Site icon Inspirasi Muslimah

Menulis: Medium Dakwah, Terapi, dan Pengembangan Diri

menulis terapi

Pernahkah Rahmania merasa jenuh, gelisah, banyak pikiran, atau bingung harus berbagi cerita dengan siapa? Lalu setelah menulis di buku harian atau mengetik beberapa kalimat di ponsel, perasaan itu perlahan reda? Atau mungkin Anda justru lebih mengenal diri sendiri lewat catatan pribadi dan opini yang Anda tuangkan? Menulis bukan hanya soal popularitas atau menerbitkan buku. Menulis adalah cara berdialog dengan hati, meredakan beban pikiran, dan menyebarkan kebaikan. Ia adalah bentuk dakwah yang sunyi, terapi yang menyejukkan, serta jalan menuju pertumbuhan pribadi.

Dakwah lewat Tulisan

Menulis dalam pandangan Islam bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah yang mengandung pahala berkelanjutan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Maka ketika seseorang menulis sesuatu yang mengandung ilmu, inspirasi kebaikan, atau nasihat yang dibaca orang lain, itu bisa menjadi bagian dari amal jariyah.

Tulisan yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala selama dibaca dan diamalkan, bahkan setelah penulis wafat. Oleh sebab itu, menulis bukan hanya menyampaikan ide, tetapi juga mewariskan kebaikan.

Dalam Islam, salah satu bentuk penyampaian ajaran kebaikan adalah melalui dakwah bil khitabah atau dakwah lisan, yang dilakukan melalui ceramah, khutbah, atau pidato. Dakwah ini memiliki kekuatan langsung dalam menyentuh hati pendengar karena disampaikan dengan ekspresi, suara, dan bahasa yang hidup. Namun tidak semua orang memiliki kesempatan, keberanian, atau kemampuan retorika yang kuat untuk berdiri di hadapan publik. Karena itu, dakwah bil qalam (melalui tulisan) menjadi jalan lain yang tak kalah penting untuk menjangkau lebih banyak orang, melintasi ruang dan waktu.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an: “Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS. Al-Qalam: 1). Pena adalah simbol ilmu dan peradaban. Di masa kini, pena bisa bermetamorfosis menjadi keyboard, layar sentuh, atau bahkan suara yang ditranskripsi. Tapi esensinya tetap: menulis adalah bagian dari perintah ilahiah untuk menyampaikan kebenaran.

Tak semua orang mampu berceramah di mimbar atau tampil percaya diri di panggung dakwah. Namun banyak yang bisa menulis, walau hanya satu paragraf pendek atau sebaris puisi reflektif. Bila diniatkan untuk menyebar kebaikan dan inspirasi, tulisan itu pun bernilai dakwah.

Salah satu contoh agung adalah Buya Hamka. Ia bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga jurnalis, novelis, dan pengarang tafsir. Dalam jeruji penjara sekalipun, ia tak berhenti berdakwah—ia menulis Tafsir Al-Azhar. Ini adalah bukti bahwa dakwah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu; ia bisa mengalir lewat kata-kata. Buya Hamka adalah teladan luar biasa, seorang dai yang tidak hanya hebat di mimbar, tetapi juga tajam dan jernih dalam tulisan. Kepiawaiannya berbicara setara dengan kemampuannya menulis, menjadikannya sosok yang menyinari umat baik lewat lisan maupun pena.

Tulisan yang awalnya dibuat sebagai sarana penyembuhan pribadi, ketika dibaca orang lain dan membawa inspirasi, juga bisa menjadi dakwah. Dakwah tak harus lantang, ia bisa hadir lewat kejujuran curahan hati, refleksi di jurnal harian, atau kisah pribadi yang menggugah.

Menulis sebagai Sarana Penyembuhan

Di tengah kemajuan teknologi dan keterhubungan digital yang luar biasa, kita justru menghadapi gelombang krisis emosional, khususnya pada generasi muda.

Survei nasional Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 menemukan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia (34,9%) atau sekitar 15,5 juta orang memiliki masalah kesehatan mental. Kementerian Kesehatan RI (2023) juga menyatakan bahwa satu dari tiga remaja mengalami gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi. WHO (2023) menegaskan bahwa depresi adalah penyebab utama gangguan kesehatan pada usia 15–19 tahun secara global.

Situasi ini memerlukan pendekatan kreatif, personal, dan spiritual. Dan salah satu jalan itu adalah: menulis.

Bila seseorang tengah mengalami depresi, bisakah sembuh dengan menulis? Joanne Kathleen Rowling berpendapat sangat mungkin, dan ia telah membuktikannya. Setelah menjalani kehidupan pernikahan yang tidak membahagiakan, ia memilih berpisah dari suaminya dan membesarkan anak seorang diri. Dalam keterasingan, tanpa pekerjaan, dan kehilangan ibu, Rowling menuliskan kisah magis Harry Potter. Ternyata, menulis menjadi terapi jiwa dan sekaligus pintu kesuksesan global.

Demikian pula B.J. Habibie, Presiden RI ketiga. Saat ditinggal wafat oleh istri tercintanya, Ainun, ia mengalami kesedihan mendalam. Namun lewat tulisan memoar Habibie & Ainun, ia memproses duka itu menjadi kekuatan. Dalam wawancara, beliau menyatakan bahwa menulis membantunya menyembuhkan luka hati dan kembali kuat.

Penelitian oleh Karen Baikie, psikolog klinis dari University of New South Wales, menyatakan bahwa menulis tentang peristiwa emosional dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Partisipan yang diminta membuat tulisan tentang pengalaman traumatik selama 15–20 menit, selama beberapa hari, menunjukkan penurunan stres dan peningkatan daya tahan tubuh.

Peneliti lain, James Pennebaker dari University of Texas, juga menemukan bahwa menulis ekspresif memperkuat sel-sel kekebalan tubuh dan membantu mempercepat proses pemahaman terhadap trauma.

Asma Nadia, penulis produktif Indonesia, juga pernah sakit-sakitan saat kecil dan lebih sering di tempat tidur. Dalam keterbatasan itu, ia menulis. Kini, puluhan bukunya telah menginspirasi jutaan pembaca. Menulis diyakini Asma menjadi jalan utama untuk mengembangkan diri terlebih saat dirinya terpaksa berhenti kuliah karena kondisi kesehatan.

“Saya ini penyakitan. Dari kecil saya sakit gegar otak, ada jantung juga dan tumor,” ujarnya seperti dikutip oleh detik.com.

Menulis untuk Berkembang

Menulis juga bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas. Dengan menulis, seseorang terdorong untuk menyusun argumen, menganalisis informasi, dan mengembangkan ide-ide baru secara sistematis. Hal ini sangat penting dalam proses pembelajaran dan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Di era digital saat ini, keterampilan menulis juga menjadi aset penting dalam dunia kerja dan komunikasi profesional. Banyak perusahaan mengutamakan kemampuan menulis laporan, proposal, dan korespondensi formal sebagai indikator kompetensi pegawai.

Tidak hanya itu, menulis juga menjadi media efektif dalam menyebarkan informasi dan pengetahuan kepada khalayak luas melalui platform digital seperti blog, media sosial, maupun jurnal ilmiah.

Lebih jauh, menulis dapat menjadi alat untuk membangun identitas, mengabadikan gagasan, serta memperkuat literasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, budaya menulis perlu terus ditumbuhkan di berbagai lapisan, baik di lingkungan pendidikan, keluarga, maupun komunitas sosial.

Tere Liye, salah satu penulis paling produktif di Indonesia, dikenal tidak banyak bicara di publik, tetapi sangat produktif menulis. Novel-novelnya seperti Hujan, Bumi, dan kutipan-kutipannya di media sosial sangat banyak dibagikan karena menggugah kesadaran. Suatu hari ia pernah berujar: “Disiplin menulis satu huruf sehari tidak apa-apa. Pasti selesai juga itu novel kalau memang niat dari hati menulis novel. Menjadi penulis itu bikin nangis dan juga berdarah-darah.”

Tulisan adalah bentuk amal. Tulisan adalah suara batin. Dan tulisan adalah jejak abadi. Jika kita belum mampu bicara di banyak forum, maka menulislah. Barangkali tulisan kita lebih didengar dibanding suara lisan kita.

Imam Al-Ghazali pernah memberikan nasihat “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”

Mari jadikan menulis sebagai bagian dari ibadah kita. Sebagai jalan dakwah, sarana penyembuhan, dan alat pertumbuhan. Kita tak perlu menunggu jadi sastrawan besar. Menulis saja. Satu kalimat hari ini bisa menjadi cahaya bagi diri sendiri, dan esok menjadi cahaya bagi orang lain.

Bagikan
Exit mobile version