Hati Suhita adalah salah satu judul film yang diambil dari sebuah novel dengan judul yang sama. Novel karya Ning Khilma Anis ini menjadi novel best seller dan filmnya pun menjadi salah satu film favorit dan paling banyak ditonton tahun ini. Tema yang diangkat dalam novel ini adalah tentang perjodohan yang terjadi di antara dua keluarga pesantren. Perjodohan antara Gus Birru dan Ning Alina Suhita adalah inti dari kisah tersebut. Perjodohan yang sudah menjadi tradisi pesantren ini masih dilestarikan sampai saat ini. Penyatuan dua keluarga dengan perjodohan tidak hanya terjadi di kalangan keluarga pesantren, namun juga banyak terjadi di kehidupan masyarakat saat ini.
Sejak munculnya film Hati Suhita ini, perjodohan yang telah menjadi tradisi sejak zaman dulu sampai sekarang ini menjadi perbincangan yang cukup hangat akhir- akhir ini. Apakah seorang anak harus menerima sebuah perjodohan atau tidak? Oleh karena banyak orang yang berpendapat bahwa zaman sekarang ini anak muda bebas menentukan pilihannya, termasuk memilih pasangan hidup. Tidak sedikit orang pula yang berpendapat bahwa perjodohan adalah pilihan terbaik bagi orang yang akan menikah karena beberapa alasan kuat yang membuat mereka tetap berpegang pada tradisi ini.
Penolakan tentang adanya perjodohan ini pun tak sedikit terjadi saat ini. Termasuk yang diceritakan dalam novel bahwa Gus Birru sangat tidak suka dengan perjodohan ini. Meskipun akhirnya dia menerima dengan alasan baktinya kepada kedua orang tuanya. Dalam hal perjodohan, banyak pendapat yang menolak apalagi di era globalisasi yang sudah maju perkembangan teknologinya. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Iin Windayati (2017), yaitu ”dewasa ini adalah zamannya emansipasi, bukan zamannya Siti Nurbaya. Jodoh memang di tangan Tuhan, hanya saja kita harus berusaha untuk mendapatkannya. Jodoh yang terbaik itu adalah jodoh yang datang dengan sendirinya.”
Selain itu, banyak pendapat pula yang menyebutkan bahwa perjodohan adalah hal yang kuno dan tidak sesuai dengan zaman sekarang. Hal ini dikemukakan oleh Sri Pujiati (2021), yaitu “bagi sebagian orang perjodohan mungkin terdengar kuno. Apalagi jika dilakukan di zaman sekarang seperti ini. Hal ini karena perjodohan dinilai tidak sesuai dengan kebebasan kita untuk memilih sendiri jodoh yang kita inginkan.” Dengan perkembangan teknologi yang maju dan media sosial yang semakin luas tidak seperti zaman dulu lagi juga mengubah pola pikir anak muda saat ini bahwa mereka juga bebas memilih pasangan hidup mereka sendiri. Mereka ingin memilih pasangan yang sesuai keinginan mereka dan tidak berpacu pada keinginan orang tua mereka.
Banyak pendapat yang menolak adanya perjodohan, termasuk di kalangan anak muda saat ini. Zaman sekarang anak muda lebih suka memilih pasangan hidupnya sendiri daripada dipilihkan orang tua. Sehingga banyak anak muda yang menjalin asmara sebelum menikah. Karena bagi mereka kehidupan pernikahan itu mereka sendiri yang menjalani bukan orang tua mereka, sehingga mereka tidak ingin dijodohkan. Selain itu, mereka juga tidak ingin dikekang oleh tradisi perjodohan yang mungkin telah turun temurun terjadi di keluarganya, karena mereka ingin memilih sendiri pasangan hidup mereka.
Dalam novel ini, Gus Birru juga menolak perjodohan karena alasan yang sama yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu dia ingin memilih sendiri pasangan hidupnya bukan dipilihkan orang tuanya. Namun, karena gadis pilihannya tidak sesuai yang diinginkan orang tuanya maka dengan terpaksa dia menerima perjodohan tersebut. Rumah tangga dari perjodohan Gus Birru dan Ning Alina ini tak berjalan harmonis dan bahagia. Hal ini disebabkan penolakan Gus Birru pada tradisi ini dan dia masih mencintai gadis pilihannya, sehingga dia tidak semata-mata menerima perjodohan ini begitu saja.
Meskipun banyak penolakan tentang tradisi perjodohan ini, masih banyak pula orang yang berpendapat bahwa perjodohan adalah pilihan terbaik. Mereka sama sekali tak menganggap bahwa perjodohan adalah tradisi kuno. Mereka juga lebih percaya pada pilihan orang tua mereka daripada pilihan mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka tidak menolak perjodohan walaupun tetap harus dipikirkan matang-matang antara menolak atau menerimanya. Meskipun dijodohkan atau tidak, memilih pasangan hidup tetap harus dipikirkan matang-matang karena ini menyangkut masa depan kita.
