Dasar kadrun…naik onta aja deh lu..pigi lo ke Arab sono kalau mau pakae gamis…parah.. kaum sumbu pendek
Goblok Pekok…antek Amerika kapitalis…PKI Cina..emangnya virus yakin dari Cina ?? Bukan nya dari Arab??
Komentar seperti ungkapan-ungkapan di atas seringkali menjadi seperti momok yang menemani sarapan, makan siang dan makan malam kita di Indonesia. Apa sesungguhnya yang melatar belakangi masyarakat sehingga tega mengeluarkan ejekan, makian dan hinaan untuk kultur- kultur tertentu? Ternyata, saling mengejek antar kultur ini tidak hanya membatasi kultur dan daerah wilayah Indonesia saja. Tapi sekarang sudah meluas melibatkan kultur dari negara- negara lain.
Globalisasi memang menuntut masyarakat dunia untuk siap menerima kultur dan budaya dari luar Indonesia. Kita menyadari masyarakat kita kewalahan dengan arus globalisasi yang saat ini tengah kita hadapi bersama. Terlepas dari faktor yang menyebabkan kewalahan tersebut. Faktor tidak seimbangnya ekonomi, kecemburuan terhadap negara yang lebih maju teknologi dan industrinya. Atau ketidaksenangan munculnya sebuah kultur dari negara lain yang paling mempengaruhi sikap dan pola pikir masyarakat Indonesia.
***
Ya, banyak sekali hal-hal yang dapat memicu polemik di masyarakat kita yang pada akhirnya menyalahkan pihak-pihak yang belum tentu bersalah. Seperti menghina kultur budaya suku atau negara lain. Polemik ini semakin mekar dengan adanya media sosial. Dan kondisi negara yang menghadapi virus covid 19 yang entah kapan menemui titik akhir.
Seharusnya, walaupun mungkin sudah terlambat. Sebelum masyarakat berhadapan dengan era perdagangan bebas, persaingan dengan tenaga kerja asing, dan terbukanya wacana ideologi tertentu sebaiknya masyarakat terlebih dahulu memperoleh edukasi. Mengenai nilai-nilai multikultural dalam kehidupan berbangsa dan dalam menghadapi pergaulan global.
Nilai-nilai multikultural ini dapat melalui pembelajaran di sekolah. Pemberian contoh teladan yang baik dari para pemimpin di negeri ini dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
Suasana saling mengejek simbol-simbol kultur tertentu merupakan hal yang terburuk dan gambaran yang tidak indah dari hasil pendidikan yang ada selama ini.
***
Pembelajaran di sekolah terasa masih sedikit mengedukasi siswa. Bagaimana menyikapi persaingan dan pergaulan di tengah keberagaman kultur yang ada di Indonesia. Baik kultur yang memang muncul dari kearifan lokal di nusantara maupun kultur yang berasal dari negara lain. Edukasi nilai-nilai multikultural dapat melalui buku teks belajar, bahan ajar, media pembelajaran, serta perangkat pembelajaran lainnya yang mampu berfungsi sebagai katalisator pendidikan karakter yang bermuatan nilai-nilai multikultural.
Masih sedikit di buku teks pembelajaran siswa mengenai hal-hal yang berkaitan dengan promosi penyerapan nilai-nilai positif dari berbagai kultur yang bersifat nasional dan internasional. Kemudian, masih sedikit juga bahan ajar berupa teks bagaimana seharusnya memberikan komentar di media sosial mengenai perbedaan pendapat dan gagasan yang berkaitan dengan perbedaan kultur. Kebanyakan komentar di sosial media hanya berupa bulian ketika terdapat kejanggalan terhadap sebuah ide atau fenomena yang sedang berkembang.
Hal ini perlu mendapat tanggapan dari penulis buku teks dan penerbit untuk mempromosikan bagaimana menyikapi trans kultural yang saat ini berkembang tanpa batas. Yang mengkhawatirkan jika tidak ada edukasi yang terkait bagaimana menyikapi multikultural di kalangan siswa. Maka akan menjadi stereotip yang tidak baik bagi terhadap masyarakat kita. Stereotip yang buruk terhadap masyarakat kita tentunya akan menjadi penghalang bagi kita untuk maju dan dihargai oleh negara- negara lain.
***
Selain dari aspek edukasi di sektor pendidikan, contoh teladan para pemimpin di negeri ini dalam menghargai perbedaan kultur juga sangat penting. Misalnya pemberian stereotip negatif dari salah seorang tokoh masyarakat terhadap sebuah daerah sebagai tempat pembuangan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak becus. Hal tersebut merupakan sebuah contoh yang tidak layak dilakukan oleh seseorang yang dianggap semestinya memberikan pengayoman kepada masyarakat agar masyarakat tidak terpecah.
Pemberian keadilan terhadap seluruh masyarakat tanpa melihat latar belakang kultur juga merupakan tindakan preventif terhadap konflik perpecahan di masyarakat. Pemberian kesempatan untuk menunjukkan potensi diri dari masyarakat yang berbeda kulturnya juga akan mengurangi keinginan masyarakat untuk saling mencibir baik secara verbal maupun melalui komentar-komentar di media sosial.
Ketidakmampuan dalam mengadopsi nilai multikultural ini bisa menjadi alat bagi pihak yang hanya ingin mengambil keuntungan di tengah perbedaan- perbedaan yang muncul di masyarakat Indonesia. Masyarakat yang tidak mendapatkan edukasi bagaimana menyikapi perbedaan kultur. Dan sedikit memperoleh contoh yang baik dari para tokoh publik akan sangat mudah dimobilisasi untuk melancarkan kepentingan golongan tertentu.
***
Sedikit saja terprovokasi masyarakat ini akan sangat mudah saling membenci tanpa memahami dampak dari provokasi. Tentunya ketidakharmonisan antar masyarakat yang memiliki perbedaan budaya akan menjadi ancaman bagi disintegrasi negara. Pengalaman berpolitik pada saat pemilihan umum yang menimbulkan konflik yang bersifat nasional sampai konflik antar anggota keluarga merupakan sebuah realisasi rapuhnya penanaman nilai-nilai multikultural di antara kita.
Rasulullah Muhammad SAW seorang tokoh pluralisme sangat mencontohkan bagaimana membina kehidupan di tengah-tengah perbedaan yang ada. Melalui ajaran Islam yang memang tidak memandang perbedaan antar individu. Rasulullah mampu menunjukkan teladan bagi para pengikutnya dengan mewujudkan kehidupan yang bercahaya di Yatsrib atau Madinatul Muwwarah.
Islam, Yahudi dan Nasrani mampu hidup damai di bawah naungan Rasulullah Muhammad SAW. Beliau telah menunjukkan pola kehidupan bagaimana masyarakat yang mayoritas hidup dalam harmonisasi perbedaan dan bagaimana masyarakat minoritas hidup bersama dalam menjunjung tinggi aturan-aturan yang telah disepakati bersama.
Dosen Universitas Negeri Medan
