Site icon Inspirasi Muslimah

Kenapa Sekolah Belum Dibuka Pak?

isolasi mandiri

Mall, pasar, tempat wisata sudah dibuka, tapi koq sekolah belum dibuka pak? Pertanyaan itu terlontar dari anak saya kelas 12 SMA. Dengan nada protes sambil bertanya kenapa semua sudah dibuka tapi sekolah kok tetap belajar dari rumah.

Galau Sekolah Belum Dibuka

Saya pikir, mungkin dia bosan, mengalami kesulitan dengan kondisi saat ini, kangen dengan temannya atau lainnya. “Pak semua tempat sudah dibuka Pemerintah, seperti, mall, pasar, tempat wisata tapi kami koq belum boleh sekolah?” Pertanyaan itu terus diulang-ulang karena tentunya dia belum memperoleh jawaban yang pasti.

Tapi saya mengajaknya berpikir, saya tanya sama dia, kalau mall dibuka memangnya kamu dan teman-temanmu wajib ke sana? Begitu juga pasar dan tempat wisata?. Anak saya menjawabnya, “ya enggaklah, aku enggak wajib ke sana aku juga takut karena masih banyak virus dil uaran sana,”.

Diskusi yang Berlanjut

Perbincangan pun berlanjut, “Oke, kalau sekolah dibuka, kamu dan teman wajib ke sekolah enggak?” tanya saya. “Ya wajib kan sekolah harus berinteraksi dengan guru, dengan teman, lalu kerja kelompok, main bareng,” ucap anak saya tegas. Namun, saya susul dengan pertanyaan, “Nah kalau ada orang tanpa gejala (OTG) di Sekolah gimana? Padahal wajib ke sekolah”.

Anak saya mulai goyah dengan pertanyaan awalnya. “Sekarang Bit (nama anak saya Tsabita) kalau di mall, atau tempat wisata ada kerumunan, banyak orang kamu bisa menghindar enggak?” ujar saya padanya. “Pindah ke tempat lain? Ya bisa pak.  Mall kan luas, kalau ke pantai juga luas jadi bisa menyendiri di tempat yang enggak banyak orang.” anak saya menimpali.

Diskusi masih terjadi, saya bilang pada Bita, “Sekarang kalau di sekolah bisa enggak kamu dan teman-teman memilih tempat yang kamu senang tok?”. “Ya enggak bisa pak. Harus di dalam kelas. Kacau no pembelajarannya kalau siswanya di mana-mana,” jawab Bita tegas.

Saya pun menjelaskan, bahwa menjadi sangat beresiko apabila jika di sekolah ada OTG. Saya juga menjelaskan padanya terlalu beresiko jika ada kerumunan orang dalam ruangan yang kecil dan waktu yang lama. Sehingga, pembelajaran sepatutnya tetap dilakukan tanpa membayakan orang lain. Saya memberitahunya bahwa keselamatan generasi tak kalah pentingnya dengan sekolah.

Nikmatilah Pembelajaranmu di Rumah

Saya juga menyampaikan, agar dirinya sebisa mungkin menikmati pembelajaran dan sekolahnya di rumah. Jika bosan sesekali boleh untuk nonton drama, masak mungkin, olahraga, ibadah, atau sekedar tiduran glundang-glundung. Mencoba menerima dan menikmati hal-hal yang dulu sering dirindukan, ya sekarang ini kesempatannya. Kemungkinan paling lama akan menikmati masa-masa seperti ini selama enam bulan.

Tapi ternyata anak saya masih belum puas, dia mengungkapkan pikirannya, seperti ini kata-kata dia “Tapi kata orang di media sosial, generasi Indonesia itu akan jadi lemah dan akan hilang satu generasi karena pembelajaran di sekolah terhenti.”

Saya justru menjawabnya dengan santai, “Lebay ah kamu bit! Mosok gara-gara belajar dari rumah jadi bodoh semua anak Indonesia? Enggaklah bit”.

Apa Sekolah di Rumah Itu Buruk?

Sebenarnya logikanya mudah saja, selama ini sudah ada beberapa anak muda Indonesia yang menjalani proses homescooling. Pertemuan dengan gurunya mungkin seminggu sekali, sisanya ada pertemuan via daring juga. Tetapi apakah mereka jadi bodoh? Tentu tidak. Justru, anak-anak homeschooling biasanya lebih inisiatif untuk belajar hal-hal baru karena pendidikan dan pengetahuannya tergantung dengan upaya mandirinya untuk mencari tahu.

Jika dilihat positifnya saat ini seharusnya, ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang ingin dia perdalam. Orang tua juga akan lebih memahami pola belajar anak karena berinteraksi lebih lama dirumah daripada saat anak disekolah.

Anak bisa menemukan cara belajarnya, misal sambil denger musik di kamar, sambil duduk di taman, sambil hafalan keras-keras atau lainnya. Sehingga jika dilihat dari nilai positifnya justru ini adalah hal yang membantu anak menemukan cara terbaik belajar versi dirinya sendiri.

Di sisi lain, anak-anak masa sekarang memang harus ramah dengan media digital. Jangan sampai ketinggalan dengan anak muda di negara lainnya. Mau tidak mau anak akan berusaha mengeksplorasi dunia digital dan terkadang justru bisa membantu orang tua juga untuk memahami media digital.

Jadi Sukses  Bisa Dari Belajar di Mana Saja

Setelah dijelaskan panjang lebar, akhirnya anak saya, si Bita, manggut-manggut sembari memahami kata-kata yang saya sampaikan tadi.

“Oke deh pak, mumpung belum ke sekolah, Bita tak jualan brownies coklat sama pudding oreo dessert box ya? Sopo ngerti aku jadi pengusaha to?” kata dia sambil menatap saya tersenyum.

“Woalah Bit..bit.. Aamiin” doa saya.

Sukses itu bisa dimulai dari pembelajaran. Pembelajaran dapat dilakukan di mana saja. Jadi yang menentukan kesuksesan adalah bukan di mana tempat dia belajar. Melainkan seberapa usaha yang dilakukan untuk menjadi sukses. (s)

Bagikan
Exit mobile version