Dari kisah novel ini, Ning Alina menerima perjodohan ini karena perwatakannya yang taat kepada orang tuanya dan kerendahan hatinya sehingga dengan yakin dia menerima perjodohan ini. Selain itu, dalam sebuah pernikahan juga memerlukan restu orang tua dari kedua belah pihak. Menurut Anayonae (2015), “Beberapa pasangan terkadang sulit menerima restu dari orang tua karena alasan tertentu. Namun jika Anda dijodohkan, kedua keluarga pasti akan sama-sama mendukung dan tidak ada yang keberatan.”
Beberapa orang yang memilih dijodohkan biasanya mereka memiliki prinsip tidak ingin berpacaran atau sering berganti pasangan. Mereka juga tidak ingin menjalin hubungan yang putus-nyambung sebelum pernikahan. Oleh karena itu, dijodohkan adalah pilihan mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Fimela (2015), yaitu “kalau sudah lelah dengan hubungan yang putus nyambung dan tak pernah berhasil, seseorang akan mencoba alternatif untuk minta dijodohkan saja. Saat usia sudah matang dan hidup sudah lebih mapan, maka yang kita inginkan hanyalah seseorang yang tepat. Dengan dijodohkan, Anda bisa meninggikan harapan untuk bisa memiliki hubungan yang lebih serius dengannya.”
Perjodohan dalam novel Hati Suhita ini tentunya memiliki banyak komentar positif maupun negatif. Salah satu komentar positifnya adalah pembelajaran bagi anak muda saat ini bahwa hubungan asmara seperti berpacaran tidak selalu membawa mereka ke jenjang yang lebih serius. Mungkin banyak penolakan dari perjodohan ini. Namun dapat kita lihat bersama buah dari perjodohan antara Gus Birru dan Ning Alina ini. Meskipun di awal mereka terlihat tidak harmonis, namun cinta tumbuh karena terbiasa. Penolakan Gus Birru di awal pernikahan akhirnya membuatnya bertekuk lutut di hadapan Ning Alina hanya untuk memintanya kembali pulang dan menjalin kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Dikutip dari buku Membangun Gerakan Moral di Sekolah, Hafis Muaddab (2011: 40), ditegaskan bahwa “witing tresno jalaran soko kulino adalah pepatah Jawa yang memiliki makna bahwa rasa suka atau minat seseorang akan muncul dengan sendirinya karena pembiasaan.” Buku ini juga menjelaskan bahwa manifestasi falsafah pepatah witing tresni jalaran soko kulino sudah lahir dan teruji selama ratusan juta tahun yang lalu.
Pendapat- pendapat yang mendukung adanya perjodohan biasanya telah memercayai tradisi tersebut karena mereka telah melihat bukti nyata hubungan pasangan yang dijodohkan lebih harmonis daripada yang berpacaran. Selain itu, perjodohan juga telah menjadi budaya pesantren, bukan hanya para pemimpinnya tapi juga santri-santrinya. Mayoritas orang yang mengabdi di pesantren lebih suka dijodohkan oleh kyai mereka karena mereka percaya bahwa pilihan tersebut tidak meleset. Selain itu, rasa ta’dzim dan adab sendiko dawuh yang telah melekat pada hati mereka membuat mereka dengan senang hati menerima perjodohan, sama halnya dengan Ning Alina. Tentu berat baginya menjalani perjodohan seperti ini. Namun, sikap mikul duwur mendem jero yang tertanam dalam dirinya tak pernah menggoyahkan rasa ta’dzimnya kepada mertuanya dan pengabdiannya kepada pesantren mertuanya.
Selain komentar positif juga ada komentar negatif tentang novel Suhita ini. Salah satu komentar negatifnya adalah bahwa perjodohan biasanya dilakukan hanya untuk menjaga trah atau keturunan sebuah keluarga. Misalnya, dalam novel ini Gus Birru yang merupakan putra seorang Kiai juga harus menikah dengan putri seorang Kiai untuk meneruskan trah kepesantrenan. Sehingga dalam hal ini Gus Birru harus melepas gadis yang dia cintai karena dia bukan dari kalangan keluarga pesantren. Sebuah pernikahan yang harmonis tidak bisa diukur dari proses penyatuan keduanya. Dijodohkan atau tidak bukan menjadi tolak ukur keharmonisan sebuah keluarga. Namun, bagaimana pasangan tersebut menyikapi kehidupan baru mereka, sama-sama berpikir dewasa, dan saling memahami bisa menjadi kunci kebahagiaan keluarga mereka.
Berbagai tanggapan positif dan negatif tentang perjodohan juga tidak serta-merta menjadi acuan bagi kita bagaimana kita seharusnya memilih pasangan. Semua tergantung pada pola pikir dan kepercayaan kita. Di era globalisasi ini seharusnya kita bisa berpikir lebih kritis lagi dalam menanggapi sebuah permasalahan termasuk tradisi perjodohan ini. Pilihan kita menentukan masa depan kita, jadi harus dipikirkan matang-matang. Apa pun yang kita pilih nantinya, dijodohkan atau tidak sudah menjadi hak kita untuk menentukan. Dengan jalan yang kita pilih, kita juga harus siap dengan konsekuensinya. Ketika ada keretakan segera perbaiki bukan malah semakin menghancurkan. Bersikap dewasa dalam menentukan dan ikhlas dalam menerima adalah pedoman agar nantinya hal tersebut tidak menjadi beban bagi kita.
Instagram : ululaz_kayraa.
