Aroma kota ini semakin tak asing
Pijakan kakiku semakin tak kokoh
Genggaman tanganmu semakin melemah
Angin semakin dasyat menerpa sunyi
Terjebak dalam kehancuran pikiran yang tak lagi seirama
Bersama mata yang tak lagi mampu membendung segala amarah
Hanya mampu menatap tanpa sanggup menjawab
Bibir yang menjadi penghianat karena tak lagi seirama dengan hati
Ku katakan tidak apa, padahal hati sudah tak lagi baik-baik saja
Senandung tawa coba mengurai belas kasih
Coba mencari pegangan walau tau kita amat rapuh
Berbohong dengan hati memang tak berdosa
Demi kebaikan, katanya..
Air yang biru, sekarang keru, coba menyamarkan apa yang ada di dalamnya
Semakin jauh, semakin lama, tak ada yang berubah, semua masih tetap sama
Pernah coba menepikan indahnya senja di sore hari
Memalingkan pandangan pada sosok yang baru telihat
Begitu yakin, dengan janji yang diucap tanpa bukti
Padahal, taka da janji sehebat matahari terbit di sebelah timur
Tak ada perpisahan seindah matahari tenggelam di sebelah barat
Tidak ada penghianatan yang tergambar saat bulan tak mampu menggantikan hebatnya sinar matahari
Bulan tak akan pernah menuntut bintang saat ia tak mampu mendampingi bulan setiap hari
Kita sama-sama paham, tapi kesadaran kita hilang
Bertanya, padahal tau jawabannya, manusia hanya bisa berencana.
Mahasiswi Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang
