Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, yang terlintas di benak saya adalah bagaimana menjalani kehidupan di tempat yang begitu jauh dari hiruk-pikuk kota. Jalanan sulit, fasilitas kesehatan sulit, serta akses terhadap berbagai kebutuhan yang tidak semudah di daerah lain.
Pada awalnya, saya sering membandingkan kehidupan di Papua dengan kehidupan di kampung halaman. Di sana, hampir semua kebutuhan dapat saya peroleh dengan mudah. Sedangkan di sini, hampir semua barang harus datang dari luar daerah dengan biaya yang sangat mahal. Dengan begitu saya mulai belajar membedakan antara keinginan dan sesuatu yang benar-benar saya butuhkan. Kemudian saya menyadari satu hal bahwa, keterbatasan di sini justru mengajarkan saya agar hidup dengan kesederhanaan.
Kehidupan di Pegunungan Bintang juga membuat saya semakin dekat dengan alam. Kabut yang turun setiap pagi, udara yang sejuk setiap hari, dan pegunungan yang mengelilingi pemukiman menghadirkan pemandangan yang tidak pernah saya temui di tempat lain.
Manusia Bukanlah Penguasa
Alam disini seolah mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa, melainkan bagian kecil dari kehidupan yang lebih besar. Ada hari-hari ketika hujan dan kabut membuat aktivitas di luar harus ditunda sementara, dan saat itulah saya belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan.
Saya juga mulai memahami bahwa kenyamanan tidak selalu lahir dari kemewahan. Rumah kos yang sederhana tetap bisa menjadi tempat saya pulang dengan hangat. Keterbatasan ruang, barang, dan fasilitas tidak mengurangi nilai sebuah rumah sebagai tempat untuk beristirahat, berbagi cerita, dan membangun kehidupan yang nyaman.
Belajar Mensyukuri Nikmat
Tinggal di Pegunungan Bintang mengubah cara pandang saya terhadap hidup. Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir melalui kemudahan, tetapi sering kali tumbuh dari kemampuan untuk beradaptasi. Saya belajar menghargai setiap makanan yang tersedia, setiap barang yang saya miliki, air yang dimanfaatkan dengan semestinya, dan setiap perjalanan yang dapat dilalui dengan selamat karena di sini merupakan zona merah atau bisa disebut tempat yang berbahaya.
Zona Merah
Zona merah di Pegunungan Bintang merupakan tempat di mana setiap pemukiman padat terdapat pos pengamanan TNI. Pengamanan ini tujuannya untuk menjaga masyarakat Pribumi maupun pendatang dari serangan OPM. Namun, OPM tidak selalu muncul dan tempat yang saya huni sejauh ini masih aman dari serangan OPM.
Selain serangan OPM yang seringkali memberikan rasa takut pada saya secara pribadi ataupun masayarakat pada umumnya, terdapat satu ketakutan saya yaitu bila terjadi kebakaran. Kebakaran sering terjadi di sini disebabkan satu dan lain hal: pertama, terkadang dibakar oleh orang yang mabuk. Kedua, terjadi korsleting listrik. Dan ketiga, aki yang seringkali digunakan masyarakat di sini sebagai sumber listrik pada siang hari menjadi panas dan akhirnya menimbulkan ledakan kemudian terjadilah kebakaran.
Meskipun terdapat kekurangan dalam aspek infrastruktur, keamanan, dan lain-lain, Pegunungan Bintang telah memberikan warna baru dalam diri saya, cara melihat banyak fenomena yang tidak pernah saya temukan di tempat-tempat sebelumnya terkhusus di kampung halaman saya.
Pada akhirnya, Pegunungan Bintang bukan hanya menjadi tempat saya tinggal sementara. Tetapi tempat ini menjadi ruang belajar, merenung, bertumbuh, dan belajar lebih dewasa. Saya datang dengan membawa banyak kecemasan, tetapi justru ketika benar-benar di sini dan menjalaninya malah memberi cara pandang baru terhadap diri saya. Bahwa kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang memiliki banyak hal, melainkan kehidupan yang mampu menemukan makna syukur di tengah segala keterbatasan yang ada.
Nama saya Alfurqonati, biasa dipanggil Alfi. Berasal dari Lampung dan kini menetap di Papua Pegunungan. Saat ini saya berprofesi sebagai ibu rumah cinta (ibu rumah tangga). Di waktu luang, saya senang menanam berbagai tanaman karena itu menjadi salah satu cara saya menikmati kehidupan sehari-hari.
