singkat cerita pergilah Maryam ke Gunung Sion untuk beribadah. Ia di sana bersama Yusuf an-Najar, sepupunya. Mereka berdua di sana menngabdikan dirinya untuk beribadah dan menjaga kesucian tempat itu.

Saat waktu melahirkan kian mendekat, Maryam pergi meninggalkan desa. Kemudian, ia bersandar pada pohon kurma yang kering sendirian. Di sanalah ia sendirian berjuang melahirkan putranya, Isa. Ia merasa sedih karena merasa sendirian.

Lalu Isa berkata pada ibunya untuk jangan bersedih dan berkata “… sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu” (QS. Maryam: 24). Dan air sungaipun di bawahnya. Lalu Isa brkata kembali, “Goyangkanlah pangkal pohon kurma it uke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (QS. Maryam: 25)

Setelah kekuatannya pulih, Maryam kembali ke desa tempat tinggalnya bersama bayi yang baru dilahirkannya. Otomatis orang-orang bertanya anak siapakah yang dibawa Maryam. Dan banyak dari penduduk bersangka yang tidak-tidak terhadap Maryam. Tuduhan demi tuduhan banyak diterima Maryam. Lalu Maryam menyuruh penduduk desa untuk menanyakannya kepada bayinya saja. Tentunya banyak penduduk bertanya-tanya, bagaimana bayi yang baru lahir dapat bicara.

Lalu nabi Isa berkata, “sungguh, aku hamba Allah dia membriku alkitab dan Dia menjadikanku seorang nabi …” (QS. Maryam: 30)

Sontak saja itu membuat penduduk menjadi kaget dengan keajaiban itu. Isa diurus oleh Maryam dengan penuh kasih sayang. Ia dan nabi Isa pernah tinggal di Mesir selama 12 tahun guna menghindari akan kejaran kaisar Romawi yang keras dan takut akan kehadiran nabi Isa.

Setelah 12 tahun di Mesir dan kaisar Romawi telah wafat, mereka berdua kembali ke desa tempat tinggalnya di Palestina.

Hikmah

Baik Najiyah maupun Maryam, mereka berdua adalah sosok perempuan dan ibu terbaik pada masanya. Perempuan mana yang saat itu menerima wahyu dari Allah. Jika bukan karena ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah, tidak mungkin bagi mereka namanya akan terukir di dalam al-Qur’an.

Najiyah meski merasa sedih dan khawatir terhadap putranya, ia rela menghanyutkan putranya dan percaya akan firman Allah yang akan menjaga putranya. Meski ia merasa sedih, ia percaya akan firman Allah. Dan Allah menepati janjinya untuk menjaga Musa. Bahkan Allah-lah yang memilihnya untuk menjadi ibu asinya Musa.

Begitupun Maryam. Ia melahirkan Isa seorang diri, bahkan tanpa seorang ayah. Ia bahkan siap menerima resiko tuduhan-tuduhan yang akan dilontarkan oleh penduduk desa terhadapnya demi melaksanakan firman Allah dan menjadi ibu dari seorang putra yang bernama Isa. Bahkan Allah mengabadikan namanya menjadi nama sebuah surah di dalam al-Qur’an. Keduanya merupakan sosok perempuan dan ibu yang terbaik pada masanya.

Bagikan
Exit mobile version