Kau itu sufi dan begitu lekat olehmu
Ilahi Sedang aku hanya pecandu kopi yang tenggelan pesonamu yang duniawi
Kau itu sufi, munajatmu begitu khidmat di dini hari
Sedang aku hanya penyair ritmis yang mabuk oleh madu diksiku sendiri
Kau itu sufi yang berdzikir di setiap detakan nadi
Sedang aku hanya pendosa, aku seringkali lupa bahwa senyummu yang hangat adalah bagian dari nikmat
Kau itu sufi yang yang oleh kupenuh sanjung puji
Maka katakan, mukjizat mana yang belum aku insafi?
Sore Di Yogya
Kau tahu apa yang lebih istimewa dari canda sepasang kekasih sore ini?
Garis senyummu, Kekasih.
Dari jauh senyummu terlihat lebih ranum dari buah khuldi.
Jika Adam terbuagg ke Bumi, lantas ke mana aku kau suruh pergi?
Saling Menggapai
Aku menjelma darat dengan engkau sebagai laut;
kedalaman yang selalu menggodaku untuk menyelamimu.
Aku menjelma pasir pantai dengan engkau sebagai ombak;
yang senang hati mengulum bibir pantai.
Segalanya berulang kali, hari demi hari, hingga senja membunuh mentari, membawanya dalam gelap seperti yang kau kelakari.
Lambat laun aku sadari, waktu memahami.
Kita hanya saling menggapai tanpa satupun mimpi yang tercapai.
Manusia Paripurna
Kau boleh jadi aktivis yang paripurna dalam berideologi
Kau boleh jadi intelektualis yang fasih dan matematis
Kau bahkan bisa menjadi keduanya
Namun saat cinta bekerja, beringas logikamu berakhir naas
Nalar kritismu lumpuh
Apalagi retorika?
Ia raib seketika
Dasar budak cinta!
Tak apa, itu pertanda kau masih manusia
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
