Site icon Inspirasi Muslimah

Mengenal Rasionalisme Kritis

akal

Pada hakikatnya, bersikap kritis haruslah clear and distinctly. Semuanya harus dipandang dengan benar secara transparan dan jelas. Juga terpilah-pilah. Dalam arti lain bahwa pemikiran-pemikiran atau ide-ide dapat dibedakan dengan ketepatan dari pemikiran atau ide yang lain.

Semua itu juga perlu kita cermati dan pelajari untuk merefleksikan setiap sikap kritis terhadap segala bentuk yang berbeda. Suatu pemikiran tidak lahir begitu saja dari ruang hampa sehingga setiap pemikiran memiliki keunikkan tersendiri; bahkan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Namun di antara berbagai perbedaan pemikiran tersebut tentunya tidak terlepas dari pengetahuan dan pengalaman seseorang yang menjaditolak ukur dalam pola pikirnya.

Di samping itu juga pemikiran yang mulai berkembang turut berkontribusi dalam menyumbangkan corak pemikiran yang berbeda. Inikarena pola pikir dan cara mereka yang berbeda-beda dalam merseponnya; baik itu menolak, menerima, atau bahkan memfilternya. Termasuk di dalamnya ialah para pemikir filosof.

Salah satu tokoh yang merespon pemikiran pada masanya yaitu Karl R. Popper. Menurut Popper manusia dapat mencapai suatu pengetahuan yang benar. Di samping itu, manusia tidak boleh puas dengan pengetahuan yang sudah didapatnya, Karena pengetahuan manusia itu tidak sempurna dan bahkan banyak kesalahan juga kekeliruan. Maka menurut Popper, manusia harus mengritisi pengetahuan yang sudah didapatkannya.

Karl R.Popper dan Rasionalisme Kritis

Popper lahir pada tanggal 28 Juli 1902 di Himmelhof, Wina, Austria. Ayahnya seorang Doktor hukum dari University Of Vienna dan ibunya seorang ahli musik. Pemikiran kritis Popper terlihat jelas ketika awalnya ia menganut komunisme, namun tidak lama kemudian dengan tegas ia meninggalkan aliran politik ini. Karena Popper yakin bahwa para penganutnya akan terpengaruh dengan suatu dogmatisme yang tidak kritis.

Tahun 1919, bagi Popper merupakan tahun yang sangat penting dalam menggali pemikiran kritisnya, Tepat pada tahun tersebut juga terdapat teori newton yang banyak diagungkan oleh sebagian besar orang. Seiring dengan munculnya sebuah teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang dicetuskan oleh Albert Einsten.

Menurut einsten dalam ceramahnya di Wina mengatakan bahwa suatu teori tidak akan bisa dipertahankan jika gagal dalam suatu tes tertentu. Tentunya bagi kaum Marxis, ungkapan tersebut sangat bertolak belakang dari pemikiran mereka yang selalu mencari justifikasi terhadap teori-teori kesayangan mereka. Namun di sisi lain, dari ungkapan itu juga menimbulkan kesan yang cukup berpengaruh nantinya bagi pemikiran kritis dari Popper.

Sejak bertemunya kerelevanan antara pemikiran Popper dengan Einsten, Popper dapat menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap yang kritis yang tidak mencari pembenaran, melainkan pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya (Murtiningsih, 2012: 203).

Antara Rasionalisme dan Empirisme

Popper menjembatani konflik antara rasionalisme dan empirisme dengan gagasannya yang ia sebut sebagai rasionalisme-kritis. Ia menggunakan kata rasionalisme untuk menunjukkan secara garis besar; sebagai suatu sikap yang berusaha untuk memecahkan sebanyak mungkin problem dengan bersandar pada akal; yaitu pemikiran jernih dan pengalaman yang lebih dari pada bersandar kepada perasaan dan nafsu semata.

Terlebih, Popper mengajukan paham yang rasionalisme kritis untuk mengkritik rasionalisme yang tidak kritis. Karena rasionalisme yang tidak kritis itu tidak konsisten sebab tidak adanya dukungan berupa penalaran dan pengalaman.

Lebih lanjut, bahwa menurut Popper, walaupun sebesar apapun fakta yang ditemukan; secara logis tidak dapat kita serta-merta menyimpulkan bahwa itu suatu kebenaran yang sudah mutlak. Seperti contoh, dianalogikan dengan angsa yang berwarna putih.

Popper memberikan contoh kasus antara angsa berwarna putih dengan angsa yang berawarna hitam. Orang eropa selama ratusan tahun bahkan hingga ribuan tahun percaya bahwa semua angsa adalah putih karena memang di tempat tersebut hanya ditemukan angsa berwarna putih.

Seketka keyakinan tersebut runtuh ketika para pelancong Eropa menemukan angsa yang berawarna hitam di Sungai Victoria berlokasi di negara Australia pada pertengahan abad ke-17. Dengan penemuan tersebut keyakinan orang eropa terbukti salah. Oleh karena itu, menurut Popper, teori pengetahuan selalu bersifat hipotesis dan wajar jika dikritisi atau bahkan disalahkan.

Sebenarnya rasionalisme kritis yang diperkenalkan oleh Popper itu cukup sederhana atau dalam istilah lainnya yaitu modest; lebih bersifat terbuka terhadap penalaran kritis, sikap menerima dan belajar dari berbagai kesalahan sehingga melahirkan pengetahuan yang benar. Berpikir kritis terhadap sendiri dan sekaligus mengenal batasan-batasan tertentu.

Melalui falsifikasinya, akhirnya Popper dapat menarik suatu kesimpulan bahwa dalam memperlihatkan teori-teori pada fakta yang dapat menunjukan suatu ketidakbenarannya, adalah sebuah cara yang tepat untuk mengujinya; dan merupakan satu-satunya cara yang memungkinkan ilmu pengetahuan agar bisa semakin berkembang secara terus-menerus. Dengan adanya kemungkinan untuk menguji teori, berarti teori itu sangat terbuka untuk dapat kita kritik.

Bagikan
Exit mobile version