Site icon Inspirasi Muslimah

Menyekolahkan Anak di Boarding School? Coba Pertimbangkan Sekali Lagi

komunikasi anak

risnawati ridwan

Sekolah asrama? Tidak semua orang mau bersekolah di asrama. Anaknya ogah orang tuanya yang maksa. Anaknya mau orang tuanya melarang. Atau anaknya mau orang tuanya galau. Dan apakah anak dan orang tua telah mempersiapkan diri untuk sekolah di boarding school?.

****

Sekolah asrama di Indonesia sudah ada sejak dulu. Namun yang terkenal adalah berbentuk pesantren. Sekolah  berasrama ini selain mengajarkan pendidikan umum juga mengajarkan pendidikan agama dan karakter. Namun saat ini banyak juga sekolah berasrama yang umum artinya bukan sekolah agama.

Kebiasaan yang berlaku, orang tua mengantar anak  ke sekolah berasrama pada usia 12 tahun; dengan asumsi bahwa si anak sudah akil baligh dan sudah paham dengan peraturan di sekolah  sehingga bisa mengikuti tata tertib dari sekolahnya. Pada usia ini anak sudah selesai bersekolah di tingkat dasar sehingga telah dapat di beri tanggung jawab.

Masih adanya anggapan bahwa dengan memasukkan anak ke boarding school; merupakan salah satu cara untuk membentuk karakter anak menjadi mandiri dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan. Ibaratnya boarding school adalah bengkel diri  sehingga saat anak telah keluar dari boarding school maka si anak telah siap pakai di kehidupannya.

Banyak faktor yang membuat orang tua menginginkan anaknya bersekolah di asrama, alasan yang paling sering muncul adalah agar anaknya mandiri. Faktor lainnya adalah ambisi orang tuanya yang menginginkan anaknya untuk mampu dalam segala bidang, karena biasanya sekolah asrama menerapkan kurikulum yang lebih komplek daripada sekolah umum biasa.

Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang anaknya; keinginan anak bersekolah yang mempunyai asrama adalah ingin mempunyai teman yang banyak, jauh dari peraturan di rumah bahkan demi  keren dibandingkan bersekolah di sekolah umum biasa.

***

Menjadi masalah, keinginan orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah berasrama tidak sepadan dengan tindakan orang tua di rumah terhadap anaknya. Orang tua berharap anaknya mandiri untuk aktifitas lifeskill, namun orang tua tidak mengajarkan rukun-rukun lifeskill  itu sendiri.

Anak tetap di sediakan segala kebutuhannya tanpa mengajarkan anak berusaha untuk mencapai semua kebutuhannya tersebut. Contoh yang sangat sepele adalah merapikan barang-barang pribadi. Di rumah, orang tua selalu merapikan barang-barang pribadi si anak dengan alasan biar cepat kelar, dan saat anak di antar ke sekolah asrama orang tua berharap anak bisa melakukan semua itu sendiri? Hal tersebut sama juga seperti berharap kucing tumbuh tanduk di kepalanya.

Pada saat anak dituntut belajar mandiri di sekolah berasramanya sesuai dengan peraturan yang berlaku, orang tua tetap menganggap anaknya tidak mampu melakukan aktifitas lifeskill  dengan baik. Unsur kepercayaan orang tua sangat kecil terhadap anak sendiri.

Orang tua juga merasa tidak dapat selalu melihat perkembangan atas kemampuan anaknya. Jika sejak lahir sampai sekolah dasar, orang tua melihat setiap detik perubahan anaknya, namun jika di asrama orang tua tidak dapat melihat lagi sehingga mempengaruhi perasaan dan akhirnya menjadi galau sendiri.

Tentunya kejadian ini menjadikan orang tua selalu berkeinginan menjenguk  anaknya di asrama, bahkan sesekali membawa pulang menginap di rumah walaupun belum waktunya libur. Hal ini sangat mempengaruhi mental psikis anak d imana anak akan tergoda untuk keluar dari sekolah asrama dan tinggal di rumah kembali karena tersedianya semua fasilitas yang tidak dia dapatkan di asrama.

Hanya sedikit orang tua yang memberikan kesempatan untuk anaknya tanpa memberikan intervensi berlebihan. Namun untuk orang tua jenis tersebut, akan menjadi tipe orang tua yang menjadi bahan ghibahan orang tua lain karena berbeda kebiasaan.

***

Lain orang tua, lain pula anaknya. Karena terbiasa dilayani selama masa di rumah, maka akan kesulitan beradaptasi pada saat berada di asrama. Anak-anak ini sering disebut juga dengan anak home service yaitu generasi yang selalu minta dilayani.

Pada saat di asrama,  kebiasaan ini akan terbawa sehingga akan sering timbul konflik dengan anak lain. Jika di rumah si anak sering menyuruh orang tuanya atau orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, maka di asrama si anak juga akan menyuruh orang lain memenuhi kebutuhannya atau si anak tidak melakukan apapun dengan alasan tidak mampu.

Namun tidak semua anak merupakan jenis anak home service, sama juga tidak semua jenis orang tua yang selalu melayani anaknya. Banyak oarang tua yang mengajari anak-anaknya untuk bisa membantu diri sendiri saat berjauhan dengan orang tuanya.

Melihat ke jauh belakang, sekitar 20 sampai 30 tahun yang lalu. Sekolah berasrama itu untuk orang tua dan anak yang mempunyai keinginan yang sama. Anak ingin menuntut ilmu dan belajar mandiri, orang tua ingin melatih anaknya menjadi mandiri.

Dulu, tidak ada anggapan anak di buang ke sekolah berasrama. Jika pun anak nakal yang diantar kesekolah berasrama oleh orang tuanya, alasannya adalah belajar menuntut ilmu dan belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Anak-anak diajarkan untuk mampu melakukan lifeskill  sejak masuk pertama kali ke asrama misalnya mencuci atau bersih-bersih di tempat tinggalnya sendiri. Orang tua juga tidak melakukan kunjungan secara rutin sehingga tidak mempengaruhi mental anak dan tidak tergoda untuk  pulang ke rumah.

Orang tua pun, jika rindu yang tidak tertahan lagi, dapat mengirimkan surat kepada anaknya beserta paket makanan sehingga dapat mengobati rindu anak dan rindu orang tua sekaligus.

Atau pada masa lalu tidak banyak sekolah berasrama menyediakan fasilitas hightech  seperti masa sekarang? Sehingga anak-anak mau tidak mau harus melakukan aktifitas lifeskill  karena tuntutan dan kebutuhan.

****

Lain dulu lain sekarang. Sekarang dengan kompleksitas permasalahan yang timbul di depan mata, anak-anak yang cepat tercemar secara mental dan spritual melalu penggunaan gadget  yang rutin; menjadikan orang tua mencari bantuan asuhan bagi anak-anaknya untuk mempersiapkan kondisi anaknya.

Memasukkan anak-anak ke asrama itu oke, asalkan orang tua menempuh langkah-langkah yang harus ditempuh dan memepersiapkannya terlebih dahulu, jangan bayangkan sesimple bahwa masuk ke boarding school bisa mengatasi setiap persoalan..

Anak adalah representasi dari orang tua. Pepatah lama bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bagaimana sifat orang tua begitu lah sifat anaknya. Ungkapan itu tidak seratus persen benar.  Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sifat, sikap dan perilaku tetap terbawa secara genetis dari orang tuanya. Tapi lingkungan dapat mengubah sifat dan sikap anak. Harapan itulah yang dimiliki orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah berasrama. (RbR)

Bagikan
Exit mobile version